Berjumpa untuk Saling Belajar Tiada Henti

Kamis, Maret 27th, 2014

Di JRS, kita diundang untuk menemani para Pengungsi dengan cara membuka diri kita sendiri dan berbagi hidup dengan mereka. Namun, berbagi itu bisa jadi tidaklah mudah. Untuk menghadapi kesulitan-kesulitan berat yang dialami oleh para Pengungsi dan Pencari Suaka, Taka Gani menggambarkan tantangan yang ia alami, termasuk kebijaksanaan yang ia peroleh, dari proses menemani seorang pemuda di Rumah Detensi Imigrasi.

Staf JRS sedang mendengarkan kisah dari seorang Pengungsi

“Tolong, ingatlah kami.” Saya masih mengingat kata-kata yang diucapkan oleh seorang deteni muda pada tahun 2009 ini, pada akhir kunjungan pertama saya ke sebuah Rumah Detensi Imigrasi di Indonesia.

Pada saat pertama kali saya mengunjungi Donya (23 tahun), Pencari Suaka dari etnis Hazara, Afghanistan, ia masih dikunci 24 jam sehari di dalam sebuah sel bersama empat atau lima orang lainnya selama hampir lima bulan. Saat itu, saya bersyukur karena diizinkan mengunjungi setiap sel dan dapat bercakap-cakap sebentar dengan para Pencari Suaka, yang sebagian besar berasal dari Afghanistan dan Myanmar.

Kata-kata Donya itu melekat dalam pikiran dan hati saya. Itu merupakan pengalaman langsung saya dengan para Pencari Suaka yang dipenjara dan ketika itu saya hanya mengetahui sedikit tentang Rumah Detensi. Secara spontan, hati saya mengatakan bahwa ini bukanlah tempat dan cara yang pantas untuk memperlakukan mereka yang terpaksa mengungsi dari negara mereka karena ketakutan akibat ancaman atas hidup mereka.

Perjumpaan itu adalah pelajaran pertama saya dalam proses belajar tiada henti dengan para Pencari Suaka di Rumah Detensi. Saya tak pernah membayangkan bahwa itu akan menjadi awal mula dari persahabatan yang panjang dengan Donya di mana kami belajar bersama di dalam “sekolah kehidupan”.

Banyak di antara teman di JRS yang mengetahui seperti apa kehidupan di dalam Rumah Detensi bagi Pencari Suaka, Pengungsi, atau imigran: bagaimana kegelapan menyelimuti, tidak hanya karena dinding fisik yang memisahkan mereka dari dunia luar, melainkan juga karena perasaan yang melumpuhkan tentang ketidakpastian masa depan yang sama sekali tak mereka ketahui.

Bagi para Pencari Suaka yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka, setiap langkah perjalanan dibayangi oleh ketidakpastian, begitu mereka meninggalkan keluarga dan memulai perjalanan panjang yang diharapkan dapat membawa mereka menuju masa depan yang aman. Banyak pertanyaan yang mereka ajukan:

“Mengapa kami dikurung seperti ini di dalam penjara?”
“Kapan kami akan dibebaskan?”
“Kapan UNHCR akan mengunjungi kami?”
“Mengapa kami tidak boleh berkomunikasi dengan keluarga kami?”
“Dapatkah kamu membantu kami?”
“Apakah saya akan sampai dengan selamat di Australia dengan menggunakan perahu?”
“Apakah saya akan diterima sebagai Pengungsi?”
“Jika saya menjadi Pengungsi, kapan saya akan ditempatkan di negara ketiga?”
“Berapa lama lagi saya dapat segera disatukan kembali dengan keluarga saya?”

Beragam pertanyaan seperti ini dan pertanyaan lainnya selalu siap bagi saya ketika saya berkunjung ke Rumah Detensi. Mula-mula, karena saya hanya mengetahui sedikit tentang peraturan Rumah Detensi atau tentang mekanisme koordinasi di antara organisasi-organisasi yang bekerja di sana, saya bahkan tak dapat memberikan seberkas cahaya pun bagi gelapnya ketidakpastian itu.

Saya merasa seolah-olah sedang memasuki rimba kekalutan. Apa yang harus saya sampaikan kepada mereka ketika saya sendiri bahkan tak mengetahui apa, di mana, bagaimana, atau dari siapa saya bisa memperoleh jawaban? Kadang-kadang perasaan putus asa, marah, frustrasi, dan sedih merayap ketika saya menyadari betapa sedikit hal yang saya ketahui atau betapa sedikit yang dapat saya lakukan bagi mereka.

Namun dalam situasi seperti ini, saya sungguh menghargai banyaknya dukungan dalam kebersamaan dan keterbukaan teman-teman dalam tim, ketika kami saling membagikan pengalaman setelah berkunjung ke Rumah Detensi. Kami menyadari bahwa kami tidak sendirian dalam keputusasaan. Kami saling belajar tentang kualitas, nilai, dan kekuatan diri yang dapat mengimbangi kelemahan kami.

Yang dapat kami lakukan hanyalah mendengarkan semua yang ingin dikisahkan oleh para Pencari Suaka, baik secara lisan maupun tertulis, atau melalui foto-foto yang mereka tunjukkan kepada kami. Yang dapat kami berikan adalah kejujuran untuk mengatakan apa yang kami ketahui atau yang tidak kami ketahui, dan apa yang kami rasakan.

Saya merasa gembira ketika melihat binar-binar harapan di mata deteni ketika informasi yang kami bagikan sekurang-kurangnya menjawab beberapa kebutuhan mereka. Sebaliknya, hati saya sangat sedih ketika melihat tatapan kesedihan dan derita mereka, ketika saya tak dapat menjawab pertanyaan mereka, terutama pertanyaan ini: “Kapan kami akan keluar dari sini?”

Masih selalu ada saat ketika saya merasa seperti menyelamatkan diri sendiri dari beban keputusasaan mereka, ketika menjawab,”Saya tidak tahu.” Saya ingin memberikan jawaban yang jelas, tanggal yang pasti, bahkan seandainya saya tidak tahu bagaimana cara mengetahui kapan mereka akan keluar dari Rumah Detensi. Namun, tulisan Donya pada awal persahabatan kami telah menyelamatkan saya ketika mengalami saat-saat ketidakpastian yang mendalam:

Saudari terkasih, sejak saya sampai di sini demi melindungi keluarga saya, ingatlah bahwa keluarga saya berada dalam bahaya. Saya memiliki hak untuk menyelamatkan keluarga saya dari rasa takut, teror, dan kemalangan… Karena engkau adalah saudariku, jujurlah sebagaimana seorang saudari dan pertimbangkanlah bahwa saudaramu ini sedang mengajukan sebuah pertanyaan.

Saya memiliki keluarga yang berharap kepada saya dan beranggapan bahwa saya dapat menciptakan masa depan yang cerah bagi mereka. Mereka berpikir bahwa saya dapat melindungi mereka dari orang-orang yang jahat dan kejam. Kini, saya berada di dalam penjara. Saat ini, saya bahkan tak dapat membantu diri saya sendiri. Ketika saya berpikir tentang keadaan saya saat ini, saya menjadi sangat kecewa sehingga kadang-kadang saya berpikir bahwa saya akan mengucapkan selamat tinggal kepada dunia ini dan semua orang. 

Saudari terkasih, jawablah secara jujur: apa yang sebaiknya saya lakukan. Janganlah ragu-ragu dan jangan pikirkan perasaan saya. Katakanlah saja sejujurnya karena Allah menyukai kebenaran dan orang yang jujur. 

Kadang-kadang saya merasa seolah-olah saya sedang berlari maraton dengan tingkat energi yang saya perlukan untuk terus berlari… berlomba dengan pertanyaan-pertanyaan dari para Pencari Suaka yang terpenjara, dengan jawaban yang tidak jelas dari pihak berwenang, dengan cahaya redup lampu harapan yang membutuhkan minyak, yakni informasi yang tepat.

Surat Donya telah menjadi berkah bagi saya dalam perlombaan melawan ketidakpastian yang senantiasa ada. Kisahnya berlanjut: pada tahun 2010, ia diakui sebagai Pengungsi dan dibebaskan dari Rumah Detensi di Indonesia. Namun, ia memilih untuk tidak menunggu dan pergi ke Asutralia dengan menggunakan perahu. Di sana, ia kembali dipenjara selama hampir satu tahun, sampai akhirnya dibebaskan pada tahun 2011.

Selama berada di Rumah Detensi di Indonesia maupun Australia, Donya terus menulis surat untuk saya tentang apa yang dia pikirkan dan rasakan. Salah satu surat yang ia berikan kepada saya berjudul Tujuan Hidupku, telah menjadi minuman berenergi yang saya sukai di sepanjang lintasan maraton JRS yang saya alami.

Saya punya banyak keinginan. Pertama, saya ingin mendapatkan pendidikan, tak peduli berapa umur saya. Saya ingin menjadi pekerja sosial atau wartawan. Tujuan hidup saya adalah membantu orang miskin; melindungi mereka yang ada dalam bahaya; menunjukkan jalan yang benar dan terang; menyebarkan cahaya pendidikan; memberikan penampungan; membimbing orang muda… menyalakan lilin kasih, iman dan kepercayaan; mengusir kebencian dari muka bumi; menghapus air mata yatim-piatu, orang miskin, orang yang membutuhkan, dan para janda; memberikan senyuman kepada mereka yang tak pernah tahu bagaimana caranya tersenyum; bekerja bagi kemanusiaan. Hidup saya adalah keluarga saya. Saya tahu bahwa saya telah menyebutkan hal-hal yang mustahil. Namun saya percaya bahwa saya dapat mencapainya segera. Semoga Allah memberkati keluarga saya. Saya berdoa kepada Allah supaya dapat berjumpa kembali dengan keluarga saya, melindungi mereka, dan semoga kami segera berkumpul bersama. 

Keyakinan, keberanian, dan cinta Donya bagi keluarganya membuka jendela yang lain bagi saya ketika saya memandang ketidakpastian hidup. Ada kebijaksanaan di dalam ketidakpastian. Ia menciptakan lahan subur bagi kreativitas, kebebasan, dan peluang. Keyakinan Donya tentang hidup telah mengajari saya untuk tidak berusaha menukar ketidakpastian dengan masa depan yang jelas, melainkan untuk mencoba menikmati sepenuhnya kegembiraan, petualangan, dan misteri dalam setiap momen kehidupan, dan melihat apa yang ada di balik semua itu agar mengalami kebijaksanaan dalam ketidakpastian.

Taka Gani

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca