Detensi

Sebagai bagian dari penemanan kami kepada orang-orang yang dilayani, JRS Indonesia memberikan pelayanan langsung kepada para pencari suaka dan pengungsi di rumah detensi imigrasi.

Kurang lebih 1.000 orang Pencari Suaka dan Pengungsi yang ditahan selama berbulan-bulan di Rumah Detensi Imigrasi mengalami stress dan depresi selama penantian panjang tanpa kepastian, terkurung, dan tanpa kontak dengan orang-orang yang dicintai. Pada masa lalu pernah terjadi depresi berat dan tindakan melukai diri sendiri.

Penemanan JRS bagi pencari suaka dan pengungsi di Rumah Detensi Imigrasi meliputi upaya menjadi teman bagi mereka dengan cara mendengarkan keprihatinan, kebutuhan dan harapan mereka.

JRS membantu memudahkan komunikasi antara para deteni dan staf imigrasi untuk mencegah meningkatnya ketegangan di antara mereka. Dengan hadir secara langsung JRS tidak hanya mendengarkan para deteni melainkan juga mendengarkan staf imigrasi serta membantu menjelaskan dan mengkomunikasikan keprihatinan kedua belah pihak kepada satu sama lain. Komunikasi JRS dipandu oleh seruan untuk berbelarasa, memajukan nilai-nilai kemanusiaan dan didasarkan pada hak-hak orang-orang yang terpaksa mengungsi.

Rudenim Medan, di Belawan Sumatera Utara, sejak September 2009

Tim JRS Indonesia secara rutin mengunjungi para deteni untuk memberikan layanan psikososial dan kegiatan olah raga baik di dalam maupun di luar area Rudenim untuk meningkatkan kesehatan jasmani maupun rohani mereka. Meskipun daya tampung Rudenim saat ini sudah melebihi kapasitas, tingkat depresi dan stress sudah mengalami penurunan dan sekarang tak ada lagi kasus deteni yang mengalami depresi parah atau melukai diri sendiri. Program JRS memungkinkan para deteni menikmati lebih banyak waktu di luar sel, untuk mengikuti kegiatan Yoga atau senam Aerobik, dan bahkan keluar dari Rudenim untuk melakukan beberapa kegiatan seperti Sepak Bola dan berenang.

Rudenim Surabaya, di Bangil-Pasuruan, Jawa Timur, sejak Oktober 2011

Tim JRS Indonesia secara rutin mengunjungi para Pencari Suaka dan Pengungsi yang ditahan, mendengarkan keprihatinan mereka, dan memfasilitasi pertemuan dengan petugas Rudenim. JRS juga merencanakan untuk menyelenggarakan pelatihan pengembangan diri bagi para petugas Rudenim.

Grace, Information Advocacy Officer for JRS Manado

Pengalaman dan Pembelajaran bersama JRS

Selama bergabung di JRS, saya diperkaya dengan pengalaman dan pembelajaran. Berjumpa dengan pengungsi dan pencari suaka menunjukkan pada saya bagaimana sebuah harapan harus tetap diperjuangkan, meskipun dalam situasi sulit. Lanjutkan baca

P_20160420_152642

Perjalanan Seorang Penyintas dari Irak

Saya lahir di Baghdad, Irak, negara yang amat indah, tempat asal para nabi. Negara saya porak-poranda sejak 2003. Rasanya seperti di neraka. Orang-orang terpecah dalam berbagai kelompok agama dan etnis, berkelahi satu sama lain, bahkan membunuh hanya demi kesenangan duniawi. Lanjutkan baca

Segar sehari di taman safari

Segar Sehari di Taman Safari

Pada 17 November 2015, hidup terasa kembali normal selama beberapa jam bagi 10 orang pencari suaka dan pengungsi yang menghuni Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Surabaya. Sehari di Taman Safari Prigen, menikmati alam terbuka, mengamati satwa, berinteraksi dengan banyak orang, dan makan di restoran adalah bentuk kemewahan bagi mereka. Lanjutkan baca

Dionisius Waskita, inspired by the perseverance of the refugees and asylum seekers whom he assisted.

Empati Dion

Dion adalah salah seorang staf JRS Indonesia yang mendampingi pencari suaka dan pengungsi di Rumah Detensi Imigrasi Manado. Atas kerjasama antara Romo Rheinner Saneba Pr, dan Radio Montini Manado, Dion menuturkan refleksi dan pengalamannya di JRS. Lanjutkan baca

berenang-1-edit-web

Sebuah Kesempatan Melihat Dunia

“Saya sangat senang dengan kegiatan ini. Saya bisa melihat dunia luar dan mengurangi rasa bosan tinggal berbulan-bulan di Rumah Detensi Imigrasi,” kata deteni asal Somalia yang telah mendapat status Pengungsi. Lanjutkan baca

Vegetable garden in an Immigration Detention Center

Benih Harapan di Tengah Keputusasaan

Pengalaman berkebun ini menunjukkan bahwa ketika diberi ruang, kesempatan dan kepercayaan, para deteni akan mampu menunjukkan kreativitas, keterampilan, dan keahlian yang memberikan manfaat baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang-orang lain yang berada di sekitarnya. Mampu membentuk dan mengubah lingkungan menjadi lebih indah dan berguna merupakan kerinduan setiap manusia. Mampu meninggalkan warisan kepada orang-orang yang bahkan berada di tempat yang sangat sepi seperti di Rumah Detensi adalah sesuatu yang menguatkan. Mengamati tanaman dan bunga yang bertumbuh adalah alternatif kegiatan yang layak daripada hanya menghitung hari-hari yang tak pernah berakhir sambil mengharapkan masa depan yang lebih bermartabat dan lebih aman. Hasil dari usaha para deteni ini juga mendapatkan tanggapan positif dari petugas Rumah Detensi. Lanjutkan baca

Refugee strengthening computer skills through JRS education project.

Berperan di Tengah Masyarakat adalah Bagian dari Hidup yang Bermartabat

Rangkuman Ajaran Sosial Gereja mengenai partisipasi mengingatkan kita: ”Semua orang memiliki hak untuk berperan di dalam kehidupan ekonomi, politik dan kebudayaan masyarakat. Ini merupakan tuntutan keadilan yang mendasar dan merupakan prasyarat bagi martabat manusia bahwa semua orang memiliki jaminan keterlibatan minimal di dalam masyarakat. Adalah sebuah kesalahan apabila seseorang atau sekelompok orang secara tidak adil disingkirkan atau tidak dapat terlibat di tengah masyarakat.” Lanjutkan baca

JRS staff listening to the story of Refugee

Berjumpa untuk Saling Belajar Tiada Henti

Di JRS, kita diundang untuk menemani para Pengungsi dengan cara membuka diri kita sendiri dan berbagi hidup dengan mereka. Namun, berbagi itu bisa jadi tidaklah mudah. Untuk menghadapi kesulitan-kesulitan berat yang dialami oleh para Pengungsi dan Pencari Suaka, Taka Gani menggambarkan tantangan yang ia alami, termasuk kebijaksanaan yang ia peroleh, dari proses menemani seorang pemuda di Rumah Detensi Imigrasi. Lanjutkan baca

7

Yang Terpenting adalah Keamanan dan Kedamaian

Kematian. Hanya kata itu yang terlintas dalam pikiran Dinesh ketika kapal kayu yang ditumpanginya menuju Australia mati mesin di tengah ganasnya ombak Samudra Hindia. Berhari-hari ia tak makan dan hanya minum dari air hujan. Puluhan orang lainnya juga lemas dan kelaparan. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak, semua dalam bahaya dan menghadapi maut di tengah laut. Lanjutkan baca

Children learning English in detention

Saya Mengungsi Sejak Berumur Lima Tahun

Sekarang Musa telah resmi berstatus sebagai Pengungsi yang terdaftar di UNHCR dan mengajukan suaka ke Australia. Menjadi pengungsi sejak berumur 5 tahun, menghadapi ancaman pembunuhan, mengarungi bahaya dan ancaman kematian di tengah lautan, berpindah dari satu negara ke negara lain, tertangkap dan dipenjara, adalah kenyataan hidup yang berat namun tak mematahkan harapannya Lanjutkan baca

Seorang anak yang ditampung di Rudenim

Penjara Imigrasi Bukan Untuk Anak

Anak-anak yang mengalami trauma karena pengungsian membutuhkan perhatian khusus agar pertumbuhan jiwanya menjadi lebih sehat. Mengeluarkan anak-anak dari Rumah Detensi merupakan langkah awal yang harus dilakukan sesegera mungkin. Memasukkan anak-anak yang mengalami trauma ke dalam Rumah Detensi tidak boleh dilakukan lagi, baik terhadap anaknya Aminah maupun terhadap anak-anak lain di dunia manapun. Indonesia harus menjadi contoh pertama yang menghentikan pendetensian anak, sekarang juga Lanjutkan baca

Deteni dengan gembira berbagi meskipun dari balik jeruji

Pelajaran dari Pencari Suaka di Rumah Detensi

Jika para para pencari suaka itu, yang datang dari jauh dan tidak mengenal kita sebelumnya mau memberikan hati dan cinta mereka, maka sudah selayaknya pula jika kita mengenal dan peduli terhadap mereka Lanjutkan baca

Refugee locked up behind bars in a detention centre

God is Calling Us through These People

“Saya meninggalkan anak-anak di Afghanistan. Saya merindukan mereka setiap hari. Saya melakukan semua ini demi keluarga saya karena saya mencintai mereka”, kata salah seorang pencari suaka yang dikejar-kejar oleh tentara Afghanistan dan tidak ingin membahayakan keluarganya.

Dalam derita dan harapan pencari suaka dan pengungsi, Allah mengusik hati kita dan memanggil kita untuk berjumpa dengan-Nya, sebagaimana ungkapan iman Pedro Arrupe SJ: ”God is calling us through these people”. Lanjutkan baca

A Detainee expressing his content through painting on the wall of his cell

Ketika Sekat Menghilang

Di beberapa Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim), nasib para Pencari Suaka dan Pengungsi seringkali tak jauh berbeda dengan pelaku tindak kriminal, yakni dikurung di balik jeruji besi dan tak memiliki kebebasan untuk melakukan aktivitas. Situasi itu dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa kepastian kapan akan berakhir. Padahal mereka bukan pelaku tindak kriminal. Mereka adalah pembawa hati yang mendamba perdamaian, cinta, persahabatan, dan martabat hidup. Di tengah keseharian yang sedemikian itu, pengalaman kecil dan sederhana yang menghadirkan damai, cinta, persahabatan, dan martabat, akan menjadi pengalaman yang sangat berharga. Lanjutkan baca

A Child in Detention Center

Hentikan Pendetensian Anak

“Kami terpaksa lari dari rumah secara sembunyi-sembunyi. Untuk sementara istri saya masih tinggal di Srilanka. Kami takut, mereka akan menculik dan membunuh kami. Terutama saya takut kalau mereka akan menculik anak saya dari sekolah. Maka saya lari bersama anak saya,” … Lanjutkan baca

Sr. Anna & Sr. Happy visiting detenees twice a week

Hari-hari Kami Terasa Berbeda Karena Kehadiranmu

Hidup kami terasa berbeda karena kehadiranmu. Saya mempunyai tiga orang anak perempuan, coba bayangkan! Saya hanya memiliki satu anak laki-laki. Terima kasih Kak!   Terima kasih atas kunjunganmu. Lain waktu silakan berkunjung lagi. Doakanlah kami. Meskipun kamu tak membawa apa-apa, … Lanjutkan baca

Parish Members learned about Refugee via Film

Semoga Benih Itu Bertumbuh

“Para pencari suaka yang ditahan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) di Bangil punya kehendak dan cita-cita yang kuat untuk menuju Tanah Terjanji, untuk mengalami kemerdekaan dan membangun hidup yang baru. Untuk merekalah JRS ada di Pasuruan. Kami mengunjungi mereka, menemani … Lanjutkan baca

09072012114306

Tetap Berharap Meskipun dalam Gelap

Saat ini, lebih dari satu juta empat ratus pengungsi yang berasal dari etnis Rohingya, salah satu kelompok minoritas etnis dan religious Myanmar, telah tersebar di berbagai negara seperti Bangladesh, Malaysia, Sri Lanka, Timur Tengah, dan Indonesia. Mereka terpaksa meninggalkan negara asal mereka, Myanmar, karena perkembangan situasi politik yang semakin diskriminatif dan tidak manusiawi. Lanjutkan baca

Kedalaman dan keindahan di mata sang pecinta

Mutiara Hidup

Selama setahun belakangan ini, saya dan teman saya mengunjungi para pencari suaka dan pengungsi yang berada di salah satu dari 13 rumah detensi imigrasi di Indonesia, berbagi suka dan duka bersama mereka, dan seringkali kami hanya dapat memberikan hati kami untuk mendengarkan segala keluh kesah mereka. Suatu hari ketika mendengarkan lagu yang dibawakan oleh Beatles, terasa sekali seolah-olah lagu itu mewakili perasaan dan suasana batin mereka. Pada kesempatan ini, saya ingin membagikan sebagian dari pikiran dan pengalaman mereka kepada Anda dengan harapan semoga pengalaman mereka dapat memberikan inspirasi yang menumbuhkan perhatian kepada mereka yang terlupakan di balik jeruji besi. Lanjutkan baca

20111121_sby_idc-surabaya_bermain-bersama

Membangun Rumah Detensi Imigrasi

“Immigration Detention Center” dalam bahasa Indonesia disebut Rumah Detensi Imigrasi. Rumah Detensi Imigrasi adalah unit pelaksana teknis yang menjalankan Fungsi Keimigrasian sebagai tempat penampungan sementara bagi Orang Asing yang melanggar Undang-Undang Imigrasi yang telah direvisi pada tahun 2011. Bab III Undang-Undang ini menyatakan soal di mana Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) bisa dibangun, kondisi yang menyebabkan seseorang ditempatkan dalam rumah detensi dan jangka waktu penahanan. Dinyatakan juga juga di dalamnya bahwa memberikan pelayanan keimigrasian, penegakan hukum, keamanan negara dan
memfasilitasi kesejahteraan masyarakat, adalah tugas Pemerintah. Lanjutkan baca

thumbnail-aerobic

Menjadi Lebih Ceria Melalui Senam Aerobik

Senam aerobik adalah senam yang dilakukan dengan menggunakan musik. Senam aerobik memiliki irama-irama tertentu dan hampir mirip dengan menari. Bedanya, gerakan senam aerobik lebih kepada tujuan kesehatan dan bukan pada tujuan keindahan, seperti pada kegiatan menari. Tujuan kegiatan senam aerobik yaitu untuk kebugaran, kesehatan, pembentukan tubuh, dan meningkatkan denyut jantung serta paru-paru. Selain itu, senam aerobik yang dilakukan secara teratur bisa membuat seseorang menjadi lebih awet muda. Senam aerobik bisa dilakukan oleh siapa saja, baik pria maupun wanita. Gerakan senam aerobik bisa dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu pemanasan, inti, dan pendinginan. Lanjutkan baca