Benih Harapan di Tengah Keputusasaan

Senin, Juni 23rd, 2014

Kebun sayuran di salah satu sudut Rumah Detensi Imigrasi

Bagi  Pencari Suaka, hidup di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) seumpama menjalani hari-hari yang panjang tanpa kepastian dan penuh kebosanan untuk menantikan keputusan tentang status mereka sebagai Pengungsi. Mengisi hidup sehari-hari melalui beragam aktivitas yang positif merupakan cara untuk membuat masa penantian menjadi lebih berarti dan berguna. Beberapa kegiatan yang ditawarkan oleh JRS maupun IOM seperti olah raga, kursus bahasa Inggris, kursus musik dan berenang merupakan kegitan positif yang dapat mengurangi kejenuhan dan menambah kemampuan. Saat ini ada satu kegiatan baru yang ternyata sangat disukai oleh para deteni, yakni berkebun.

“Saya tidak ingin hanya tidur dan makan melulu di sini. Saya membutuhkan kegiatan untuk mengisi waktu saya,” kata Mahmud (40), pencari suaka asal Iran yang tiba di Rudenim pada  9 Januari 2014 dan sedang menunggu hasil wawancara penentuan status sebagai Pengungsi yang dilakukan pada akhir April lalu. Dialah yang paling kooperatif dan aktif berkebun. Ia telah membuat taman di halaman serta di lingkungan Rudenim. “Saya akan membuat lingkungan di sekitar Rudenim ini seperti Janah (surga),” katanya penuh semangat.

Semakin hari semakin banyak deteni yang tertarik dan bergabung dalam kegiatan berkebun. Di beberapa bagian halaman, hasilnya sudah mulai kelihatan dan menggembirakan. Di halaman samping yang memanjang sudah mulai kelihatan tanaman mentimun, terong, cabe dan tomat. Tanaman terong dan tomat yang sudah subur itu awalnya ditanam oleh seorang deteni asal Myanmar yang pada bulan Mei lalu telah dipindahkan ke rumah komunitas. Tanaman terong dan tomat itu sekarang dirawat oleh deteni yang lain. Mereka rajin memelihara tanaman tersebut, menyiraminya, menyemprot hama dan memberinya pupuk.

Suatu kali, ketika tak ada pupuk bagi tanaman tersebut, mereka dengan penuh semangat dan nekat mengambil kotoran dari tempat pembuangan (septic tank) untuk memupuk tanaman terong dan tomat. Seorang Pencari Suaka asal Sudan yang baru saja tiba di Rudenim bulan April yang lalu, senang sekali membantu mencangkul halaman untuk membuat taman.

Desain taman itu dirancang oleh Mahmud. Ia membuat cetakan semen dari pipa-pipa pralon untuk membentuk taman itu. Cetakan semen itu ditata menjadi delapan lingkaran kecil yang keseluruhannya membentuk sebuah bunga dengan delapan kelopak dan tengahnya ditanami berbagai macam bunga.

Para deteni ini sungguh sangat beruntung. Umat katolik Paroki Pasuruan yang telah tiga kali berkunjung ke Rudenim menghadiahi mereka 120 buah polybag berisi tanaman hias berwarna-warni. IOM juga menyumbang beberapa jenis tanaman hias dan bunga-bungaan. Beberapa bulan ke depan halaman dan lingkungan sekitar di Rudenim barangkali akan benar-benar menjadi seperti taman surga seperti dicita-citakan oleh Mahmud.

Para deteni, JRS dan IOM memfasilitasi kegiatan berkebun ini secara bersama-sama.  JRS membantu menyediakan media tanam, pupuk kompos (pupuk kandang), bibit tanaman, bilah-bilah bambu, alat penyiram, cangkul, cetok, meteran, pupuk anorganik (kimia), serta pembasmi hama. IOM membantu menyediakan pasir, semen dan beberapa bibit tanaman bunga.

Pengalaman berkebun ini menunjukkan bahwa ketika diberi ruang, kesempatan dan kepercayaan, para deteni akan mampu menunjukkan kreativitas, keterampilan, dan keahlian yang memberikan manfaat baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang-orang lain yang berada di sekitarnya. Mampu membentuk dan mengubah lingkungan menjadi lebih indah dan berguna merupakan kerinduan setiap manusia. Mampu meninggalkan warisan kepada orang-orang yang bahkan berada di tempat yang sangat sepi seperti di Rumah Detensi adalah sesuatu yang menguatkan. Mengamati tanaman dan bunga  yang bertumbuh adalah alternatif kegiatan yang layak daripada hanya menghitung hari-hari yang tak pernah berakhir sambil mengharapkan masa depan yang lebih bermartabat dan lebih aman. Hasil dari usaha para deteni ini juga mendapatkan tanggapan positif dari petugas Rumah Detensi.

“Berkebun dan membuat taman adalah kegiatan yang cukup baik bagi para deteni. Taman yang mereka buat juga cukup bagus. Sayang tanamannya kurang banyak,” kata Kepala Rudenim. Staf Rudenim yang lain mengungkapkan hal senada,”Kebun dan taman yang dibuat lumayan bagus. Saya mendukung kegiatan berkebun dan membuat taman karena dapat mengurangi kejenuhan dan stres para deteni.”

Seorang warga Paroki yang ikut menyumbang 120 polibag mengungkapkan harapannya,”Semoga para deteni dapat menikmati kegiatan menanam bunga dan menikmati keindahannya untuk menghalau kejenuhan. Menanam bunga dapat menjadi hiburan dan rekreasi sederhana namun memberikan kepuasan hati yang tak tergantikan oleh apapun.”***

Daryadi Achmadi

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca