Empati Dion

Kamis, Juni 11th, 2015
Dionisius Waskita, terinspirasi oleh perjuangan dan semangat hidup para pengungsi dan pencari suaka.

Dionisius Waskita, terinspirasi oleh perjuangan dan semangat hidup para pengungsi dan pencari suaka.

Dion adalah salah seorang staf JRS Indonesia yang mendampingi pencari suaka dan pengungsi di Rumah Detensi Imigrasi Manado. Atas kerjasama antara Romo Rheinner Saneba Pr, dan Radio Montini Manado, Dion menuturkan refleksi dan pengalamannya di JRS. Melalui siaran Radio Montini Manado 106 FM pada tanggal 29 Januari 2015 lalu, Dion membagikan kisahnya:

Sejak kapan Anda bekerja di JRS, dan apa motivasi utamanya?

Saya mulai bekerja mendampingi para pencari suaka bersama JRS sejak Januari 2015.    Sebelumnya saya merupakan volunteer JRS untuk pengungsi (refugee) yang tinggal di Bantul, Yogyakarta. Beberapa pengalaman saya ketika menjadi volunteer membangkitkan motivasi saya untuk semakin memberikan perhatian kepada para pencari suaka. Motivasi tersebut muncul ketika saya menjadi guru bahasa Inggris bagi mereka. Saya melihat kegigihan dari para pengungsi untuk survive dari situasi hidup mereka yang berat. Dan yang paling penting, mereka mampu menerima dan bersyukur atas pengalaman hidup mereka. Para pengungsi mengajarkan banyak nilai kepada saya, yaitu di tengah situasi sulit yang mereka alami, mereka masih bisa tersenyum kepada kami para guru dan menceritakan pengalaman mereka yang beranekaragam. Tak sedikit dan bahkan mayoritas pengalaman itu bercerita tentang kisah- kisah pilu. Ada rasa haru dan malu di dalam diri saya pribadi ketika saya sering tidak bisa bersyukur seperti mereka. Hal inilah yang menjadi motivasi dasar saya menyanggupi untuk bekerja mendampingi mereka di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Manado. Selain hal tersebut, saya juga sudah menggeluti isu-isu tentang hak asasi manusia di dalam kegiatan perkuliahan saya. Dengan prinsip bahwa ilmu akan mati apabila tidak dipraktikkan, akhirnya saya menjawab tantangan yang ditawarkan JRS.

: Menemani dan mendengarkan berbagai kisah serta permasalahan para pengungsi dan pencari suaka membantu mereka untuk merasa bermartabat dan dimanusiakan. Hal ini merupakan bagian penting dari aktivitas pelayanan Dion bersama JRS.

Menemani dan mendengarkan berbagai kisah serta permasalahan para pengungsi dan pencari suaka membantu mereka untuk merasa bermartabat dan dimanusiakan. Hal ini merupakan bagian penting dari aktivitas pelayanan Dion bersama JRS.

 

Hal apa yang paling berkesan selama bergabung di JRS? Pernahkah Anda mengalami situasi sulit, dan bagaimana mengatasinya?

Saya belajar banyak dalam mendampingi para pengungsi ketika membantu menjadi guru bahasa Inggris bagi mereka. Sebuah pengalaman yang cukup sederhana, namun bagi saya cukup memberikan efek luar biasa, yaitu ketika saya mengajari seorang pengungsi Afghanistan yang sudah cukup berumur. Beliau bisa dikatakan seumuran dengan kakek saya. Oleh karena situasi tidak memungkinkan beliau tinggal di negaranya, ia melarikan diri untuk mencari suaka. Beliau sama sekali tidak bisa bicara bahasa Inggris. Ketika itu, saya mulai memberi pelajaran menulis alfabet yang ternyata tidak cukup mudah ia pelajari. Namun, keteguhan hatinya yang mau terus belajar, membuat saya secara pribadi tidak lelah untuk melatih belajar alfabet.

Kendatipun beliau sudah cukup tua dan daya tangkap belajarnya tidak sebaik yang lain, beliau tetap menunjukkan usaha mempelajari alfabet. Pengalaman ini mengajarkan kepada saya tentang sebuah nilai perjuangan. Manusia memiliki pilihan untuk menyerah dan bangkit, namun Pak Hakeem* memilih untuk bangkit dan berjuang sesuai kemampuannya.

Pengalaman paling tragis ketika saya menjadi guru bahasa Inggris adalah ketika saya mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan salah satu pengungsi. Seringkali teman-temannya menyebutnya sebagai orang yang autis dan ia dijauhi teman-temannya. Ia seringkali temperamental dan sikapnya tidak dapat ditebak. Untuk berkomunikasi dengannya, saya lebih banyak mendengarkan. Hal ini ternyata cukup membantu, setidaknya dia merasa lebih diterima mengingat teman-temannya juga menjauhinya. Saya berkeyakinan bahwa setiap orang hanya perlu didengarkan dan saya memutuskan untuk memutus anggapan teman-teman yang lain bahwa dia adalah orang yang autis. Saya memposisikan diri untuk menjadi seseorang yang bisa menjadi pendengarnya. 

Apa harapan Dion untuk pekerjaan yang dijalani sekarang?

Saya berharap bahwa pekerjaan ini mampu melatih saya untuk mengembangkan kapasitas pribadi untuk semakin bisa memahami orang lain. Yaitu, dengan memanfaatkan pengetahuan yang telah saya dapat. Dengan begitu, saya mampu untuk terus-menerus belajar, tidak hanya melakukan tanggung jawab pekerjaan, namun lebih jauh lagi, mampu menjadi teman bagi pencari suaka.

Lalu, harapan apa yang Dion miliki untuk orang-orang yang didampingi, juga pemerintah dan masyarakat luas?

Saya berharap para pencari suaka yang saya dampingi mampu mendapatkan apa yang mereka impikan. Mereka telah bergelut dengan pengalaman hidup yang sulit, dan saya berharap Tuhan mengabulkan permohonan mereka, meskipun saat ini harus tetap bersabar. Saya juga memiliki harapan bahwa di dalam masa penantian mereka di Indonesia, mereka mampu berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan positif untuk sedikit menyembuhkan kepedihan pengalaman- pengalaman mereka.

Semoga kehadiran kami juga dapat memberi wawasan bagi orang-orang lain yang ada di Indonesia: pemerintah, warga sekitar, orang muda, dan siapa pun yang berkehendak baik agar mampu membuka mata melihat adanya fenomena yang lain di sekitar kita.

Paus Fransiskus dalam peringatan Hari Kaum Migran dan Pengungsi Sedunia 2015 menyatakan bahwa Kristus menunggu untuk dikenali dalam diri kaum migran dan pengungsi. Saya berharap pendampingan JRS mampu memberikan public awareness terkait dengan isu ini.

*Hakeem bukanlah nama sebenarnya.

Dionisius Waskita Cahya Gumilang

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca