Membangun Rumah Detensi Imigrasi

Kamis, Maret 29th, 2012

Para deteni bermain bola di rudenim

“Immigration Detention Center” dalam bahasa Indonesia disebut Rumah Detensi Imigrasi. Rumah Detensi Imigrasi adalah unit pelaksana teknis yang menjalankan Fungsi Keimigrasian sebagai tempat penampungan sementara bagi Orang Asing yang melanggar Undang-Undang Imigrasi yang telah direvisi pada tahun 2011. Bab III Undang-Undang ini menyatakan soal di mana Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) bisa dibangun, kondisi yang menyebabkan seseorang ditempatkan dalam rumah detensi dan jangka waktu penahanan. Dinyatakan juga juga di dalamnya bahwa memberikan pelayanan keimigrasian, penegakan hukum, keamanan negara dan memfasilitasi kesejahteraan masyarakat, adalah tugas Pemerintah.

Selama empat bulan pertama ketika JRS Indonesia hadir di salah satu Rudenim secara langsung, unsur penegakan keamanan negara sangatlah kentara. “Ini merupakan penjara meskipun kami bukanlah penjahat,” kata deteni asal Pakistan. Deteni adalah pencari suaka yang tinggal di Rumah Detensi Imigrasi.

Penamaan Rumah Detensi Imigrasi pasti memiliki maksud tertentu. Mengenakan kata ‘rumah’ bagi sebuah tempat yang mengurangi kebebasan penghuninya, merupakan sebuah paradoks. Rumah bagi sebagian besar orang adalah tempat yang aman dan menyenangkan, yang menghadirkan cinta melalui orang-orang yang kita sayangi. Rumah menjadi perkenalan pertama kita dengan peradaban manusia serta menjadi tempat untuk bertumbuh di dalamnya. Rumah menjadi sebuah kerinduan ketika jarak ragawi memisahkannya.

Apakah ‘rumah’ menjadi ideal ketika disematkan dalam sebuah tempat yang membuat banyak orang merasa terkurung dan tidak merasakan cinta, bahkan dari mereka yang setiap hari hadir dan dekat? Rumah menjadi konsep abstrak yang tidak relevan dengan keseharian deteni. Rumah tidak lagi bermakna dekat, melainkan jauh, baik secara ragawi maupun rohani. “Bagi kami ini bukan rumah,” ungkap pencari suaka asal Afganistan.

Mungkin para perumus kebijakan negeri ini sadar bahwa pencari suaka dan pengungsi lintas batas bukan pelaku kejahatan yang melanggar hukum Indonesia. Menyamakan Rumah Detensi Imigrasi dengan lembaga pemasyarakatan adalah sebuah kesalahan besar. Dalam pedoman penanganan pengungsi dan pencari suaka secara jelas disebutkan bahwa para pencari suaka dan pengungsi tidak boleh ditempatkan bersama pelaku tindak kriminal. Kesadaran itu pada akhirnya mendorong mereka untuk menggunakan kata rumah daripada kata lembaga atau fasilitas. Ini merupakan kesadaran bahwa mereka yang nantinya menempati Rumah Detensi Imigrasi adalah orang-orang yang jauh, terusir atau kehilangan ‘rumah’.

“Melalui kegiatan semacam ini, menari dan bernyanyi, kami merasa dekat dengan rumah,” kata salah seorang pencari suaka. Orang Jawa sering mengaitkan rumah dengan ‘pulung’ yakni anugerah bagi mereka yang berjodoh. Anugerah harus dikejar. Dia tidak datang ketika kita tidak melakukan apa-apa. Mendapat ‘pulung’ berarti menuai hasil kerja keras kita.

Mewujudkan ‘rumah’ detensi seperti mengejar pulung. Ketika kata rumah ditempelkan di depan detensi imigrasi, tidak serta merta sebuah ‘rumah’ impian terwujud. Justru ketika kata rumah itu ditempelkan, ada tanggung jawab dan konsekuensi untuk mencapai dan mewujudkannya. Ini merupakan panggilan sekaligus tantangan moral untuk memperjuangkan prinsip-prinsip kemanusiaan. Mewujudkan tempat di mana kita merasa aman dan terlindungi, di mana cinta sempurna bertumbuh, seolah-olah tiada habisnya.

Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) masih jauh dari idealisme ‘rumah’. Dia bukan tempat yang dirindukan. Rumah Detensi Imigrasi seolah menjadi kutukan bagi siapapun yang berada di dalamnya. Dia tidak mendatangkan rahmat namun beban. “Enam bulan rasanya seperti dua tahun,” tutur salah seorang staf Rudenim.

“Sebenarnya yang menjadi persoalan di antara migran adalah soal penerimaan. Para migran belum bisa menerima situasi saat ini sebagai konsekuensi dari tindakan mereka,” terang salah seorang staf lembaga lain yang terlibat di Rudenim.

Acceptance atau penerimaan adalah tantangan yang harus dihadapi oleh deteni dan staf imigrasi. Keduanya tidak dapat menerima keberadaan mereka di Rudenim. Menjadi staf atau petugas Rumah Detensi Imigrasi jauh dari bayangan ketika pertama kali menerima tugas dan tanggung jawab sebagai pejabat imigrasi. “Saya nggak kebayang kalau dapet tugas di sini. Karena sebelumsebelumnya selalu ditempatkan di bandara, pelabuhan atau kantor imigrasi,” lanjut sang staf Rudenim. “Nggak ada yang mau berlama-lama di sini,” katanya.

Bagi para deteni, berada di Rudenim adalah soal kesialan belaka. Mereka ditangkap ketika menuju tujuan mereka, Christmas Island, Australia. Deteni tidak menginginkan 15 bulan hidupnya dihabiskan dalam situasi penuh tekanan dan ketidakpastian. “Mereka tak ingin berada di sini. Jika ditanya, mereka akan mengatakan tak ingin membuang waktu 12 bulan di sini hanya untuk minum susu, bermain karambol atau sepak bola,” cetus deteni asal Pakistan.

Detensi bagi para pencari suaka adalah penghalang antara saat ini dan masa datang. Ia hadir di tengah perjalanan untuk memisahkan mereka dengan impian tinggal di tanah suaka. Baik para deteni maupun staf Rudenim membangun sebuah penyangkalan tentang situasi saat ini. Mereka berdalih bahwa tidak seharusnya berada di sini. Merasa dibuang dan dipinggirkan. “Kita di sini bekerja keras, tetapi kalau ada pelarian, kita disalahkan,” tutur seorang staf Rumah Detensi Imigrasi. “Mereka tak pernah memikirkan kami. Imigrasi dan UNHCR,” ungkap deteni. “UNHCR membuat kami harus menunggu selama 1 tahun, bahkan lebih, untuk sesuatu yang tak jelas. Mereka membuat kami tegang,” sambut deteni yang lainnya lagi.

Idealisme tentang ‘rumah’ tidak dapat diwujudkan dalam sebuah penyangkalan. Bagaimana para pencari suaka dan staf imigrasi menemukan sisi lain keseharian mereka di Rudenim jika menggantungkan nasib pada kesalahan orang lain. Dalam keseharian Rudenim mereka kehilangan kesadaran tentang saat ini. Absennya rasa kekinian memicu khayalan tentang dunia lain yang indah, yang tidak ada di sini, tetapi tidak menggerakkan orang untuk melakukan apapun. Ia seperti mimpi. Orang harus bangun dari mimpi dan mengejarnya dalam dunia nyata. Dengan begitu perubahan akan terwujud.

Perubahan untuk mewujudkan Rumah Detensi Imigrasi dimulai ketika masing-masing saling menerima dan memahami, saling membantu untuk tumbuh dalam sejarah peradaban berperikemanusiaan, dan saling merasakan cinta dalam keterbatasan melalui tindakantindakan penuh arti sehari-hari.

“Kami akan berusaha saling memahami melalui pertemuan dan dialog. Kami tak mungkin membangun pemahaman dengan selalu menyalahkan pihak imigrasi,” ucap deteni asal Pakistan yang tanggal 1 Februari 2012 kembali ke negaranya.

Paulus Enggal

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca