Mutiara Hidup

Rabu, Juni 13th, 2012

Kedalaman dan keindahan di mata sang pecinta

Mereka pemimpi dan pecinta yang menempuh jarak ribuan mil menuju Australia. Semua dilakukan karena cinta. Haruskah kita memberi hinaan, ketidakadilan, ketidakpastian pada orang-orang yang mendaraskan cinta dalam kehidupan mereka.

Engkau tak dapat menyelamatkan seorangpun yang tak dapat diselamatkan
Engkau tak dapat melakukan apapun kecuali belajar menjadi dirimu saat itu
Engkau tak dapat mengetahui segala yang tak dapat diketahui
Engkau tak dapat melihat segala yang tak ditampakkan
Engkau tak dapat berada di suatu tempat yang tak ditakdirkan bagimu
(All you Need is Love by The Beatles)

Selama setahun belakangan ini, saya dan teman saya mengunjungi para pencari suaka dan pengungsi yang berada di salah satu dari 13 rumah detensi imigrasi di Indonesia, berbagi suka dan duka bersama mereka, dan seringkali kami hanya dapat memberikan hati kami untuk mendengarkan segala keluh kesah mereka. Suatu hari ketika mendengarkan lagu yang dibawakan oleh Beatles, terasa sekali seolah-olah lagu itu mewakili perasaan dan suasana batin mereka. Pada kesempatan ini, saya ingin membagikan sebagian dari pikiran dan pengalaman mereka kepada Anda dengan harapan semoga pengalaman mereka dapat memberikan inspirasi  yang menumbuhkan perhatian kepada mereka yang terlupakan di balik jeruji besi.

“Mengapa mereka melakukan ini terhadap saya?” cetus seorang deteni. Wajahnya kusut. Suaranya parau. Matanya kosong menatap dinding kamar yang kecoklatan menampakkan tubuh yang pasrah. Seorang deteni lain bersimpuh di lantai beralas koran. Bulir-bulir darah menetes dari dahi yang robek. Serpihan gelas melantai di sudut-sudut kamar. “Jika mereka ingin memindahkan saya ke Pontianak, silakan ambil mayat saya,” lantang deteni yang lain lagi. Detak kebingungan, kemarahan dan rasa pasrah melangit di Rumah Detensi Imigrasi pagi itu. Sepuluhan polisi yang mengawal proses pemindahan berdiri mematung. Senjata tersampir di pundak tanpa perlu diletuskan. Mungkin ini kali pertama mereka melihat pengalaman pilu putus asa orang-orang yang tersingkir dari tanah lahirnya. Para pencari suaka ini melawan ketidakadilan dengan caranya sendiri; melukai diri. Hidup bagi mereka memang tidak adil. Tanpa alasan yang jelas mereka menjadi sasaran kemarahan kelompok-kelompok tertentu atas nama ‘kebenaran’. “Mereka mengatakan bahwa mereka adalah Muslim, namun apa yang mereka lakukan kepada kami sangat jauh dari apa yang diajarkan oleh Nabi kami Muhammad,” kata salah seorang pencari suaka. Dalam perjalanan menuju suaka yang menjanjikan damai dan cinta, mereka menghadapi wajah dunia yang tidak berbelas kasihan. “Saya bertemu seseorang dari Indonesia di depan kantor UNHCR di Jakarta. Dia berjanji membawa saya ke Australia secara langsung melalui Surabaya. Kami pergi ke Surabaya naik bus, namun di dalam bus dia mengambil uang dan passport saya. Saya kehilangan dia di Surabaya,” tutur deteni asal Iran. Hidup bagi deteni penuh dengan pertanyaan mengapa. Jawaban yang jelas dan jujur menjadi kemewahan buat mereka. Baba dalam novel karya Khaled Hosseini, The Kite Runner mengatakan bahwa kejahatan terbesar dalam hidup adalah mencuri. Membunuh adalah mencuri hak hidup orang lain. Berbohong artinya mencuri hak orang atas kebenaran.

“Chitori, hubbi? Tasyakur, alhamdulillah,”[1] tutur pencari suaka asal Afghanistan sambil mengatupkan tangan di dada. Ia meninggalkan istri dan 11 anaknya di Afghanistan. “Saya meninggalkan Afghanistan karena sekelompok orang mendatangi rumah dan mengatakan bahwa kami tidak berhak tinggal di sana. Mereka membunuh saudara saya dan memukuli saya dengan kayu,” paparnya. Ia sangat sayang pada keluarganya dan rela meninggalkan keluarga di usianya yang tidak lagi muda untuk mencari damai di negeri orang. “Saya ingin membawa keluarga  ke Australia,” sambungnya.

Setiap orang memiliki kisah yang berbeda. Namun di balik semua kisah itu ada kerinduan tentang cinta dan damai. “Saya meninggalkan anak-anak saya di Afghanistan. Saya merindukan mereka setiap hari. Sejak meninggalkan Gazni saya kehilangan kontak dengan mereka. Saya melakukan ini demi keluarga saya karena saya mencintai mereka,” ungkap pencari suaka yang lain lagi. Kisah-kisah tersebut merangkai perasaan-perasaan tersembunyi, konflik batin, impian dan harapan. Kita tidak akan menemukannya di balik senyum dan pelukan hangat mereka setiap kali bertemu. Saat ini, rasa itu adalah harta terpendam mereka setelah kehilangan segalanya. Harta yang harus digali dengan cinta. Untuk melihat yang tidak ditampakkan, yang kamu butuhkan adalah cinta

Kita membutuhkan cinta untuk menemukan harta yang berkelimun di bawah setiap pertanyaan, keraguan, ketakutan dan ketidakpastian. Mereka lebih dari sekadar orang-orang tak berdaya yang menunggu belas kasihan kita. Menemukan harta berarti menemukan cinta dan impian. Menemukan api yang selalu mengobarkan harapan mereka setiap hari. “Saya sedih ketika meninggalkan orangtua dan saudari saya. Ibu saya menangis sepanjang malam. Namun saya tahu bahwa dengan cara ini saya dapat bertemu mereka kembali dalam kehidupan yang lebih baik,” tutur remaja 15 tahun yang harus meninggalkan keluarganya di Quetta. Keinginan terbesar mereka adalah berkumpul kembali dengan keluarga setelah menemukan kembali damai dan cinta. Saat ini, ketika harapan itu belum terwujud, perasaan cinta yang bergejolak diungkapkan lewat sajak, tulisan, gambar atau luapan emosi atas ketidakadilan yang mendera. Semua karena cinta. “Kekasihku, engkau seumpama madu, ketika kukecup bibirmu, hatiku merasakan manismu. Tatapan matamu adalah mutiara dalam hidupku. Engkau memelukku dalam kerinduan saat aku jauh darimu,” tulis pencari suaka dalam sajak-sajaknya untuk istri tercinta.

Mereka bukan pesakitan. Mereka pemimpi dan pecinta yang menempuh jarak ribuan mil menuju Australia. Mereka meninggalkan keluarga di tengah perang dan menyerahkan diri pada janji orang yang tidak dikenal. Semua dilakukan karena cinta. Haruskah kita memberi hinaan, ketidakadilan, ketidakpastian pada orang-orang yang mendaraskan cinta dalam kehidupan mereka.

“Kami tidak bisa memaksa mereka karena mereka bukan pelaku kriminal atau tahanan,” tegas petugas keamanan ketika diminta memaksa deteni pindah ke Rumah Detensi yang lain.

Paulus Enggal


[1] Apa kabar? Baik? Terimakasih, alhamdulillah

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca