Anti Ranjau Darat

Kampanye Internasional Anti Ranjau Darat

JRS telah menjadi anggota penting dalam Kampanye Internasional Anti Ranjau Darat (ICBL) sejak tahun 1994.

Indonesia tidak dianggap sebagai Negara yang terkena dampak ranjau darat maupun munisi curah. Namun hingga bulan November 2008, Indonesia menyimpan ranjau darat dan masih menyimpan munisi curah. Indonesia mulai mengambil peran kepemimpinan di Asia Pasifik, wilayah yang jumlah korban tewas akibat ranjau darat dan munisi curah terhitung paling tinggi serta wilayah terkontaminasi yang paling luas. Indonesia akhirnya meratifikasi Perjanjian PBB tahun 1997 mengenai Pelarangan Ranjau Darat pada tanggal 1 Agustus 2007, sembilan tahun setelah penandatanganan perjanjian tersebut, Indonesia menjadi negara ke 153 yang meratifikasinya. Tentara Nasional Indonesia sudah memusnahkan 16.581 ranjau darat sampai tahun 2012 lalu sebagai tindak lanjut ratifikasi konvensi tersebut. Republik Indonesia menandatangani Konvensi Munisi Curah di Oslo pada tanggal 3 Desember 2008 namun belum meratifikasinya. Hal ini sangat penting karena sebagai negara terpadat keempat di dunia dapat mempengaruhi gerakan untuk mendorong dunia yang bebas ranjau dan diharapkan melakukan hal yang sama untuk pelarangan munisi curah.

Kampanye Anti Ranjau Darat (ICBL) menyerukan:

  1. Penandatanganan, ratifikasi, pelaksanaan, dan pengawasan atas perjanjian anti ranjau.
  2. Peningkatan sumber daya untuk program penyadaran pemusnahan dan ranjau.
  3. Peningkatan sumber daya untuk rehabilitasi dan bantuan korban ranjau darat.

Untuk informasi selanjutnya: www.icbl.org dan www.antiranjaudarat.or.id

Cluster Munition Coalition (CMC) merupakan koalisi internasional dari sekitar 350 organisasi di 90 negara yang bekerja untuk perlucutan senjata, perdamaian dan keamanan, hak asasi manusia, bantuan bagi korban/korban selamat, pembersihan, hak-hak perempuan, isu tentang kepercayaan dan isu-isu lain yang berhubungan. Para anggota bekerja sama untuk mengubah kebijakan dan pelaksanaan pemerintah mengenai munisi curah – khususnya melalui anjuran ketaatan dan kepatuhan penuh pada Konvensi Munisi Curah – seperti meningkatkan kesadaran publik terhadap masalah dan perjanjian pelarangan melalui kampanye masyarakat sipil dan media.

Visi CMC

berakhirnya penderitaan dan kematian akibat munisi curah.

Misi CMC

Koalisi Munisi Curah adalah kampanye masyarakat sipil internasional yang bekerja untuk menghapuskan munisi curah, mencegah kematian akibat senjata ini dan mengakhiri penderitaan yang dihasilkan senjata ini. Koalisi bekerja melalui anggotanya untuk mengubah kebijakan dan pelaksanaan pemerintah dan organisasi dengan meningkatkan kesadaran akan adanya masalah tersebut di masyarakat.

www.stopclustermunitions.org dan www.antiranjaudarat.or.id

Anti Ranjau Darat dan Cluster Munition Monitor (CMC)

JRS Indonesia sedang mengadakan penelitian untuk Landmine and Cluster Munition Monitor. Publikasi ini merupakan inisiatif penyediaan penelitian untuk Kampanye Internasional Anti Ranjau Darat (ICBL) dan Cluster Munition Coalition (CMC). Merupakan badan pengawas de facto untuk Perjanjian Anti Ranjau dan Convention on Cluster Munitions. Landmine and Cluster Munition Monitormenerbitkan beberapa publikasi penelitian termasuk Laporan tahunan situasi Ranjau Darat dan Laporan situasi Cluster Munitions, laporan profil negara secara online, serta kumpulan fakta, dan peta. Laporan Landmine and Cluster Munition Monitor serta isu-isu sebelumnya dapat diunduh atau dipesan dari www.the-monitor.org

A student looking at the photos of cluster bomb survivals exhibited at Gadjah Mada University

