Pengungsi Urban

Sebagian besar pengungsi di seluruh dunia saat ini tinggal di wilayah urban. Pengungsi urban menghadapi banyak rintangan dari masalah xenophobia sampai dengan masalah penahanan. JRS bekerja untuk menjamin agar pengungsi urban yang paling rentan tidak dilupakan.

Melayani Pencari Suaka Urban, di Cisarua, Jawa Barat, sejak Desember 2009

Lebih dari 5.000 pencari suaka datang ke Indonesia untuk meminta perlindungan internasional dari kantor UNHCR. Selama menunggu hasil pengajuan suaka dalam waktu berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun, mereka kehabisan biaya dan sangat membutuhkan bantuan. JRS Indonesia membantu mencukupi kebutuhan hidup dasar, kesehatan, dan pendidikan non-formal bagi beberapa pencari suaka yang paling rentan dan tinggal di tengah masyarakat.

Komunitas Penungsi, di Sewon-Bantul, Yogyakarta, sejak September 2011

Saat ini lebih dari 1.000 pengungsi di Indonesia menunggu penempatan mereka ke negara ketiga, karena Indonesia tidak memberikan solusi berdaya tahan bagi pengungsian mereka. Kebosanan, stress, dan ketidaksabaran sering dialami oleh para pengungsi yang masih menunggu dalam ketidakpastian. Tim JRS menyelenggarakan kursus bahasa Inggris dan kegiatan sosial budaya bagi para Pengungsi yang sedang menunggu penempatan tersebut.

20150904-IMGP4672

Accompaniment – Menyentuh yang Tak Tersentuh

Setelah beberapa hari mengunjungi kamp dan memperhatikan rutinitas kegiatan pengungsi, mata saya tertuju pada sesosok remaja belasan tahun yang duduk sendiri di dalam tenda, sementara teman-temannya telah sibuk beraktivitas. Terdorong oleh rasa penasaran akhirnya saya menghampiri remaja tersebut. “Nama saya Mohammad Hasan,” begitu dia memperkenalkan diri. Lanjutkan baca

12873565_10206082250558416_2003614120_o

Pengalaman Singkat bersama JRS

Saya Gifttra, mahasiswa IT dari President University. Saat ini saya sedang menyusun skripsi dan juga dalam masa pembelajaran bersama komunitas Magis Jakarta, komunitas yang membantu saya untuk lebih mengenal Tuhan. Komunitas ini menawarkan cara yang berbeda dalam mencari Tuhan. Salah satu metodenya adalah dengan program live in, tinggal dan belajar bersama komunitas marjinal. Saya, Risha, Doni, dan Ririn ditempatkan di Jesuit Refugee Service (JRS) di daerah Cisarua, Bogor. Lanjutkan baca

Kelas di Cisarua

Pendidikan Untuk Masa Depan: Sebuah Harapan Pencari Suaka dan Pengungsi di Cisarua

Bagi pencari suaka dan pengungsi, meninggalkan negara asalnya berarti juga meninggalkan segala kesempatan untuk belajar dan berkembang melalui pendidikan. Bagi pencari suaka dan pengungsi, pendidikan dirasa sangat penting. Selain sebagai hak fundamental, pendidikan menjadi salah satu sumber pengharapan mereka untuk terus belajar meskipun dalam ketidakpastian agar dapat meningkatkan kualitas hidup. Lanjutkan baca

20150509_erlyn

Aksi Tulus untuk Solidaritas

“Lho, memangnya ada pengungsi di Manado?” ucap Erlyn Kindangen dengan logat Sulawesi Utaranya yang kental. “Begitulah kira-kira reaksi spontan saya ketika pertama kali mendengar dari JRS soal karya mereka di Manado,” katanya sambil kemudian tertawa renyah Lanjutkan baca

rohingya children at aceh camp

Rindu Syaitara pada Ibunya

Gadis kecil hitam manis bertubuh kurus bernama Syaitara (10) sudah begitu lama menahan rindu, sejak terpisah dari ibunya, Khonsuma dan kedua adiknya, Imam Husen dan Nurul Amin. Lanjutkan baca

keyhan zoom

Perjalanan untuk Menemukan Harapan

Namaku Keyhan. Aku adalah seorang pengungsi Hazara dari Afganishtan yang sekarang tinggal di Australia. Sebelum sampai di sini, aku berada di Indonesia selama 3 tahun dan sempat tinggal di beberapa tempat yang tak akan pernah kulupakan. Izinkan aku menceritakan kisah hidupku, perjalananku dalam menemukan harapan. Lanjutkan baca

camp pengungsi bayeung

Merayakan Hidup yang Tangguh

Hari Pengungsi Sedunia tahun ini
mengarahkan perhatian pada Saudara-Saudari
kita yang sedang mengalami kehidupan
yang luar biasa (ordinary people living in
extraordinary circumstances), yakni para
pencari suaka, pengungsi di dalam negeri, dan
pengungsi lintas batas negara. Lanjutkan baca

A documentation from the Interpreter Training on the definition of interpreting

Tak Lagi Disalahpahami

Sesama pengungsi seringkali menawarkan diri sebagai penerjemah sukarela dalam berbagi situasi, entah di rumah detensi imigrasi maupun di tengah komunitas pencari suaka. Berkat bantuan mereka, pencari suaka dan pengungsi menjadi lebih mudah didengarkan dan dipahami. Lanjutkan baca

The situation at English class for refugees and asylum seekers, JRS Learning Centre. The class is taught by Laila, a volunteer teacher who is also an urban refugee in West Java.

Memilih Untuk Menjadi Berdaya

Perempuan dan anak-anak termasuk dalam kelompok rentan pada berbagai isu konflik dan kepengungsian. Seringkali, mereka menjadi korban yang paling tidak berdaya untuk menghadapi dampak peperangan atau perpindahan secara paksa, akibat hilangnya akses sosial, politik, pendidikan, budaya, maupun ekonomi dalam kehidupan mereka. Lanjutkan baca

Sarah is volunteering for 3 months as teaching assistant with JRS Indonesia

Suatu Hari dalam Kehidupan Seorang Sukarelawan JRS

Kami bercerita, kadang-kadang tentang negara asli mereka, kali lain tentang negara asli saya, Inggris. Kadang-kadang kami bercanda, tetapi kali lain saya terdiam ketika orang-orang yang sudah menjadi seperti saudara saya sendiri, bercerita tentang kisah hidupnya dan membuat kesulitan-kesulitan kecil yang saya hadapi menjadi tak ada artinya. Lanjutkan baca

JRS staff listening to Asylum Seekers telling their life story

Saat Penemanan Berbuah Persaudaraan

Perjumpaan dengan Bahrul Fuadi merupakan pengalaman persahabatan yang berharga bagi saya. Hadir sebagai sesama manusia dan menemani Pengungsi di Indonesia telah mengajari saya tentang arti persaudaraan melalui penemanan.
Lanjutkan baca

Gading and Asylum Seekers participating in a Living Values Education Workshop

“Body Not Work”

Hidup di Indonesia, bukanlah hal yang mudah bagi Harun. Karena rasa takut yang selalu menghantui hidupnya, ia sulit percaya kepada orang lain. Harun harus bersabar untuk tinggal di Indonesia dan menanti keputusan UNHCR. “Saya tidak punya uang untuk bertahan lama, my life is very problem,” ungkapnya berkali-kali.
Lanjutkan baca

bermain-bola-web

Pengungsi, Dari Manakah Mereka Datang dan Mengapa Mereka Berada di Sini?

Dari 33 Pencari Suaka yang berlayar ke Australia itu, dialah satu-satunya yang ditemukan selamat. Dia harus menjadi saksi atas kematian teman-temannya di tengah laut satu demi satu, tanpa isakan tangis keluarga dan taburan bunga pelayat, kecuali deburan ombak dan aroma asin laut. Pengalaman itu kini seakan menguatkan dirinya untuk teguh melanjutkan cita-cita, memulai kehidupan baru dan membuktikan bahwa kesempatan kedua yang ia peroleh dalam hidupnya tidak akan sia-sia. Lanjutkan baca

A visitor looking at photos of Greg Constantine at Jogja Gallery

Foto untuk Mengundang Keterlibatan

“Fotografi dan Pameran hanyalah merupakan jalan untuk dapat mendiskusikan persoalan orang Rohingya secara lebih detail dan luas karena persoalannya menyangkut hak asasi manusia, identitas, hukum internasional, pengungsian dan sebagainya. Apabila pameran ini dapat membawa perubahan bagi situasi Rohingya, ini merupakan hal yang luar biasa. Kisah tentang pelanggaran hak asasi manusia terjadi di mana-mana sehingga pameran fotografi menjadi salah satu cara untuk mengangkat situasi yang sangat memprihatinkan itu. Akibatnya, pameran ini bukanlah soal fotografi melainkan soal keterlibatan,” kata Greg Constantine.
Lanjutkan baca

Asylum seekers listening during one of JRS's Information Sessions

Harapan yang Tersisa

“Proses RSD UNHCR adalah satu-satunya harapan kami yang tersisa. Karena itu kami sangat berterima kasih JRS bersedia hadir di sini,” kata Fatimah. Kehilangan keluarga, tempat tinggal, dan harta memberikan tekanan batin yang besar bagi keluarga Mustafa. “Saya tidak menyangka perjalanan kami akan seperti ini. Tapi kami berusaha sabar. Paling tidak kami bertiga masih diizinkan untuk bisa bersama-sama.”
Lanjutkan baca

anak-pengungsi-3-edit-web

Pengungsi Anak-anak Memiliki Hak atas Perlindungan

Anak-anak yang terpaksa mengungsi, memiliki hak untuk mendapatkan pertolongan dan perlindungan agar mereka tetap memiliki masa depan, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 22 Konvensi tentang Hak-hak Anak yang disepakati oleh PBB pada tanggal 20 November 1989.
Lanjutkan baca

Unaccompanied child seeking asylum in Indonesia

Pencari Suaka Anak di Indonesia Menghadapi Kerentanan

Hamid adalah satu dari antara ratusan anak tanpa pendamping yang mencari suaka di Indonesia. Mereka menjadi rentan karena sewaktu-waktu dapat ditangkap dan ditahan di Rumah Detensi Imigrasi. Seperti Hamid, mereka bisa telantar dan hidup di jalanan tanpa ada lembaga negara yang bertanggung jawab atas perwalian bagi mereka. Selain itu, tidak ada yang dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Seringkali, mereka juga harus kehilangan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa pendidikan dan harapan bagi masa depan. Lanjutkan baca

The right to play and learn is not a given for Asylum Seeker children

Kami Mengungsi dari Satu Negeri ke Negeri Lain

Ali, bocah lelaki yang lahir dalam pengungsian itu, tak pernah dapat mengenyam pendidikan dan kebebasan sebagaimana umumnya anak sebayanya. Perang, konflik, kekerasan, dan kerusuhan memaksa anak ini untuk ikut mengungsi dari satu negeri ke negeri lain bersama keluarganya. Hidupnya masih berada dalam ketidakpastian selama waktu yang tidak dapat ditentukan. Lanjutkan baca

refugee-day-foto

Para Pengungsi adalah bagian dari Dunia Kita

“Perubahan sikap pribadi terhadap kaum migran dan pengungsi sungguh diperlukan, yakni perubahan dari sikap defensif dan takut, dari ketidakpedulian dan marjinalisasi – yang merupakan segala tipikal budaya membuang atau menyingkirkan – menuju sikap yang didasari oleh budaya perjumpaan, sebagai satu-satunya budaya yang mampu membangun dunia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih bersahabat” Lanjutkan baca

Pope Francis met with refugees in Centro Astalli, Italy

Dan Perjumpaan pun Bergema

Pada Hari Pengungsi Sedunia 20 Juni 2014 ini, titik perubahan sikap ini kita tujukan dalam rasa hormat kepada keluarga-keluarga pencari suaka dan pengungsi yang tercerai-berai akibat perang dan konflik, serta terlantar di tempat-tempat yang sebenarnya tidak jauh dari kita. Perhatian dan dukungan konkret bagi mereka kini sungguh diperlukan sehingga makin banyak pribadi dan lembaga yang memperhatikan kebutuhan mereka akan makanan, tempat tinggal, dan bantuan medis. Lanjutkan baca

Visitor looking at the photo of a man blind in one eye after being beaten in the head during forced labor

Exiled to Nowhere – Burma’s Rohingya: Kesaksian dari Pameran Foto Sepuluh Hari

“Orang-orang Rohingya yang tinggal di Myanmar tak memiliki hak. Bahkan seekor burung pun memiliki hak. Seekor burung dapat membuat sarang, berkembang biak, memberi makan untuk anak-anaknya, dan membesarkan mereka sampai mereka bisa terbang. Kami tak memiliki hak-hak dasar seperti itu,” kata Monir, orang Rohingya. Lanjutkan baca

20120524_psr_rudenim-surabaya_arif-mengajar-bahasa-indonesi~1-web

Di Mana Ada Perdamaian, Di Situlah Saya Ingin Hidup

Saat ini, Mebratu Selam tinggal sementara di Indonesia dan telah mendapatkan status “Refugee” dari UNHCR. Duapuluh enam tahun silam, ia lahir di sebuah kota kecil di Ethiopia dalam sebuah keluarga dari etnis minoritas. Setelah lulus SMA ia sempat belajar di sebuah Akademi Teknik namun tak menyelesaikannya. Beruntung sekali, setelah mengikuti pelatihan di bidang teknik konstruksi dengan hasil yang baik, ia direkrut oleh sebuah perusahaan dan bekerja sebagai petugas konstruksi. Namun sayang, hidupnya yang selalu menghadapi ancaman dan tidak aman, memaksanya untuk meninggalkan kampung halaman demi mencari keselamatan. Lanjutkan baca

An Asylum Seeker Women living in a community

Satu Perempuan Saja, Sudah Terlalu Banyak!

Qamariah yang lahir dalam keluarga atau suku yang teraniaya, masih harus mengarungi dunia, menanggung penderitaan, ancaman dan ketidakpastian hingga menemukan orang dan sebuah negara yang mau menerimanya apa adanya, sebagai manusia, yang memberikan hak-hak yang telah lama dirindukannya – Hak untuk Bebas dari Penganiayaan Fisik, hak atas Pendidikan, Kewarganegaraan, untuk Membangun Keluarga dan hak untuk Bekerja. Itulah hak yang kita terima secara gratis setiap hari. Lanjutkan baca

Peter Devantara, SJ

Melayani Pengungsi adalah Kesempatan Istimewa

Pelayanan bagi para pengungsi merupakan tugas yang luhur dan membahagiakan, meskipun sulit dan berat. Luhur karena JRS menghormati dan mempromosikan martabat manusia dengan tindakan memperlakukan manusia-manusia konkret dalam masyarakat secara manusiawi. Membahagiakan karena ada orang-orang yang bersyukur atas relasi JRS dengan mereka. Sulit karena maksud baik untuk kemanusiaan sering dihadang oleh kepentingan-diri yang sempit. Berat karena bila berhadapan dengan penderitaan orang lain, orang yang memiliki kepekaan dapat merasa cemas, sedih, tertekan, dan letih. Lanjutkan baca

Staf JRS mengucapkan selamat kepada Pengungsi saat peringatan Nauruz

Dalam Naungan Sayap-sayap Tuhan

Adalah Otang Sukarna, lelaki 50 tahun, warga sebuah desa di perbukitan Cipayung, Jawa Barat, yang dengan ketulusan hatinya, menghadirkan ayat Mazmur ini dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah orang desa yang menjadi sahabat bagi para Pengungsi dan Pencari Suaka. Melalui cara-cara yang sederhana dan nyata, ia memotivasi warga desa, ibu-ibu serta anak-anak, untuk bersikap ramah dan bersahabat kepada Pengungsi dan Pencari Suaka yang tinggal di sana. Persahabatan yang tulus dan sikap saling membantu sebagai saudara, adalah keramahtamahan yang nyata, sekaligus wujud perlindungan yang memberi rasa aman bagi mereka. Lanjutkan baca

A Refugee learning computer at Sewon

Pengalaman yang Mengubah Hidup

Akses terhadap komputer dan mengetahui bagaimana menggunakannya merupakan kebutuhan dasar bagi dunia kerja dan pendidikan. Ini juga berlaku bagi para Pengungsi di Indonesia yang menunggu penempatan ke negara ketiga. Namun, kelas komputer yang diselenggarakan oleh JRS bukan hanya berdampak bagi kehidupan para pengungsi. Lanjutkan baca

An Asylum Seeker is learning sewing

Mimpi tentang Baju Cinderella

Kelas Menjahit, bukan semata-mata kelas yang mengajarkan keterampilan. Ia adalah perjumpaan yang mampu membasuh beragam kerinduan. Di sana ada kerinduan akan sahabat, rasa nyaman, keramahan, pengalaman baru, dan pertumbuhan. Di Kelas Menjahit, ada keleluasaan untuk tertawa, bergembira, dan berimajinasi. Ada kerinduan untuk saling belajar, saling meneguhkan, dan memberikan dukungan. Dalam perjumpaan dua kali seminggu itu, terpenuhilah kerinduan untuk lepas dari kejenuhan, kerinduan tentang penerimaan, serta kerinduan untuk memberikan diri dan berbagi dengan yang lain. Tak mengherankan jika Kelas Menjahit itu selalu menyulut semangat dan menarik kehadiran. Lanjutkan baca

JRS Staf is visiting a detainee at Detention Center

Keramahtamahan yang Menyembuhkan

Dunia yang menderita sakit akibat perang, konflik, sentimen kecurigaan, dan stereotyping yang melahirkan Pengungsi, membutuhkan keramahtamahan untuk menyembuhkannya. Semoga penemanan, pelayanan, dan pembelaan JRS bagi para Pengungsi secara langsung, konkret, dan sederhana, dapat menjadi tanda keramahtamahan yang menyembuhkan. Semoga cahaya keramahtamahan melelehkan kebekuan-kebekuan sosial dalam masyarakat yang menolak pengungsi, serta menembus ruang-ruang penting tempat kebijakan politik mengenai Pengungsi diputuskan. Lanjutkan baca

rohingya

Saya Tak Ingin Dihukum Lagi Hanya Karena Rupa dan Agama Saya

Siang itu telepon genggam saya berdering. “Hallo Pak, sekarang ini situasi di Myanmar semakin buruk. Orang Rohingya semakin mengalami banyak kesulitan. Berita terakhir sangat buruk. Kapan kita bisa bertemu?”, demikian suara Mohammad Amir[i] cemas. Pengungsi etnis Rohingya berusia 27 tahun … Lanjutkan baca

Pro Bono Legal Representatives in a Training Session

Pelatihan Bagi Pengacara Pro Bono

Pencari suaka adalah seseorang yang mengajukan permohonan perlindungan internasional sebagai pengungsi setelah meninggalkan negara asalnya karena alasan yang nyata terhadap penganiayaan. Untuk mendapatkan perlindungan internasional sebagai pengungsi, seorang pencari suaka harus membuktikan  adanya kemungkinan yang rasional tentang penderitaan yang ia … Lanjutkan baca

outdoor-sewon-3

I Wish You All the Best in the Future

“Thank you. You have done the best for this picnic”, kata salah seorang pengungsi asal Afganisthan ketika semuanya sudah siap di depan bus yang akan membawa kami ke tempat tujuan. Dengan wajah gembira, mereka bergantian untuk mengambil foto sebelum berangkat. Sungguh, hari itu saya menjadi saksi bahwa mereka adalah orang-orang yang berbesar hati. Semoga Tuhan memberkati. Lanjutkan baca

01062012092342

Jalan Panjang Menuju Kebebasan dan Kedamaian

Saya bertemu Mahani (bukan nama sebenarnya) di rumahnya di Indonesia. Ia sedang bersiap untuk makan siang bersama tiga anaknya yang berumur 13 tahun, 7 tahun, dan 6 tahun. Ia menyediakan bagi kami makan siang vegetarian, karena orang Sri Lanka tidak mengonsumsi daging pada hari-hari tertentu. Di rumahnya yang kecil, ia menghabiskan hari-harinya dengan merawat keluarganya dan menunggu. Lanjutkan baca

09072012111702

Catatan Kecil di Hari Pengungsi

“Anak saya sekarang berumur tiga tahun, tetapi saya belum pernah melihat wajahnya,” ata seorang pengungsi asal Afghanistan yang tinggal di Sewon, Bantul, Yogyakarta. “Saya meninggalkannya ketika masih dalam kandungan. Sejak itu saya tidak berjumpa dengan istri dan anak saya,” lanjutnya dengan tatapan mata lurus ke depan, menyembunyikan kesedihan dan kesepian mendalam di tengah keriuhan suasana peringatan Hari Pengungsi Sedunia. Lanjutkan baca

12072012113649

Anak-anak Belajar dari Kehidupan

Konflik dan kekerasan telah memaksa sebagian orang untuk mengungsi dan mencari suaka ke negeri lain. Dari antara mereka yang terpaksa berpindah tempat, anak-anak menjadi korban yang paling rentan Lanjutkan baca

Refugees from Myanmar and Bangladesh receiving JRS supplies

Kesabaran dalam Perjalanan Panjang

Sejak awal Januari 2009, media massa baik internasional dan nasional memberitakan kaum Rohingya, manusia perahu yang melintasi lautan lepas berminggu-minggu hanya dengan perahu kecil tak bermotor, tanpa bekal yang cukup yang terdepak dari Thailand. Setelah menempuh perjalanan jauh yang traumatis serta menghadapi kelaparan dan penyakit di lautan lepas, akhirnya mereka terdampar di daratan Indonesia. Sebulan setelah kedatangan 193 orang di Sabang, ujung paling barat Indonesia, perahu kedua yang memuat 198 orang tiba di Kuala Idi, Kabupaten Aceh Timur. Berbagai pertanyaan muncul berkaitan dengan latar belakang dan pertanggungjawaban atas perjalanan dan kedatangan mereka di Indonesia. Lanjutkan baca