Hari-hari Kami Terasa Berbeda Karena Kehadiranmu

Senin, Desember 10th, 2012

Hidup kami terasa berbeda karena kehadiranmu.
Saya mempunyai tiga orang anak perempuan, coba bayangkan!
Saya hanya memiliki satu anak laki-laki. Terima kasih Kak!
 
Terima kasih atas kunjunganmu. Lain waktu silakan berkunjung lagi. Doakanlah kami.
Meskipun kamu tak membawa apa-apa, itu bukan masalah,
kehadiranmu sudah cukup bagi kami…kepada siapa lagi kami percaya?
Kami percaya kepadamu.
Tolong doakanlah kami supaya kami segera keluar dari sel ini.
 
Kami tak memiliki negara, kami tidak aman di manapun, polisi selalu mencari kami. Bagaimana mungkin kami dapat tidur nyenyak, bahkan untuk tidur pun kami tak bisa. Di manapun selalu ada masalah, masalah!!!

Sr. Anna & Sr. Happy mengunjungi deteni dua kali seminggu

Begitulah pernyataan para deteni yang saya kunjungi di salah satu Rudenim di Indonesia. Saya memendamnya di dalam hati meskipun saya berupaya untuk tetap mengambil jarak secara emosional, agar tetap obyektif dan tetap berakar pada semangat JRS, dan membawanya di dalam doa. Pada malam-malam tertentu saya bangun untuk merenungkan pengalaman mereka dengan keinginan kuat agar mereka merasakan bahwa saya solider terhadap mereka serta tidak merasa asing dengan penderitaan dan kerinduan mereka. Mendengarkan pernyataan mereka itu bisa membuat saya terhibur maupun sedih. Memberikan solusi bagi masalah mereka atau bahkan menjawab kebutuhan-kebutuhan kecil mereka, merasa marah terhadap ketidakadilan yang mereka alami, adalah sebagian dari tantangan yang saya alami. Namun di sisi lain, rasa syukur, keterbukaan dan rasa percaya mereka telah membuat saya tersentuh, dan membantu saya untuk tetap bersemangat mengunjungi mereka. Dan sepertinya justru merekalah yang memberi saya harapan dan saya harus mengakui bahwa mereka menguatkan iman saya kepada Allah dan membantu saya untuk mempercayakan diri mereka kepada Allah dalam iman dan doa!

Saya mulai terlibat sebagai sukarelawan di JRS sejak bulan Juli 2012 yang lalu. Saya berkunjung ke sana sekali seminggu dan kadang-kadang dua kali seminggu bersama dengan teman-teman komunitas biara saya. Kami diminta untuk memberikan perhatian khusus kepada para perempuan dan anak-anak dengan cara berbincang bersama mereka dan melayani konseling informal. Saat kunjungan pertama, saya merasa sedikit kaget. Pertama, itulah pertama kalinya saya berada di dalam sel detensi. Kedua, suasananya mirip sel penjara karena mereka dikunci di dalam. Ketiga, sel itu hampir dipenuhi oleh lelaki yang berlalu-lalang dengan beragam warna kulit dan wajah yang “keras”. Keempat, saya melihat perempuan-perempuan yang mengandung dan beberapa perempuan lain, anak-anak dan bahkan bayi. Kelima, secara keseluruhan kenyataan itu sangat mengejutkan! Yah, untuk yang pertama kali seperti saya ini, sungguh-sungguh mengejutkan, saya mendengar tentang mereka melalui berita namun sungguh berbeda ketika anda benar-benar berada di sana.

Saat kunjungan pertama itu, kami diterima secara hangat oleh sebuah keluarga dari Myanmar. Kami diminta untuk masuk ke dalam sel mereka, kami berbincang-bincang meskipun mereka tidak terlalu mahir berbahasa Inggris namun mereka mencoba untuk berbicara dengan bahasa Indonesia dan bahas Inggris patah-patah. Waktu berlalu cepat, kami bahkan tidak menyadari bahwa ternyata kami telah berbincang bersama selama hampir dua jam. Sungguh menyenangkan bersama mereka. Lalu, terjadilah kunjungan kedua, ketiga dan seterusnya. Ada yang mengganggu saya selama kunjungan itu: beberapa keluarga selalu menyediakan dua kantong plastik berukuran sedang yang penuh dengan makanan. Hal itu membuat saya merasa malu, tidak nyaman, dan bingung. Jika saya menolaknya, mereka mungkin akan merasa tersinggung dan sebaliknya jika saya menerimanya, itu mungkin akan membantunya merasa lebih baik, mereka bukanlah orang yang harus dikasihani dan mereka masih memiliki “kekuatan” karena mereka masih dapat berbagi. Sungguh sangat menyenangkan dan melegakan ketika dalam kunjungan berikutnya, saya tidak lagi bertemu keluarga yang biasanya saya kunjungi. Mengapa? Karena mereka telah dibebaskan.

Kisah-kisah kaum perempuan dalam sejarah biasanya dipenuhi dengan petualangan, kepahlawanan dan cinta, dan demikianlah juga halnya dengan kisah kaum perempuan di dalam sel detensi. Jika anda mendengarkan kisah-kisah mereka, hati anda pasti akan sedih namun anda akan dipenuhi dengan kegembiraan karena kemampuan mereka untuk berharap, tertawa, mencintai dan berkorban. Dengarkanlah mereka, maka kehadiran kita akan membuat sesuatu yang berbeda bagi hidup mereka. Mereka merasakan kepedulian dan ketulusan kita karena rasa percaya itu muncul secara alami dan mereka menjadi lebih terbuka terhadap hal-hal yang lebih bersifat pribadi seperti bagaimana kita memandang kehidupan, orang tua, keluarga dan beberapa hal pribadi. Tentu saja masih ada kisah-kisah yang tetap tak terkisahkan dan sebagian kisah mereka, saya simpan di dalam hati saya.

Hampir enam bulan saya menjadi sukarelawan JRS. Apa yang saya alami telah mengajari saya untuk membuka mata bagi kenyataan hidup para deteni yang jauh lebih luas yang ada di bagian kecil dunia ini. Mereka telah mengajari saya untuk terus-menerus berharap dan terus-menerus berdoa serta lebih dari semua itu, untuk senantiasa solider dengan mereka. Saya juga ikut mengambil bagian dalam keprihatinan mereka serta secara khusus menjadi bagian dari keberadaan mereka. Sungguh, bagaimanapun juga ini merupakan pengalaman yang menegangkan terutama saat ini ketika kita mengetahui lebih banyak kenyataan dan entah bagaimana masuk ke dalamnya. Ketidakadilan semakin lama semakin berkembang dan ada perasaan terperangkap. Di satu sisi saya melihat ketidakadilan dan di sisi lain saya tidak berdaya dalam pengertian bahwa keseimbangan dan netralitas harus ditegakkan. Saya tidak dapat mengelak untuk terlibat meskipun ada seruan kuat agar mengambil jarak secara emosional dan melepaskan semuanya. Saya mengalami semacam kemiskinan saat tidak berdaya namun saya dipenuhi dengan harapan bahwa kehadiran kita, kehadiran JRS tidaklah sia-sia. Kita tidak menutup mata terhadap kebenaran namun kita memilih untuk mengisi waktu kita bersama mereka dan tetap berharap bersama mereka. Mendengarkan, berdoa dan berpasrah. Saya hanya melakukan apa yang dapat kita lakukan dan selebihnya kita serahkan kepada Allah.

Kehadiran kita sebagai sukarelawan telah menciptakan perbedaan dalam hidup mereka dan demikian juga dengan saya: mereka telah membuat hidup saya berbeda.***

Anna Liza

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca