Tetap Berharap Meskipun dalam Gelap

Rabu, Agustus 8th, 2012

“Kami tidak tahu mau tinggal di mana lagi”

Saat ini, lebih dari satu juta empat ratus pengungsi yang berasal dari etnis Rohingya, salah satu kelompok minoritas etnis dan religious Myanmar, telah tersebar di berbagai negara seperti Bangladesh, Malaysia, Sri Lanka, Timur Tengah, dan Indonesia. Mereka terpaksa meninggalkan negara asal mereka, Myanmar, karena perkembangan situasi politik yang semakin diskriminatif dan tidak manusiawi. Etnis Rohingya yang sejak ratusan tahun lalu telah menetap di wilayah Arakan, di bagian barat Myanmar, secara sistematis telah dipinggirkan oleh penguasa menjadi kelompok manusia tanpa kewarganegaraan (stateless).

Burma Citizen Law yang disahkan pada tahun 1982 adalah sebuah undang-undang yang mengatur dan menentukan kriteria tentang kewarganegaraan dan menjadi landasan hukum yang mendiskriminasi etnis Rohingya. Mereka menjadi stateless, tak memiliki akses terhadap pekerjaan, layanan kesehatan, pendidikan, maupun partisipasi politik. Situasi politik yang menjadikan mereka miskin, tak berpendidikan, dan terancam jiwanya, memaksa mereka menjadi pengungsi di berbagai negara dengan menempuh perjalanan yang sangat beresiko dan berbahaya. Namun pengungsian tidak selalu memberikan tempat yang ramah. Penolakan dan ancaman baru justru sering menjumpai hidup mereka.

Sholeh Abdurrahman (bukan nama sebenarnya) adalah salah satu dari jutaan etnis Rohingya yang mengungsi. Bersama istri, empat orang anak, dan seorang keponakan, ia terpaksa meninggalkan Myanmar untuk mencari kehidupan yang lebih aman. Keluarga etnis Rohingya ini baru saja tiba di Indonesia  dengan menggunakan perahu. Mereka telah sepuluh tahun menjadi pengungsi dan hidup dalam kesulitan serta ketidakpastian di tanah asing.

Saya sudah sepuluh tahun tinggal di Malaysia. Kami sudah sering keluar-masuk negeri orang, ditangkap, dan dibuang. Kami tak boleh tinggal di sana. Di Myanmar, kami juga tak boleh tinggal. Kami tidak tahu mau tinggal di mana lagi,” katanya.

Salah seorang petugas Rumah Detensi Imigrasi menginformasikan bahwa akan ada semakin banyak lagi keluarga-keluarga etnis Rohingya  yang berdatangan ke Indonesia. Namun, pihak Rudenim tak bisa menerima mereka apabila belum ada proses BAP (Berita Acara Pemeriksaan) dan belum ada surat perintah penahanan.

Penolakan dan perlakuan tak manusiawi telah sering dialaminya.

Kami sudah dua hari duduk di sini. Ada orang yang mengantar kami ke petugas. Petugas menyuruh kami pergi. Kami tak boleh duduk di depan petugas. Petugas pukul wajah saya,” paparnya sambil menunjukkan pelipis dan pipinya yang membiru.

Nak tuh juga,” katanya sambil menunjuk keponakannya laki-laki. “Petugas pukul…..sepak…..pukul….pakai sipatu,” lanjut Sholeh sambil menangis. Seluruh anggota keluarganya juga menangis.

Selama dua hari di Indonesia, mereka tak menemukan tempat yang sudi memberikan tumpangan bagi mereka. Rumah pemondokan haji yang mereka datangi, tidak mau menerima mereka. Beberapa hotel kecil atau wisma yang ada di sekitarnya, juga tak mau menerima mereka meskipun hanya untuk menginap semalam, supaya esok harinya dapat melapor ke kantor Imigrasi.

Meskipun menghadapi penolakan, kesedihan, dan pengalaman terpinggirkan, Sholeh dan keluarganya masih tetap berikhtiar menjaga harapan tentang masa depan. Ia adalah salah satu dari jutaan warga etnis Rohingya yang telah kehilangan banyak hal dalam hidupnya, kecuali harapan, tekad, dan keyakinan untuk mempertahankan hidup dan menjadikannya lebih bermartabat.

Sudah sepuluh tahun ia berupaya, namun hasilnya belum juga dapat dirasa. Ia tak berputus asa dan tetap bertekad untuk meraih hidup yang bermartabat. Ia senantiasa berharap meskipun masa depan dan impian masih terasa gelap. Semoga seluruh kebaikan semakin berpihak kepada mereka sehingga mereka menemukan “rumah” bagi mereka.

Silvester Gultom

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca