Anti Ranjau Darat dan Perdamaian

Jumat, April 5th, 2013

Flash Mop-Smart Mop di Ttitik Nol Yogyakarta

Dalam peringatan Hari Kesadaran akan Ranjau Internasional dan Dukungan bagi Aksi Penanganan Ranjau yang diselenggarakan pada tanggal 4 April 2013, 40 orang mahasiswa menunjukkan aksi “meminjamkan kaki” mereka setelah mengikuti seminar tentang “Pelarangan Ranjau Darat, Membangun Perdamaian”.  Dalam seminar tersebut dipaparkan sebuah refleksi tentang  konvensi pelarangan ranjau darat, kampanye, dan dampaknya bagi pengembangan perdamaian yang berjudul “Ban Landmines and Peace” oleh Titik Firmawati, M.A., staf pengajar Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain itu, Lars Stenger (JRS Indonesia) menyampaikan paparan berjudul “The Sad Legacy of Landmines and Cluster Munitions in ASEAN”.  Seminar semakin hidup dengan sebuah percakapan via skype dengan Duta ICBL (International Campaign to Ban Landmines) dari Kamboja, Tun Channareth. Tindak lanjut dari seminar ini adalah mendesak Pemerintah Indonesia untuk mempromosikan perjanjian dan konvensi tentang ranjau darat dan bom curah. Seminar juga membuahkan rekomendasi untuk menulis surat kepada perwakilan Pemerintah Indonesia atau perwakilan Pemerintah Negara ASEAN lainnya dan meminta agar menandatangani MBT (Mine Ban Treaty/Perjanjian Pelarangan Ranjau) dan CCM (Convention on Cluster Munition/Konvensi Munisi Tandan). Rekomendasi selanjutnya adalah memasukkan tema tentang pelarangan ranjau dan bom curah dalam penelitian di universitas serta mengeksplorasi pembentukan kelompok mahasiswa yang melakukan advokasi terhadap isu tentang perlucutan senjata di Indonesia.

Pada tanggal 6 April 2013, IIS (Institute of International Studies) UGM bersama dengan Kelompok Pembela Hak Kaum Difabel, mahasiswa dan JRS menyelenggarakan Flash Mob-Smart Mob di Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah ranjau darat dan Hari Kesadaran akan Ranjau Internasional dan Dukungan bagi Aksi Penanganan Ranjau. Beberapa orang di sekitar Titik Nol Kilometer secara spontan bergabung setelah mendapat informasi tentang tujuan aksi tersebut.

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca