Advokasi

Yang paling mendasar dari tiga misi JRS adalah menjawab akar persoalan dari pengungsian manusia. JRS berupaya mendorong perubahan kebijakan yang tidak adil pada tingkat yang paling tepat: tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Pertama dan terutama, JRS melakukan advokasi secara langsung di lapangan. Ketika para pengungsi, dengan siapa staf JRS bekerja, tidak mendapatkan pelayanan, JRS hadir sampai pada tingkat yang paling dibutuhkan. Misalnya, ketika banyak pengungsi Merapi tidak mendapatkan bantuan material karena mereka memilih untuk tidak tinggal di tenda pengungsian, melainkan mencari tempat tinggal sementara di antara penduduk lokal, JRS memobilisasi relawan untuk berkoordinasi dengan pengungsi dan pemerintah setempat guna memberikan bantuan yang paling dibutuhkan. Apabila memungkinkan, JRS juga bekerjasama dengan organisasi lain untuk mengangkat isu tentang pengungsi.

Advokasi yang dilakukan oleh JRS ditentukan oleh beberapa ciri utama.

  • Berakar dari keterlibatan langsung di lapangan
  • Dilandasi oleh nilai-nilai Jesuit dan
  • Berpusat pada hubungan langsung dengan para pengungsi
  • Berbasis riset.

JRS Indonesia bekerjasama dengan universitas setempat untuk mengembangkan prakarsa-prakarsa riset dan menyediakan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar tentang pengungsian dan pengungsi melalui proses magang dan menjadi sukarelawan.

JRS berupaya memperkuat sinergi antara program di lapangan, penelitian dan kerja-kerja advokasi. Untuk menemukan solusi yang berdaya tahan, yang menjawab akar persoalan pengungsian, dibutuhkan pengembangan struktur yang efektif dan jaringan advokasi yang efisien yang dilandasi oleh analisis penelitian.

Tujuan-tujuan utama advokasi ditetapkan baik pada level program langsung, level nasional, maupun level regional. Apa yang menjadi masalah-masalah utama juga dibawa oleh JRS sampai pada level internasional. Termasuk di dalamnya adalah masalah pendidikan, keamanan pangan, dan rekonsiliasi. JRS juga sering bekerjasama dengan NGO lain, terutama dalam kampanye anti tentara anak-anak, ranjau darat, dan penahanan. Kantor Nasional dan kantor Regional JRS mempunyai peran penting dalam menyediakan informasi langsung dari lapangan yang dapat digunakan dalam kerja-kerja bersama dengan media dan dalam advokasi bersama pemerintah-pemerintah nasional dan organisasi-organisasi internasional, seperti badan-badan PBB.

JRS telah melakukan kampanye anti ranjau darat sejak tahun 1990 dan anti bom curah sejak tahun 2008. JRS merupakan anggota dari Kampanye Internasional Pelarangan Ranjau Darat. Pada tahun 1997 kampanye ini mendapatkan Penghargaan Nobel Perdamaian dan Tun Channareth bersama dengan kerja-kerja advokasi JRS yang lain untuk melarang penggunaan ranjau darat yang mendapatkan penghargaan.

JRS telah menjalankan peran utama dalam kampanye dan menyumbangkan penelitian tentang Indonesia untuk Ranjau Darat dan Pengawasan Bom Curah.