Ratifikasi Konvensi Bom Curah: Upaya Mengubah Perilaku Negara

Untuk meyakinkan masyarakat dan pemerintah Indonesia bahwa ratifikasi konvensi tersebut penting dan perlu, sosialisasi tentang dampak penggunaan bom curah perlu terus dilakukan. Sosialisasi dampak bom curah yang diderita oleh masyarakat sipil membantu masyarakat untuk menyelami pengalaman derita dan kehilangan yang dialami oleh para korban dan penyintas bom curah, serta menumbuhkan empati terhadap mereka. Empati ini pada gilirannya akan mendorong proses ratifikasi Konvensi Bom Curah secara lebih efektif. Semoga impian Berihu Mesele yang tidak mau lagi menyaksikan korban bom curah berikutnya, semakin menjadi kenyataan. Lanjutkan baca

The activists of CMC

Sepuluh Tahun Cluster Munition Coalition (CMC)

Selama dekade terakhir para pegiat CMC yang berasal dari 100 negara lebih telah bekerja bersama tanpa kenal lelah untuk mengembangkan advokasi nasional yang sangat berhasil dan mengkampanyekan strategi-strategi untuk memobilisasi pemerintah di seluruh dunia untuk bergabung dalam pelarangan dan mendorong kemajuan dalam pelaksanaan.

Penggunaan bom curah Suriah menegaskan mendesaknya dan pentingnya pekerjaan yang masih harus dilakukan untuk mencegah kerusakan yang tidak dapat diterima yang disebabkan oleh senjata-senjata yang mengerikan ini. Lanjutkan baca

Flash Mop-Smart Mop at Nol km, Yogyakarta

Anti Ranjau Darat dan Perdamaian

Dalam peringatan Hari Kesadaran akan Ranjau Internasional dan Dukungan bagi Aksi Penanganan Ranjau yang diselenggarakan pada tanggal 4 April 2013, 40 orang mahasiswa menunjukkan aksi “meminjamkan kaki” mereka setelah mengikuti seminar tentang “Pelarangan Ranjau Darat, Membangun Perdamaian”.  Dalam seminar tersebut … Lanjutkan baca

Andy Rachmianto as keynote speaker

Sebuah Kemenangan Kemanusiaan: 1 Agustus, Pemberlakuan Konvensi Munisi Curah

Tanggal 1 Agustus menjadi hari pelarangan senjata ini, pada hari tersebut hukum internasional yang melarang pembuatan, penggunaan, pemindahan, penyimpanan bom curah mulai diberlakukan. Penyusunan kebijakan pun dimulai untuk membersihkan daerah yang terkontaminasi serta membantu para korban akibat insiden munisi curah. Lanjutkan baca

thumbnail-workshop-bandlandmine

Workshop Konvensi Munisi CURAH

Aktif bertahun-tahun dalam kampanye pemusnahan ranjau darat dan bom curah (cluster bomb), perwakilan JRS dari Thailand, Kamboja dan Indonesia mengadakan pertemuan di Jakarta pada tanggal 22-23 Maret untuk merencanakan dukungan lebih lanjut mengenai universalisasi serta pelaksanaan dua pakta perlucutan senjata yang telah berhasil dengan baik ini. “Jesuit Refugee Service (JRS) menyambut gembira ketika Pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi Anti Penggunaan Ranjau Darat serta pemusnahannya pada tahun 2008. Pada tahun yang sama Indonesia juga menandatangani Konvensi Anti Penggunaan Munisi Curah,” kenang Romo Adrianus Suyadi SJ, Direktur JRS Indonesia. Lanjutkan baca

Soraj Ghulam Habib: one of Ban Advocates member who lost
both of his legs and one finger in a cluster munition explosion in
2001 in Herat, Afghanistan

Korban Selamat yang Menjadi Penggiat Kampanye

Lebih dari tiga dekade setelah perang usai di Vietnam, sisa-sisa bahan peledak, termasuk cluster bomb yang tidak meledak masih menjadi ancaman yang mematikan bagi kehidupan dan penghidupan orang-orang di Vietnam, Laos, dan Kamboja. Lebih dari 100.000 orang telah terbunuh atau terluka karena bahan peledak sisa perang.

”Saya memimpikan dunia yang damai di mana cluster munitions dilarang oleh semua negara selamanya demi anak-anak kita untuk mendapatkan lingkungan yang aman untuk belajar dan sejahtera. Oleh karena itu, saya meminta lebih banyak negara untuk ikut serta dalam usaha global ini dengan menandatangani, meratifikasi dan memasukkan konvensi ke dalam praktek dan segera melaksanakannya.” Thi adalah satu dari 35 peserta kampanye yang menghadiri konferensi dan mengambil kesempatan tidak hanya untuk menceritakan kisahnya sebagai korban yang selamat tapi juga meminta pemerintah untuk mencegah insiden di masa datang dengan melarang cluster munition dan dengan ikut serta dalam Konvensi Cluster Munitions. Lanjutkan baca