Sebuah Kesempatan Melihat Dunia

Selasa, September 30th, 2014

berenang-1-edit-webKehidupan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) bagi para pencari suaka adalah sebuah penantian panjang. Mereka harus menunggu proses Penentuan Status Pengungsi dan sesudahnya masih harus menunggu proses untuk ditempatkan di negara ketiga. Penantian yang panjang dan kehidupan sehari-hari yang monoton seringkali membuat mereka merasa stres, jenuh dan bosan.

Proses penentuan status itu biasanya membutuhkan waktu delapan bulan sampai satu tahun.  Para deteni sering memplesetkan istilah Immigration Detention Center (Rudenim) menjadi Immigration Tension Center untuk menggambarkan suasana yang penuh ketidakpastian dan menimbulkan stres (tension) tersebut. Jika pengajuan statusnya sebagai Pengungsi ditolak oleh UNHCR, maka diperlukan waktu lebih lama lagi untuk tinggal di Rudenim.

Ketika JRS menawarkan kegiatan berenang dan menikmati suasana di luar Rudenim, para deteni menyambutnya dengan antusias. Pihak Rudenim juga menyambutnya dengan terbuka, karena kegiatan ini dapat membuat para deteni merasa lebih gembira. Kegiatan berenang ini berlangsung setiap Rabu, di sebuah kolam renang yang berjarak sekitar 12 km dari Rudenim. Sepuluh orang deteni secara bergiliran mengikuti kegiatan ini setiap minggunya. Sejak pertengahan Maret 2014 sampai Agustus 2014  hampir semua deteni sudah pernah mengikutinya, bahkan ada yang ikut 2 kali. Kegiatan renang ini difasilitasi oleh IOM dan JRS dengan melibatkan 20 orang staf Rudenim yang bertugas menjaga.

“Saya sangat senang dengan kegiatan ini. Saya bisa melihat dunia luar dan mengurangi rasa bosan tinggal berbulan-bulan di Rumah Detensi Imigrasi,” kata deteni asal Somalia yang telah mendapat status Pengungsi.

”Paling tidak, saya bisa keluar. Saya bisa berenang dan menikmati suasana di luar Rudenim. Saya juga bisa membeli sesuatu untuk teman-teman saya. JRS menyelenggarakan semua ini,” kata deteni asal Somalia.

Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Ru-denim menyatakan,”Dengan kegiatan berenang, paling tidak mereka bisa bergembira sekaligus berolahraga. Dengan demikian rasa jenuh dan bosan para deteni bisa berkurang.”  Bahkan ia menambahkan,”Kalau memungkinkan sebenar-nya saya setuju jika kegiatan semacam ini frekeuensinya ditambah, bisa dua kali dalam seminggu.”

Dukungan senada juga disampaikan oleh Kepala Sub Seksi Keperawatan Rudenim yang mengatakan,”Yang penting deteni bisa senang dan ceria, sehingga tidak terlalu banyak mengeluh dan merasa stres. Jika merasa senang dan tidak stres, para deteni bisa lebih sehat.”

Mereka sering menanyakan kapan giliran mereka untuk berenang. Menurut pencari suaka asal Afghanistan, kegiatan berenang dapat mengurangi stres, meski harus menunggu dua bulan lebih untuk mendapatkan giliran.

Meskipun sederhana, kegiatan berenang merupakan salah satu cara untuk memenuhi hak-hak Pengungsi akan kebebasan sehingga mereka dapat melihat dunia yang lebih luas dan menikmati kegembiraan yang pada umumnya dapat kita nikmati dengan mudah.***

Daryadi Achmadi

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca