Workshop Konvensi Munisi CURAH

Senin, Maret 29th, 2010

Duta kampanye anti ranjau darat (ICBL) Tun Channareth mengungkapkan harapannya dalam workshop CCM

Aktif bertahun-tahun dalam kampanye pemusnahan ranjau darat dan bom curah (cluster bomb), perwakilan JRS dari Thailand, Kamboja dan Indonesia mengadakan pertemuan di Jakarta pada tanggal 22-23 Maret untuk merencanakan dukungan lebih lanjut mengenai universalisasi serta pelaksanaan dua pakta perlucutan senjata yang telah berhasil dengan baik ini. “Jesuit Refugee Service (JRS) menyambut gembira ketika Pemerintah Indonesia meratifikasi Konvensi Anti Penggunaan Ranjau Darat serta pemusnahannya pada tahun 2008. Pada tahun yang sama Indonesia juga menandatangani Konvensi Anti Penggunaan Munisi Curah,” kenang Romo Adrianus Suyadi SJ, Direktur JRS Indonesia.

Pertemuan ini kemudian dilanjutkan dengan workshop CCM (Konvensi Munisi Curah ) untuk organisasi masyarakat sipil termasuk perwakilan dari pers, LSM serta universitas. Pada tanggal 25 Maret anggota DPR dari komisi satu, kementerian luar negeri serta kementerian kehakiman dan hak asasi manusia diundang untuk mengetahui lebih lanjut mengenai masalah munisi curah(cluster munitions) serta pakta baru yang melarang penggunaannya. Tujuan workshop ini adalah untuk menciptakan sebuah momentum yang mendukung percepatan Indonesia dalam meratifikasi Konvensi Munisi Curah(CCM) yang diberlakukan mulai tanggal 1 Agustus. “Indonesia harus meratifikasi Konvensi Munisi Tandan untuk dapat memberikan kontribusi sebagai anggota penuh dalam pertemuan pertama negara-negara peratifikasi perjanjian munisi curah(State Parties) yang dijadwalkan pada bulan November 2010 di Vientiane, Laos,” kata Romo Bernard Arputhasamy SJ., Direktur Regional JRS Asia Pasifik.

Hanya Laos, Filipina dan Indonesia yang menjadi tiga negara penandatangan di kawasan ini, meninggalkan Kamboja dan Vietnam sebagai negara yang sangat terkena dampak senjata bersama dengan Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei dan Burma/Myanmar yang masih belum menandatangani Perjanjian Bom Curah.

Bersama dengan juru kampanye lain dari Koalisi Munisi Curah (CMC) di seluruh dunia JRS akan merayakan mulai diberlakukannya Perjanjian Perlucutan Anti Penggunaan Bom Curah pada tanggal 1 Agustus 2010 yang ditandai dengan pemukulan drum/bedug, tarian, dan doa bersama.

Korban ranjau darat dan duta Kampanye Anti Ranjau Darat (ICBL) dari Kamboja, Tun Channareth mengatakan, “Dengan adanya sisa-sisa peledak bekas perang (ERW) ini, saya tidak pernah hidup damai. Saya merasa masih menjadi pengungsi terus-menerus. Sekarang saya mendesak ASEAN menjadi pemimpin dalam membangun perdamaian dan keadilan, khususnya peduli terhadap mereka yang menjadi korban ranjau darat dan munisi curah.”

Peserta kampanye mencatat bahwa masyarakat di Laos, Vietnam, dan Kamboja masih menderita akibat senjata yang pernah digunakan oleh dua generasi yang lalu.

”Dalam solidaritas dengan saudara-saudara kita yang menderita, negara-negara ASEAN harus ikut meratifikasi dan menerapkan perjanjian ini. Indonesia, bersama dengan Laos dan Filipina, bagaikan pelita harapan di wilayah ASEAN,” kata Semsiri Ingavanija, juru kampanye JRS Asia Pasifik.

Langkah pertama bagi Thailand, Malaysia, Kamboja, Brunei, Singapura, Vietnam, Burma/Myanmar, adalah bergabung dengan 104 negara yang telah menandatangani Perjanjian Munisi Curah.

Meski Indonesia tidak pernah menggunakan ataupun menjadi korban atas munisi curah ini, namun pasukan penjaga perdamaian Indonesia di Lebanon menyaksikan sendiri dampak yang mematikan dari senjata ini bagi rakyat Lebanon.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai konvensi dan upaya advokasi yang dilakukan di Indonesia silahkan kunjungi: www.antiranjaudarat.or.id.

Lars Stenger

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca