Tanggap Darurat

JRS juga bekerja di antara para pengungsi korban bencana alam terutama dalam fase tanggap darurat. Jrs bekerja untuk mereka terutama yang paling tidak mendapatkan perhatian dan mengutamakan situasi di mana terdapat kebutuhan paling besar.

thumbnail-still-homeless

14.000 Orang Masih Harus Mengungsi

“Saya bopong Ananda naik sepeda motor untuk lari evakuasi. Truk tanki air yang datang untuk evakuasi langsung menarik saya dan cucu saya,” tutur Murtini, nenek Ananda. Ia melarikan diri setelah mendengar keras suara letusan gunung Merapi. Kala itu sekitar jam 1 dini hari (5 November 2010), suasana sangat gelap oleh abu vulkanik, awan dan lahar panas. ”Untung waktu itu dibarengi dengan hujan. Jika tidak pasti akan banyak lagi korban yang berjatuhan karena abu dan pasirnya sangat panas”, tutur suami Murtini menimpali. Lanjutkan baca

Seorang perempuan di Bungbangsari ikut serta membangun kembali rumahnya

Indahnya Solidaritas

Apresiasi positif warga terhadap program JRS secara teknis memperlancar proses pembangunan rumah. Meski pembangunan 25 rumah yang secara geografis terpencar relatif jauh dan sulit dijangkau kendaraan roda empat, namun pembangunan dapat diselesaikan dalam waktu 75 hari. Lanjutkan baca

thumbnail-sharing-kebencanaan-perempuan

Kurangnya Ruang Berbagi tentang Kebencanaan bagi Perempuan

Pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana (PRB), bagi Ibu Rafnaini (38) sebenarnya sesuatu yang baru yang ingin disampaikan kepada kelompok perempuan di gampongnya (desa). Namun forum untuk itu tidak ada karena kegiatan PKK di Gampong Panjupian tempat dia tinggal bisa dikatakan mandeg. Sebagai bendahara PKK yang telah mengikuti pelatihan perencanaan gampong berperspektif pengurangan risiko bencana yang diadakan JRS pada Desember 2009 lalu, dia tidak tahu harus menyampaikan pengetahuan tersebut melalui forum apa. Lanjutkan baca