Pelajaran dari Pencari Suaka di Rumah Detensi

Selasa, September 24th, 2013

Deteni dengan gembira berbagi meskipun dari balik jeruji

Belum banyak orang mengetahui bagaimana para pencari suaka menjalani kehidupan mereka sehari-hari di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim). Setelah menempuh jarak ribuan kilometer dan perjalanan penuh bahaya demi mencari keamanan dan kehidupan yang lebih baik, mereka justru kehilangan kebebasan dan hidup di balik jeruji besi. Tidak semua orang memahami alasan kedatangan dan keberadaan mereka. Para pencari suaka ini sering dianggap sebagai pembawa masalah dan merepotkan banyak pihak.

Sebenarnya, Pencari Suaka adalah manusia yang memiliki cinta dan kebesaran hati, membutuhkan perhatian dan kepedulian dari orang-orang di sekeliling mereka. Banyak kejadian di Rudenim menggambarkan betapa solidaritas dan semangat berbagi tetap tumbuh dalam diri mereka meski harus menjalani hidup di tengah keterbatasan akses dan kebebasan.

Pada peringatan tahun baru Naw Ruz (tahun baru tradisional Persia), para deteni asal Afghanistan dan Iran beramai-ramai mengumpulkan uang untuk membeli empat ekor kambing. Mereka kemudian meminta tolong kepada para staf jaga rumah detensi untuk menyembelih kambing tersebut dan membagikan dagingnya kepada warga desa di sekitar Rudenim. Mereka sendiri tak menikmati sepotong daging pun. Menurut Haseem Ahmadi, tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak berkorban meskipun sedang berada dalam situasi yang sulit. “Bagi kami itu adalah bentuk ketaatan dan pengorbanan. Pengorbanan dengan berbagi kepada orang lain. Itu sudah menjadi kebiasaan kami”

Hal yang sama juga mereka lakukan saat peringatan malam Lailatul Qadar (malam keutamaan) di bulan Ramadhan kemarin. Sebagaimana tradisi di negara asal, para pencari suaka asal Afghanistan dan Iran itu merayakannya dengan tradisi berbagi. Mereka membeli makanan dan minuman untuk dibagikan kepada seluruh deteni. Berbagi adalah semangat utama dalam perayaan mereka.

Semangat berbagi itu juga ditunjukkan oleh para deteni asal Sri Lanka saat merayakan Citthirai Puthandu (tahun baru tradisional mereka) pada bulan April 2013. Awalnya pihak Rudenim belum mengizinkan perayaan hari besar itu karena bertepatan dengan hari Minggu saat Rudenim dalam keadaan libur. Namun para deteni Sri Lanka tetap merayakannya secara khidmat meskipun sederhana, yakni dengan cara membuat kopi panas dan membagi-bagikannya kepada deteni lain di ruangan masing-masing. Ketika pihak Rudenim memberi kesempatan kepada mereka untuk merayakannya secara bersama-sama, beberapa deteni Sri Lanka berinisiatif memasak makanan khas mereka dan kemudian menikmatinya dengan staf Rudenim dan semua deteni.

Semangat berbagi juga mereka tunjukkan dalam kegiatan sehari-hari. Sudah menjadi kebiasaan umum di Rudenim, mereka yang mendapat giliran berkegiatan di luar ruangan harus membantu deteni yang terkunci di dalam jeruji. Dengan penuh sukacita, deteni yang berada di luar melayani rekannya yang di dalam ruangan, mulai dari menjemurkan baju, mengambilkan air minum, memanggilkan penjaga untuk mengalirkan air kamar mandi, atau sekedar menjadi kurir dengan menyampaikan pesan dari satu deteni ke deteni lainnya di kamar berbeda. Semangat saling melayani muncul tanpa melihat latar belakang masing-masing yang berbeda.

Para pencari suaka yang berada di balik jeruji itu telah menunjukkan kemuliaan hati yang begitu besar dan luar biasa. Di tengah situasi yang sulit, mereka tetap peduli pada orang-orang di sekitar mereka yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya. Secara fisik, jeruji besi membatasi mereka dengan dunia luar. Dunia yang sebelumnya mereka kenal sangat luas, kini hanya seluas beberapa ratus meter persegi. Bagi para pencari suaka asal Afghanistan, dunia mereka sebelumnya adalah kota Kabul yang sibuk, danau Gargha yang indah sebagaimana digambarkan Khaled Hosseini dalam novel The Kite Runner, dunia yang membentang luas dari Herat di sebelah barat sampai ke pegunungan Hindu Kush di timur yang pernah menjadi bagian dari Jalur Sutera yang legendaris itu. Bagi orang-orang Iran dan Irak, dunia mereka adalah seluas imajinasi yang digambarkan dalam kisah-kisah seribu satu malam. Sementara bagi orang-orang Sri Lanka atau Rohingya, dunia adalah tempat di mana mereka bisa mendapatkan pengakuan dan kehidupan yang lebih baik.

Namun kini hanya jeruji besi yang mereka lihat sehari-hari. Pagi dan siang tiada berbeda. Yang mereka hadapi sehari-hari hanyalah puluhan penjaga berseragam biru tua yang mengantarkan makanan, sirine yang meraung tanda mereka boleh sejenak menghirup udara segar atau sebaliknya tanda mereka harus masuk kembali di balik jeruji, dan keheningan serta lampu sorot yang terus menerangi sudut-sudut gelap rumah detensi di malam hari. Sebagian dari mereka menganggapnya sebagai masa sulit. Sebagian yang lain menganggapnya sebagai episode hidup yang harus dijalani.

Tak ada yang mampu mengubah solidaritas dan ikatan terhadap dunia di sekitar mereka. Dunia sempit di dalam atau di luar rudenim yang nyaris tak pernah mereka lihat adalah dunia yang sama dengan yang ada di negara asal mereka. Orang di sekeliling adalah saudara, sama seperti orang-orang di tanah kelahiran. Itulah yang membuat mereka selalu menyambut kedatangan kami dengan pelukan hangat, mengucapkan doa keselamatan, atau sekedar membagi satu kotak susu. Cinta membuat mereka beramai-ramai mendonorkan darahnya, atau bersikap ramah dan memberikan apa yang mereka miliki kepada para penjaga yang siang malam menemani mereka setiap hari.

Jika para para pencari suaka itu, yang datang dari jauh dan tidak mengenal kita sebelumnya mau memberikan hati dan cinta mereka, maka sudah selayaknya pula jika kita mengenal dan peduli terhadap mereka.***

Saefudin Amsa

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca