Korban Selamat yang Menjadi Penggiat Kampanye

Minggu, Desember 6th, 2009

Soraj Ghulam Habib: salah satu anggota Ban Advocates yang kehilangan kedua kaki dan satu jari saat cluster munition meledak di Herat, Afghanistan tahun 2001

“Hadirin sekalian, pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah, Indonesia, karena telah mengadakan konferensi penting di Asia sebagai wilayah yang paling terkena dampak cluster munition di dunia. Merupakan kehormatan bagi saya untuk berbicara atas nama ribuan korban yang selamat dari cluster bomb dalam konferensi penting ini.” Suara Thi terdengar tegas saat berbicara di hadapan lebih dari 50 perwakilan tingkat tinggi dari 21 negara[1] yang menghadiri Regional Conference on the Promotion and Universalization of the Convention on Cluster Munitions (Konferensi Regional untuk Memperkenalkan dan Universalisasi Konvensi Cluster Munitions) selama dua hari di Bali. Pham Quy Thi merupakan salah satu korban selamat dari Vietnam. Pada tahun 1977, saat dia bekerja di sawah, secara tidak sengaja diamemukul cluster bomb dan kehilangan lengan kanannya. “Seketika saya menjadi cacat. Saya sangat depresi namun masyarakat dan keluarga mendukung saya. Saya selamat dari tragedi dan terus bekerja untuk menghidupi anak-anak saya. Namun hingga kini, beberapa pecahan logam masih tertancap dalam tubuh saya.”

Lebih dari tiga dekade setelah perang usai di Vietnam, sisa-sisa bahan peledak, termasuk cluster bomb yang tidak meledak masih menjadi ancaman yang mematikan bagi kehidupan dan penghidupan orang-orang di Vietnam, Laos, dan Kamboja. Lebih dari 100.000 orang telah terbunuh atau terluka karena bahan peledak sisa perang.

”Saya memimpikan dunia yang damai di mana cluster munitions dilarang oleh semua negara selamanya demi anak-anak kita untuk mendapatkan lingkungan yang aman untuk belajar dan sejahtera. Oleh karena itu, saya meminta lebih banyak negara untuk ikut serta dalam usaha global ini dengan menandatangani, meratifikasi dan memasukkan konvensi ke dalam praktek dan segera melaksanakannya.” Thi adalah satu dari 35 peserta kampanye yang menghadiri konferensi dan mengambil kesempatan tidak hanya untuk menceritakan kisahnya sebagai korban yang selamat tapi juga meminta pemerintah untuk mencegah insiden di masa datang dengan melarang cluster munition dan dengan ikut serta dalam Konvensi Cluster Munitions.

Dalam sesi ‘Perspectives from the Most Affected Countries of Cluster Munitions and Victims’ (Perspektif dari Negara yang paling terdampak Cluster Munitions serta Para Korban) korban yang lain, Nguyen Thi Huong, berbicara di atas podium. “Pada tahun 1991, suami saya terkena ledakan cluster bomb saat bekerja di kebun kami. Dia terpaksa

kehilangan kaki kirinya saat ledakan terjadi. Yang lebih menyakitkan adalah anak perempuan kami yang berumur empat tahun dan sedang bermain di dekat ayahnya terbunuh dalam kejadian tersebut. Saya masih merasa ngeri jika mengingat kejadian tersebut. Kecelakaan itu meninggalkan rasa sakit yang mendalam dan tidak ada yang dapat menggantikan rasa kehilangan ini. Keluarga saya mengalami banyak kesulitan sejak saat itu karena suami saya yang biasanya mencari nafkah bagi keluarga menjadi cacat. Kini semua urusan keluarga berada di pundak saya.” Saat ini Vietnam menjadi negara yang paling terdampak kontaminasi cluster munitions setelah Laos PDR. Di provinsi tempat Huong tinggal saja sejak perang usai tercatat 35% dari total angka kecelakaan diakibatkan oleh cluster bomb. Anak-anak merupakan yang paling rentan terhadap risiko cluster bomb karena kecerobohan dan keingintahuan mereka. ”Bulan Juli lalu di Kabupaten Hai Lang, tiga anak tewas di tempat akibat cluster munitions saat menggembala kerbau. Jelaslah dampak cluster munitions sangat hebat, tidak hanya bagi keluarga saya tapi juga bagi masyarakat. Tidak ada perasaan damai bagi mereka yang bekerja di lahan yang terkontaminasi. Sebagian besar korban yang selamat dari cluster bombs, seperti suami saya, kehilangan kemampuan bekerja selamanya. Ini mengakibatkan beban berat bagi keluarga dan masyarakat juga,” kata Huang.

Para korban yang selamat dari insiden cluster munitions merupakan bagian yang penting dari kisah keberhasilan kampanye pelarangan cluster munitions. Ini merupakan perjanjian antara orang seperti Thi dan Huong yang dapat mengajak pihak pemerintah di seluruh dunia untuk menghentikan praktek-praktek lama dan keprihatinan keamanan yang tidak realistis untuk ikut serta menjadi pendukung pelarangan ”senjata kotor” ini yang sisa-sisa bomblets (bom-bom kecil) di tahun 2008 saja menyebabkan 125 kecelakaan termasuk pada 52 anak dan jumlah ini hanya insiden yang dilaporkan[2].

 Apakah Cluster Bomb?

Cluster bomb merupakan senjata besar yang terdiri atas banyak – seringkali ratusan – bomblets (bom-bom kecil). Ditempatkan seperti bulir kacang polong di dalam kelopaknya, wadah ini akan terbuka di udara dan menyebarkan bomblets di wilayah yang luas – terkadang seukuran beberapa lapangan sepak bola. Dampaknya tidak terbatas pada satu sasaran militer, tapi juga akan melukai dan membunuh banyak warga sipil selama serangan. Jika bomblets tidak meledak saat itu, ini akan menjadi inti dari ranjau anti-personal yang tersebar secara acak dan menunggu korbannya selama berhari-hari, berbulanbulan, bertahun-tahun dan bahkan dekade seperti kasus yang terjadi di Afghanistan, Vietnam, Laos, dan Kamboja di mana penduduk sipil menghadapi bahaya bomblet selama tiga dekade saat mereka berkebun atau anak-anak sedang bermain. Cluster munitions mewariskan rasa takut dan penderitaan bagi korban sipil dan keluarga mereka yang seringkali kehilangan harapan dan mata pencaharian saat pencari nafkah keluarga menjadi cacat atau terbunuh.

Seperti dalam International Campaign to Ban Landmines (Kampanye Internasional Pelarangan Ranjau Darat) sebelumnya, penting bagi korban yang selamat untuk menjadi peserta kunci bagi kampanye Konvensi Internasional tentang

Cluster Munitions, senjata yang berdampak sangat buruk bagi kehidupan mereka. 12 Ban Advocates (pendukung pelarangan cluster munitions) dari Afghanistan, Laos dan Vietnam yang menghadiri konferensi adalah contoh kekuatan dan keinginan orang-orang yang telah melalui goncangan dan depresi setelah kehilangan tidak hanya anggota tubuh mereka tapi sering kali juga anggota keluarga mereka. Kemudian menemukan kekuatan dan keberanian untuk mengubah kutukan di masa datang sehingga tidak ada lagi orang yang harus mengalami penderitaan seperti yang mereka alami. Untuk mencapai hal ini diperlukan tidak hanya pelarangan dan pemusnahan semua cluster munitions tapi juga dukungan internasional untuk membersihkan wilayah yang terkontaminasi serta bantuan bagi korban dalam menghadapi tantangan hidup dalam kecacatan di beberapa negara termiskin di wilayah itu.

Konferensi Regional di Bali ini merupakan langkah lanjutan untuk “Masuk dengan Paksa” ke dalam Konvensi Internasional, yang setelah satu tahun berhasil mengumpulkan 103 tanda tangan dan 24 ratifikasi dan kini hanya memerlukan ratifikasi dari enam negara sebelum regulasi mengenai pemusnahan cadangan, pembersihan wilayah yang terkontaminasi, dan pemusnahan sisa cluster munitions di tanah, pendidikan tentang risiko dan bantuan bagi para korban serta bantuan internasional disetujui oleh Negara-negara pihak.

Soraj Ghulam Habib kehilangan kedua kaki dan satu jari saat cluster munition meledak di Herat, Afghanistan tahun 2001. Ini menghalanginya bersekolah, bermain dengan anak-anak lain dan ikut serta dalam kegiatan sosial. Dia menjadi peserta kampanye menentang cluster munition dan menyatakan dalam konferensi, “Cluster munition menghancurkan mimpiku seketika. Jika Anda tidak menginginkan warga anda, khususnya anak-anak menghadapi tantangan seperti yang saya hadapi, sebanyak mungkin negara, khususnya daerah yang terkena dampak besar, harus menandatangani, meratifikasi dan melaksanakan Konvensi untuk menyelamatkan kehidupan manusia dari efek buruk cluster munitions. Kami, Ban Advocates hadir dalam Konferensi ini untuk meminta dukungan Anda dan kami siap bekerja dengan anda dan pemerintah kami di tingkat nasional dalam mengembangkan rencana tindakan untuk membantu korban dalam memenuhi kebutuhan mereka. Me-reka yang selamat tahu pasti apa yang mereka butuhkan. Jadi, dengarkanlah kami.”

Lars Stenger


[1] 21 pihak pemerintah yang hadir termasuk Afghanistan, Austria, Australia, Bangladesh, Kamboja, Fiji, Jerman, Indonesia, Jepang, Lao PDR, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Selandia Baru, Norwegia, Palau, Filipina, Sri Lanka, Timor Leste, Thailand, dan Vietnam bersama dengan UNDP, UNMAS, ICRC, dan GICHD. Sejumlah besar negara yang bukan pihak penanda tangan ikut hadir dalam Konferensi; hampir sama dengan jumlah penanda tangan CCM. Konferensi ini sungguh penting karena wilayah Asia Tenggara merupakan wilayah yang terdampak berat oleh cluster munition. Hanya 12 dari 40 negara di wilayah ini yang telah menandatangani CCM.

[2] http://www.lm.icbl.org/lm/2009/

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca