Ketika Sekat Menghilang

Selasa, Juni 11th, 2013

Deteni mengungkapkan protes melalui lukisan di dinding sel

Di beberapa Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim), nasib para Pencari Suaka dan Pengungsi seringkali tak jauh berbeda dengan pelaku tindak kriminal, yakni dikurung di balik jeruji besi dan tak memiliki kebebasan untuk melakukan aktivitas. Situasi itu dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa kepastian kapan akan berakhir. Padahal mereka bukan pelaku tindak kriminal. Mereka adalah pembawa hati yang mendamba perdamaian, cinta, persahabatan, dan martabat hidup. Di tengah keseharian yang sedemikian itu, pengalaman kecil dan sederhana yang menghadirkan damai, cinta, persahabatan, dan martabat, akan menjadi pengalaman yang sangat berharga.

Wisnu Bawana, staf salah satu dari 13 Rumah Detensi Imigrasi di Indonesia ini tampak terkejut ketika sebuah bola menimpa wajahnya. Ia mencari tahu siapa pelempar bola itu. Seorang deteni remaja hanya tersenyum iseng di depannya. Mengetahui bahwa deteni belasan tahun itulah yang melempar bola, Wisnu pun mengejarnya dan berusaha membalas. Zaidan, deteni remaja itu hanya tertawa lebar sambil berlari menghindar.

Barangkali ceritanya akan berbeda jika hal itu terjadi di Rudenim. Peristiwa menggelikan itu terjadi di kolam renang di sebuah lokasi wisata. Di kolam renang yang bening kebiruan itu, para deteni, staf jaga dan beberapa pejabat Rudenim sedang asyik bermain bola air. Anggota tim bola air yang bertanding pun berkomposisi campuran antara deteni dan staf imigrasi. Skor kemenangan tidak terlalu menjadi perhatian, karena sebagian dari mereka lebih menikmati permainan saling melempar bola ke arah lawan dalam gurauan. Nyaris tak ada suasana kaku, segan atau kikuk. Tak ada lagi yang namanya pejabat dengan segala kewenangannya, staf keamanan dengan pandangan mata curiga, atau deteni yang berwajah murung dan tertekan. Semua bermain dan bersenang-senang, menjadi Homo Ludens, makhluk yang bermain untuk mencari kebahagiaan, seperti kata filsuf Huizinga. Seolah-olah semuanya kembali pada masa kanak-kanak, ketika bermain hanya punya satu kepentingan yaitu untuk bergembira.

Sabtu yang cerah itu menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi 20 orang deteni di Rudenim. Ditemani oleh beberapa pejabat Rudenim, mereka mendapat kesempatan untuk sejenak menjauh dari tembok, jeruji dan kawat berduri di Rudenim. Kegiatan rekreasi ini pada dasarnya merupakan usulan dari pihak Rudenim, yang mengkomunikasikannya kepada JRS dan IOM. Melalui beberapa rapat koordinasi, kegiatan ini mendapat rekomendasi dan disetujui oleh pihak Rudenim.

Dalam beberapa kali pertemuan, pihak Rudenim mengatakan bahwa kegiatan rekreasi yang pertama kali ini akan menjadi ajang ujicoba. Jika berjalan lancar sesuai dengan prosedur keamanan, tanpa ada deteni yang melarikan diri, maka Rudenim akan merekomendasikan kegiatan ini menjadi kegiatan rutin. Namun jika ada deteni yang memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri, tak akan pernah ada lagi kegiatan rekreasi semacam ini.

Syukurlah, kekhawatiran itu tak terbukti. Yang muncul justru keceriaan, keakraban dan pudarnya sekat di antara staf Rudenim dan deteni. Tidak hanya saling bercanda saat bermain bola air, deteni dan staf Rudenim pun menunjukkan kerjasamanya saat bermain di beberapa wahana lain di kompleks kolam renang tersebut. Pejabat Rudenim tak segan menggotong perahu karet bersama para deteni, menaiki puncak seluncuran, lalu terjun dan tercebur ke kolam bersama-sama. Mereka juga bersama-sama membuat semacam kereta manusia, duduk berbaris dan berpegangan tangan, lalu menjerit histeris saat melewati kelokan-kelokan di peluncuran. Para staf jaga yang tadinya berpencar di berbagai sudut kolam renang sambil penuh waspada mengawasi para deteni, lama-kelamaan tidak tahan juga dan ikut nyemplung ke dalam kolam biru segar itu. Tak ada lagi yang mengawasi dan diawasi. Semuanya menginginkan satu hal, kegembiraan.

Setelah makan siang yang penuh keakraban, salah seorang deteni menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada Rudenim, JRS dan IOM atas kesempatan yang ia dapatkan pada hari itu. Deteni lainnya mengungkapkan rasa terimakasih dengan memeluk para pejabat dan staf Rudenim yang disambut dengan penghargaan yang sama tulusnya. Dalam perjalanan pulang, para deteni masih diberi “kejutan”, yakni tidak langsung menuju ke Rudenim, melainkan diajak berkeliling menikmati pemandangan pegunungan dan berfoto bersama para petugas Rudenim.

Di tengah perjalanan pulang, Haidar mengatakan bahwa meskipun harus kembali ke ruangan yang terkunci, hari itu adalah hari yang luar biasa baginya. “Forget detention. Forget everything. Today is wonderful day”. Hari itu, kegembiraan dan kebahagiaan, menghancurkan sekat-sekat yang selama ini membatasi. Semoga perangkat hukum di Indonesia semakin memungkinkan disingkirkannya jeruji besi dari kehidupan Pencari Suaka dan Pengungsi.

Saefudin Amsa


Semua nama petugas dan deteni dalam narasi ini adalah nama samaran

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca