Pengalaman dan Pembelajaran bersama JRS

Senin, November 7th, 2016
p_20160607_092553

Grace, Information Advocacy Officer untuk JRS Manado

Nama JRS sudah saya dengar sejak tahun kedua kuliah, saat mengikuti salah satu seminar di kampus oleh seorang staf JRS tentang Kampanye Anti Ranjau Darat. Informasi mengenai JRS semakin bertambah saat saya mendapat kesempatan berkunjung ke kantor nasional JRS bersama teman-teman MAGIS Yogyakarta, sebuah komunitas pendampingan anak muda Katolik yang yang berbasis spiritualitas Ignatian. Saya makin mengenal isu kepengungsian dan karya pelayanan JRS, khususnya bagi pengungsi dan pencari suaka di Indonesia.

Beberapa teman di MAGIS telah menjadi relawan JRS untuk pelayanan pengungsi di Asrama Haji Yogyakarta. Dari mereka, saya mendengar banyak pengalaman berharga yang didapat melalui perjumpaan dengan para pengungsi. Timbul dorongan dalam diri saya untuk mengunjungi para pengungsi dan keinginan untuk mendaftarkan diri sebagai relawan. Namun, masih ada kekhawatiran jika saya tidak bisa sungguh-sungguh menjalankan tanggung jawab sebagai relawan, karena saat itu sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah. Pada pertengahan September 2015, saya terlibat dalam kegiatan penggalangan dana JRS dan sejak itu saya memutuskan untuk menjadi relawan pengajar JRS. Di tahun ini, saya bergabung dalam pelayanan JRS di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Manado untuk menemani pengungsi dan pencari suaka di sana.

Selama bergabung di JRS, saya diperkaya dengan pengalaman dan pembelajaran. Berjumpa dengan pengungsi dan pencari suaka menunjukkan pada saya bagaimana sebuah harapan harus tetap diperjuangkan, meskipun dalam situasi sulit. Di Yogyakarta, saya mengajar seorang pengungsi asal Myanmar. Sosok yang kami panggil ‘Paman’ ini selalu tampak ceria. Usianya yang sudah 44 tahun tidak menghalangi semangatnya untuk tetap belajar karena ia punya harapan akan kehidupan yang lebih baik suatu saat nanti bila diterima di negara ketiga. Melalui pengalaman ini, saya ditarik kembali pada ingatan akan dua orang teman pengungsi asal Afghanistan yang pada tahun 2003 menjadi teman sekelas saya di bangku sekolah dasar. Mereka kini sedang menyelesaikan kuliahnya di negara ketiga. Mereka beruntung karena kini telah berkumpul bersama keluarga dan dapat membangun kembali harapan kehidupan mereka. Seperti teman-teman saya ini, ada begitu banyak orang muda di antara para pengungsi yang lari dari negara asalnya. Mereka pergi meninggalkan segalanya, termasuk masa depan mereka. Sosok-sosok inilah yang saya temui di Yogyakarta dan di Manado saat ini.

Namun, apa yang saya alami di Manado saat ini sedikit berbeda dengan pengalaman yang saya dapatkan di Yogyakarta. Jika para pengungsi di penampungan komunitas Yogyakarta dapat hidup dengan nyaman, di Manado para pengungsi dan pencari suaka harus tinggal di dalam Rudenim. Para deteni – sebutan untuk para pengungsi dan pencari suaka di Rudenim – tidak dapat hidup dengan bebas. Kompleks Rudenim menjadi satu-satunya ruang gerak mereka setiap harinya. Dinamika mereka setiap hari hanya berputar di satu tempat. Di tempat ini, saya dipertemukan dengan berbagai wajah yang telah melewati perjuangan panjang dalam hidup mereka. Namun, berbagai masalah yang dialami tidak membuat mereka kehilangan pengharapan. Mereka adalah orang-orang yang hidup di tengah tanah peperangan dan harus meninggalkan keluarga demi mendapatkan harapan yang lebih baik. Seringkali mereka bercerita tentang keluarga dan tanah kelahiran mereka. Juga tentang beratnya kehidupan yang harus mereka jalani di detensi, bagaimana mereka melewati hari-hari, dan menunggu dalam ketidakpastian.

Hidup dalam tekanan membuat beberapa dari mereka mudah terpancing emosi, bahkan oleh hal kecil sekalipun. Terkadang mereka berkelahi karena persoalan sederhana – salah paham. Saya sadar, berada di tengah-tengah situasi seperti ini bukan hal mudah. Saya sering membayangkan betapa sulitnya kehidupan yang harus mereka jalani dan itu membuat saya terbawa emosi, bahkan sampai tidak bisa menahan air mata. Dalam kondisi ini, teman-teman satu tim adalah orang-orang yang menguatkan saya. Dengan berbagi cerita dan pengalaman, kami saling dikuatkan untuk terus memberikan pelayanan kepada pengungsi dan pencari suaka.

p_20160607_092828_bf

Tim JRS Manado dengan pesan-pesan yang mereka sampaikan dalam rangka Hari Pengungsi Sedunia

Saat ini, perhatian dunia diarahkan pada persoalan pengungsi yang semakin memprihatinkan. Namun, belum banyak yang tergerak untuk membuka pintu hati dan menerima kehadiran para pengungsi. Para pengungsi layak diterima dan diperlakukan sebagai sesama manusia, sebagaimana mestinya. Mereka sama seperti kita, yang merindukan kedamaian, kehidupan yang aman dan nyaman, pendidikan, pekerjaan, dan keluarga. Namun, mereka tidak dapat memeroleh itu semua karena situasi yang harus dialami saat ini. Saya berharap, masyarakat tidak lagi memandang pengungsi sebagai hambatan dan gangguan, melainkan semakin menyadari bahwa para pengungsi adalah bagian dari kehidupan kita.

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca