Penjara Imigrasi Bukan Untuk Anak

Kamis, September 26th, 2013

Seorang anak yang ditampung di Rudenim

Meninggalkan negeri yang dipenuhi dengan konflik dan kekerasan tak selalu berarti lepas dari ancaman dan bahaya. Pengungsian adalah kenyataan yang keras dan seringkali mengakibatkan pengalaman traumatik yang lain. Perempuan dan anak-anak adalah yang paling rentan dari antara semua pengungsi.

Aminah tak pernah membayangkan bahwa ia akan menjumpai pengalaman tragis dan berada dalam batas antara hidup dan mati. Bersama suami dan anaknya yang baru berumur 7 tahun, ia meninggalkan Iran untuk mencari kedamaian dan keamanan di Australia. Setelah dua bulan berada di Indonesia, ia menumpang perahu bersama banyak pengungsi lain. Sungguh malang, perahu yang ditumpanginya mengalami celaka. Banyak penumpang menjemput kematian di tengah laut. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak terapung-apung tanpa nyawa.

Anak saya trauma karena peristiwa yang disaksikannya. Ia melihat mayat yang mengapung dalam kondisi bengkak, pucat dan berwajah rusak. Dia sering terbangun di tengah malam sambil menangis dan menolak makan,” kata Aminah.

Saat ini, ia merupakan salah satu perempuan berkeluarga yang berada di Rumah Detensi Imigrasi yang sangat padat dan melebihi kapasitas. Setelah diselamatkan dari kecelakaan laut, ia mengira akan ditempatkan di sebuah rumah yang layak untuk menyembuhkan seluruh trauma. Ternyata perkiaraannya keliru.

Waktu dibawa ke kota ini, saya berpikir bahwa mereka akan membawa kami ke sebuah rumah. Ternyata kami dibawa ke sini. Tempat ini tidak bersih. Kami berada di dalam sel yang berisi 6 orang atau dua keluarga, sehingga tak ada tempat yang cukup untuk tidur. Tempat ini tidak baik dan dapat membuat kondisi anak saya semakin parah,” keluh Aminah.

Para pengungsi dan Pencari Suaka yang berada di rumah detensi memang sering kehilangan hak-haknya. Rumah Detensi adalah Penjara Imigrasi. Mereka dikurung di dalam sel, kehilangan kebebasan, kehilangan kehidupan privat, kehilangan rasa nyaman, bahkan seringkali kehilangan harapan. Pemerintah negara-negara yang menampung Pengungsi perlu didorong untuk segera menemukan dan mewujudkan alternatif bagi detensi.

Rumah Detensi adalah tempat yang tidak ramah terutama bagi anak-anak. Anak-anak membutuhkan tempat yang nyaman untuk bertumbuh dan belajar tentang nilai-nilai kedamaian, hormat, kebebasan, dan kreativitas. Anak-anak membutuhkan lebih banyak kegembiraan dan tempat yang luas untuk bergerak karena dunia anak-anak adalah dunia bermain dan belajar, bukan kurungan.

Saya sudah membawa anak saya ke dokter. Saya sudah meminta dokter untuk memberikan vitamin karena ia jarang makan, tetapi dokter tidak memberikannya. Dokter mengatakan agar saya meminta anak saya untuk makan. Saya tidak mungkin memaksa anak saya untuk makan,” lanjut Aminah.

Menyaksikan kegembiraan anak dalam bentuk yang pa-ling sederhana sekalipun, merupakan pengalaman pa-ling membahagiakan bagi setiap orangtua. Sebaliknya, keterbatasan kesanggupan un-tuk memberikan kegembiraan kepada anak dalam bentuk paling sederhana sekalipun, merupakan pengalaman yang paling menyedihkan bagi orangtua. Pengungsian dan pendetensian merupakan ke-nyataan yang memaksa sese-orang mengalami keterbatasan semacam itu.

Kemarin adalah hari ulang tahun anak saya yang ke tujuh. Tahun lalu ketika masih di Iran, kami merayakan ulang tahun bersama teman-temannya dengan kue ulang tahun. Saat ini ia menginginkan kue ulang tahun dan mainan, tetapi saya tidak bisa memberikannya. Apakah kamu mempunyai anak? Bisakah kamu membayangkan perasaan saya sebagai seorang ibu yang tidak dapat memberikan hadiah kepada anaknya yang berulang tahun?” kata Aminah dengan wajah sedih.

Bagi para Pengungsi dan Pencari Suaka yang dikurung di dalam sel detensi, kehadiran seorang teman yang mau mendengarkan dan memperhatikan pengalaman mereka merupakan hal yang sangat berarti. Oleh karena itu, JRS hadir dan menjadi teman yang siap sedia mendengarkan dan melayani mereka. Kehadiran JRS di antara mereka yang dikurung di Rumah Detensi merupakan solidaritas dan seringkali menjadi satu-satunya pengalaman mereka untuk berkomunikasi dengan dunia luar.

Ketika JRS membawakan kue ulang tahun untuk anaknya yang berumur 7 tahun dan merayakan ulang tahun itu secara sederhana, kebahagiaannya tampak jelas di wajahnya. “Terima kasih atas segala yang kalian lakukan. Ini sangat berarti bagi saya. Saya tidak akan pernah melupakan ini.”

Anak-anak yang mengalami trauma karena pengungsian membutuhkan perhatian khusus agar pertumbuhan jiwanya menjadi lebih sehat. Mengeluarkan anak-anak dari Rumah Detensi merupakan langkah awal yang harus dilakukan sesegera mungkin. Memasukkan anak-anak yang mengalami trauma ke dalam Rumah Detensi tidak boleh dilakukan lagi, baik terhadap anaknya Aminah maupun terhadap anak-anak lain di dunia manapun. Indonesia harus menjadi contoh pertama yang menghentikan pendetensian anak, sekarang juga. ***

Citra Ayi Safitri

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca