Saya Mengungsi Sejak Berumur Lima Tahun

Senin, Desember 16th, 2013

Mengungsi. Itulah satu-satunya kata yang mewakili perjalanan hidup Musa (25 tahun). Ia adalah salah satu dari jutaan keturunan suku minoritas asal Afghanistan yang mencari suaka ke negara lain. Sejak umur 5 tahun, ia terpaksa akrab dengan ketakutan dan ancaman. Ayahnya, seorang Kepala Sekolah di desa, terpaksa membawanya melarikan diri ke Pakistan demi menyelamatkan keluarga. Mereka sempat merasakan hidup yang aman di Pakistan, namun rasa aman itu tidak berlangsung lama. Pada tahun 2004, suku minoritas yang tinggal di Pakistan mulai menjadi sasaran pembunuhan dan ini masih berlangsung hingga sekarang. Musa yang telah menginjak remaja, menghadapi banyak kesulitan dan ancaman lagi. Ia tak dapat belajar maupun bekerja. Karena itulah ia memutuskan mengungsi lagi, mencari tempat yang lebih aman.
Ia membayar seorang agen agar dapat meninggalkan Pakistan dengan menggunakan kapal. Ia tidak punya pilihan lain ketika ancaman pembunuhan sudah di depan mata. Ia sadar bahwa perjalanan mengarungi samudra dengan kapal seadanya berarti mempertaruhkan diri di antara hidup dan mati. Dari Pakistan ia menuju Thailand, Malaysia dan akhirnya sampai ke Indonesia. Di Indonesia, ia bersepakat dengan agen lain yang akan membawa mereka menyeberang dari Indonesia menuju Australia. “Di sini, di Indonesia saya membayar agen lain yang akan membawa saya ke Australia. Sayangnya, petugas keamanan Indonesia menangkap saya dalam perjalanan. Lalu saya dipenjara di dalam Rumah Detensi Imigrasi,” papar Musa.

Ketika ditahan di Rumah Detensi, Musa bertemu dengan JRS. Ia sering mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh JRS di Rumah Detensi, seperti futsal dan aerobik. “Saya bertemu dengan JRS di Rumah Detensi. Mereka membantu Pengungsi dan menyelenggarakan banyak kegiatan di Rumah Detensi. Setiap kali JRS datang, saya merasa tenang karena mereka sering membawa berita baru dan membantu banyak hal. Kepada merekalah saya merasa nyaman untuk menceritakan kesedihan dan kesulitan yang kami alami. Saya sangat berterima kasih kepada JRS.”

Sekarang Musa telah resmi berstatus sebagai Pengungsi yang terdaftar di UNHCR dan mengajukan suaka ke Australia. Menjadi pengungsi sejak berumur 5 tahun, menghadapi ancaman pembunuhan, mengarungi bahaya dan ancaman kematian di tengah lautan, berpindah dari satu negara ke negara lain, tertangkap dan dipenjara, adalah kenyataan hidup yang berat namun tak mematahkan harapannya. “Semoga suatu hari nanti saya akan berkumpul kembali dengan keluarga, dan dapat belajar lagi atau bekerja. Saya merindukan sebuah tempat yang aman, yang tak perlu membuat saya khawatir tentang keluarga. Saya merindukan hukum dan lembaga peradilan yang mendengarkan keluhan saya.” ***

Citra Ayisafitri

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca