Sebuah Kemenangan Kemanusiaan: 1 Agustus, Pemberlakuan Konvensi Munisi Curah

Selasa, Oktober 12th, 2010

Andy Rachmianto (kanan) sebagai salah satu narasumber

“Aku memiliki kehidupan biasa, sebuah kehidupan keluarga. Namun semuanya lenyap dalam seketika. Aku bukan lagi orang yang sama. Bom-bom itu jatuh meleset beberapa kilometer dari sasaran, langsung menimpa daerah perumahan, di mana sama sekali tak ada sasaran militer. Aku yang pertama masuk ke sana, untuk membersihkan bom-bom tersebut sehingga tak ada warga sipil yang terluka. Namun itu malah terjadi padaku. Mungkin lebih baik demikian. Lebih baik aku yang terluka ketimbang anak-anak tak berdosa menjadi korbannya. Tatkala aku terbaring di tanah, aku tak merasakan sakit. Tapi begitu kulihat lengan kananku telah hilang. Rasanya mengerikan,” ujar Sladjan Vuckovic. Ia merupakan salah satu dari ribuan korban munisi curah di dunia yang selamat. Kesaksiannya itu disampaikan dalam sebuah film yang menandai langkah besar bagi Ban Cluster Munition  (Pelarangan Munisi Curah) saat pemutaran film di Kolese Kanisius Jakarta.

Tanggal 1 Agustus menjadi hari pelarangan senjata ini, pada hari tersebut hukum internasional yang melarang pembuatan, penggunaan, pemindahan, penyimpanan bom curah mulai diberlakukan. Penyusunan kebijakan pun dimulai untuk membersihkan daerah yang terkontaminasi serta membantu para korban akibat insiden  munisi curah.

Sekitar 50 tamu, siswa, mahasiswa, anggota LSM dan beberapa wartawan media hadir untuk bersama-sama merayakan hari tersebut dan menyampaikan harapan mereka terhadap pelarangan senjata berbahaya yang tak manusiawi ini di Indonesia dan juga dunia.

 ”Kami senang dapat ikut serta dalam acara ini karena kami peduli akan perdamaian dan penderitaan yang disebabkan oleh senjata tersebut,” ujar …. dari Kunokini, sebelum para penabuh drum dari Jakarta menabuh drum mereka lagi. Kunokini tak sendirian.  Di lebih dari 80 negara di Afrika, Eropa, Amerika Latin, Asia dan bahkan di Antartika para penabuh drum dan juru kampanye bergabung serta bersama-sama memukul genderang tradisional dalam kampanye internasional bertema “Beat the Drum to Ban Cluster Bombs” (Menabuh genderang untuk melarang penggunaan bom curah).

Acara ini diawali dengan Misa Minggu yang digelar di Gereja Katedral Jakarta, dihadiri oleh 300 orang. Romo Suyadi memimpin doa bagi perdamaian dan para korban selamat dari insiden ranjau darat dan munisi curah. Ribuan warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak menjadi korban bom semacam ini selama beberapa dekade terakhir. Mereka kehilangan anggota tubuhnya, kehidupan, dan orang tercinta saat menemukan bom berbentuk lucu berwarna unik yang belum meledak. Beberapa lama setelah konflik atau perang berakhir, bom ini terus-menerus memakan korban, separuhnya ialah anak-anak karena mereka tertarik dengan bentuk dan warna senjata tersebut.

Itulah gambaran luka yang begitu mengerikan dan para pekerja LSM yang menyaksikan secara langsung dampak dari “warisan perang yang mematikan”. Setahun yang lalu mereka mulai mengkampanyekan ke seluruh dunia untuk melarang penggunaan senjata ini. JRS yang mendampingi orang-orang yang terpaksa mengungsi akibat konflik di lebih dari 50 negara juga mengambil bagian dalam kampanye tersebut setelah menyaksikan luka yang begitu mengerikan yang dialami orang-orang yang tiba di kamp-kamp pengungsi. Selain itu adanya rasa takut untuk kembali ke rumah mereka karena ladang mereka masih terkontaminasi bom curah yang belum meledak.

“Hari ini kita berkumpul bersama untuk merayakan langkah yang sangat penting bagi kemanusiaan. Tanggal 1 Agustus 2010 ini ialah hari istimewa bagi kita dan orang-orang yang mencintai perdamaian di seluruh muka bumi. Kita merayakannya karena pada hari ini sebuah perjanjian internasional baru akan mulai berlaku yakni pelarangan penggunaan bom curah yang membahayakan kehidupan dan keselamatan warga sipil yang tak berdosa,” demikian ungkap Romo Suyadi, Direktur JRS Indonesia dalam perayaan pemberlakuan Konvensi Munisi Curah.

Acara ini juga dihadiri oleh Andy Rachmianto dari Departemen Luar Negeri Indonesia, yang berbicara tentang partisipasi Indonesia selama penyusunan dan penyebarluasan konvensi. “Indonesia memiliki sejumlah kecil munisi curah dan akan dihancurkan dalam 8 tahun setelah meratifikasi konvensi tersebut,” ujarnya.

Tanggal 1 Agustus merupakan puncak dari program satu minggu dengan agenda pemutaran film di KINEFORUM Jakarta, yang mengundang khalayak ramai untuk belajar melalui film tentang dampak senjata terhadap kehidupan masyarakat dan keluarganya. Tujuan dari acara ini adalah untuk menciptakan momentum agar Indonesia segera meratifikasi konvensi tersebut. “Indonesia tidak memiliki daerah yang terkontaminasi dan sejauh yang saya tahu tidak pernah menggunakan senjata tersebut, namun masih ada simpanan senjata. Demi keselamatan warga sipil, sebaiknya simpanan tersebut harus segera dimusnahkan. Ini sebagai contoh bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik untuk meratifikasi Konvensi Munisi Curah,” ujar Lars Stenger dari JRS Indonesia.

Kampanye pelarangan penggunaan munisi curah telah mencapai satu tujuan. Beberapa tahun lalu banyak orang mengira hal ini tak mungkin. Pemberlakuan konvensi ini merupakan peristiwa penting bagi semua orang, terutama bagi mereka yang terkena dampak senjata maupun mereka yang bias menjadi korbannya di masa depan. Ini juga merupakan contoh bagaimana sebuah koalisi antara masyarakat yang yang berkomitmen untuk berkampanye, PBB dan pemerintah berhasil mengadvokasi dan menerapkan standar kemanusiaan itu di tingkat internasional.

Lars Stenger

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca