Hentikan Pendetensian Anak

Senin, April 15th, 2013

Seorang anak di Rumah Detensi

Kami terpaksa lari dari rumah secara sembunyi-sembunyi. Untuk sementara istri saya masih tinggal di Srilanka. Kami takut, mereka akan menculik dan membunuh kami. Terutama saya takut kalau mereka akan menculik anak saya dari sekolah. Maka saya lari bersama anak saya,” cerita Magedara, 50 tahun, ayah dari Lavindra. Tinggal di rudenim merupakan pengalaman yang sulit bagi Lavindra. ”Di sini tidak enak, tidak bisa sekolah dan bermain ke mana-mana. Makanan tidak enak, saya tidak bisa tidur bersama mama”.

“Anak saya selalu merindukan mamanya, setiap hari ia bilang ingin pulang dan mau dekat dengan mamanya. Ia ingin sekolah lagi bersama teman-temannya seperti dulu. Saya berharap dia bisa bertemu mamanya secapatnya, di mana pun tempatnya, sekalipun harus bertemu di Rudenim,” kata Magedara tentang anaknya.

Kisah pelarian Lavindra dan ayahnya adalah salah satu dari sekian banyak kisah lain yang membuat anak-anak yang masih polos dan lugu itu, meninggalkan kampung halaman dan teman bermainnya, meninggalkan sekolah dan mimpi tentang cita-citanya. Ancaman persekusi hingga pelanggaran HAM yang serius, ketiadaan jaminan perlindungan dari pemerintah, dan trauma yang membuat enggan untuk kembali lagi,  telah memaksa mereka menempuh perjalanan penuh tantangan hingga akhirnya merasakan Rudenim yang penuh sesak.

Selain Lavindra, ada banyak anak lain yang tinggal di Rudenim. Misalnya, Mohammad (Myanmar, 7 tahun), Ra’idah (Srilanka, 8 tahun), Aisah (Myanmar, 8 tahun), dan yang lainnya, yang jumlahnya sekitar 30 anak. Mereka selalu mengungkapkan kerinduannya untuk bermain bersama teman-temannya dan untuk pergi ke sekolah, belajar matematika, belajar menggambar dan banyak keinginan lain. Semua kerinduan itu sekarang tertahan di Rumah Detensi Imigrasi.

Tinggal di Rudenim bagi anak-anak pengungsi dan pencari suaka, merupakan mimpi buruk yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Rudenim yang berkapasitas 80-100 orang, kini dihuni oleh lebih dari 258 orang dari berbagai Negara. Kaki lima dan semua ruang yang terhindar dari hujan serta terik matahari menjadi pilihan satu-satunya untuk tempat tinggal bagi para deteni yang kurang beruntung dan tidak mendapat kamar di Rudenim. Berbagai persoalan lain muncul karena situasi ini, mulai dari persoalan air dan sanitasi hingga tempat untuk menjemur, mencuci, mandi, minum dan menyimpan barang-barang. Sekarang ini Rudenim sangat kumuh. Di situlah anak-anak hidup dan bermain, menonoton televisi, membaur dengan ratusan orang yang mayoritas dewasa dan laki-laki, yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan bahaya bagi anak-anak itu.

Penempatan anak-anak di Rumah Tahanan Imigrasi, tampaknya tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Negara-negara lain, banyak juga anak-anak yang mengalami nasib sama. International Detention Coalition (IDC), sebuah jejaring lembaga nirlaba yang secara khusus memberi perhatian kepada perlindungan hak-hak para pengungsi dan pencari suaka di Rumah Detensi Imigrasi, sejak Maret 2012 lalu telah melaksanakan berbagai kegiatan untuk mendorong Negara-negara mengakhiri pendetensian bagi anak-anak. IDC bersama jejaring di berbagai Negara termasuk JRS Indonesia mendorong agar pendetensian anak-anak segera dihentikan karena hal itu membuat anak-anak menjadi lebih rentan. Anak-anak di dalam detensi akan mengalami berbagai gangguan bagi pertumbuhan pribadinya, baik itu gangguan fisik maupun kejiwaan. Banyak anak tidak didampingi oleh orangtua atau keluarga yang merawatnya sehingga mereka rentan mengalami kekerasan seksual dan tidak mendapatkan layanan kesehatan yang memadai maupun layanan pendidikan.

Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-hak Anak Tahun 1989, pasal 22 (1) menyatakan “Negara-negara Pihak harus mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjamin bahwa seorang anak yang sedang mencari status pengungsi atau yang dianggap sebagai pengungsi, sesuai dengan hukum dan prosedur internasional atau domestik yang berlaku, apakah tidak diikuti atau diikuti oleh orang tuanya atau oleh orang lain mana pun, harus menerima perrlindungan yang tepat dan bantuan kemanusiaan dalam perrolehan hak-hak yang berlaku yang dinyatakan dalam Konvensi ini dan dalam instrumen-instrumen hak-hak asasi manusia atau kemanusiaan internasional yang lain, di mana Negara-negara tersebut merupakan pesertanya.”  Karena Indonesia merupakan negara pihak dari konvensi ini, mengeluarkan anak-anak dari detensi dan menyediakan ruang yang lebih ramah bagi mereka, agar seluruh hak-haknya yang dijamin oleh Konvensi Internasional itu terpenuhi, merupakan keharusan yang tak dapat ditawar. Hentikan pendetensian anak sekarang juga!!

Silvester Gultom

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca