14.000 Orang Masih Harus Mengungsi

Rabu, Januari 5th, 2011

Rm. A. Suyadi, SJ. saat kunjungan di Dusun Singlar, Desa Glagaharjo, Kec. Cangkringan, Kab. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Saya bopong Ananda naik sepeda motor untuk lari evakuasi. Truk tanki air yang datang untuk evakuasi langsung menarik saya dan cucu saya,” tutur Murtini, nenek  Ananda. Ia melarikan diri setelah mendengar keras suara letusan gunung Merapi. Kala itu sekitar jam 1 dini hari (5 November 2010), suasana sangat gelap oleh abu vulkanik, awan dan lahar panas. ”Untung waktu itu dibarengi dengan hujan. Jika tidak pasti akan banyak lagi korban yang berjatuhan karena abu dan pasirnya sangat  panas”, tutur suami Murtini menimpali.

Ananda, bayi berumur 35 hari itu harus dibawa lari evakuasi karena kejaran lahar dan awan panas Merapi. Ananda Ramadani adalah anak pertama dari pasangan Henti Nurjanah dan Supriyanto. Sebelum ada bantuan truk evakuasi, Ananda berada dipelukan neneknya, Murtini yang sedang berupaya melarikan diri dengan membonceng sepeda motor. Bagaikan anak ayam kehilangan induknya, setiap orang harus lari menyelamatkan diri mereka masing-masing. Tidak ada tujuan yang jelas ke mana mereka harus lari. Juga tidak ada arahan yang jelas mana jalan yang aman. Akibatnya beberapa orang terjebak lari menuju ke jembatan sungai Gendol yang waktu itu sudah banjir lahar.

Kala itu Jumat dini hari (5 November 2010) ketika terjadi letusan terbesar Gunung Merapi. Semua warga Dusun Singlar, Glagahharjo, Cangkringan (Kabupaten Sleman) yang sudah berada di tempat pengungsian harus melarikan diri lagi, karena awan panas dan lahar sudah mencapai tempat pengungsian mereka.

Kini Ananda dan keluarganya baru saja pindah mengungsi dari Ganti warno, Klaten ke sebuah rumah keluarga di dusun Singlar yang tidak rusak. ”Ini adalah tempat mengungsi saya yang ke delapan”, kata Murtini sambil menimang Ananda, cucu kesayangannya. 126 Kepala Keluarga (2 RT) dari Dusun Singlar kehilangan segalanya akibat letusan Merapi yang lalu. Rumah, ternak, harta milik dan lapangan pekerjaan mereka hilang ditelan lahar. 3 jiwa ikut terkubur hidup-hidup dan hingga saat ini tidak pernah ditemukan jenazahnya, meskipun tim evakuasi sudah berkali-kali mencari mereka. ”Ya sekarang kita doakan saja Pak, mau bagaimana lagi”, kata Paidi (38 tahun) mengomentari 3 jenazah warga dusunnya yang tidak bisa ditemukan lagi.

Mereka belum tahu bagaimana rencana untuk masa depan mereka. ”Kalau saya ditanya sekarang, saya tidak berani tinggal lagi di tempat ini”, tutur Supriyanto yang rumahnya tidak kelihatan lagi karena tertimbun oleh lahar. ”Rumah saya dulu di situ”, katanya sambil menunjukkan hamparan pasir yang tidak lagi ada tanda-tanda pernah ada bangunan rumah. “Semua sapi perah kami terkubur lahar. Kami tidak mempunyai pekerjaan lagi. Dulu setiap hari ada pemasukan dari susu sapi, sekarang tinggal kenangan”, timpal Paidi mengenang masa lalunya.

Kini mereka sedang menunggu untuk berpindah lagi di tempat pengungsian yang baru, yakni di hunian sementara yang sedang dibangun oleh pemerintah di Banjarsari, Glagahharjo, Cangkringan, Sleman. Masa penantian tanpa kepastian semakin panjang.

Warga dusun Singlar tidak sendirian. Sekitar 10.000 orang lebih (2,526 Kepala Keluarga) mempunyai nasib yang sama. Mereka berasal dari Kabupaten Sleman, yakni dari Kecamatan Cangkringan 2,551 Kepala Keluarga (KK) dan Kecamatan Ngemplak 15 KK. Jumlah ini hanyalah mereka yang mengungsi karena erupsi Merapi yang telah menghanguskan rumah dan tempat asal mereka. Masih ada lagi pengungsi baru, korban bencana kedua banjir lahar dingin. Dalam pertengahan bulan Januari 2011 ada sekitar 5.000 orang yang terpaksa harus mengunungsi lagi karena desa-desa mereka tertutup oleh banjir lahar dingin. Jumlah mereka, meskipun tidak diharapkan, mungkin bertambah jika hujan di lereng Gunung Merapi masih terus mengguyur, lantaran masih ada sekitar 140 juta meter kubik tumpukan material lahar dingin di lereng Gunung Merapi.

Untuk menampung para pengungsi yang belum atau tidak bisa kembali ini pemerintah setempat (Yogyakarta dan Jawa Tengah) sedang membangun rumah sementara dari bambu di daerah-daerah aman yang tidak terlalu jauh dari desa asal mereka. Pembangunan ini direncanakan selesai pada akhir bulan Januari 2011. Namun dengan datangnya bencana susulan banjir lahar dingin ini, bisa jadi pembangunannya akan terhambat.

“Saya belum tahu kapan rumah sementara akan selesai dibangun sehingga kami belum tahu kapan akan pindah ke sana,” kata seorang pengungsi dari Dusun Petung, Desa Kepuh Harjo, Cangkringan. “Saya dengar baru selesai dibangun 3 unit rumah sementara dari 800 unit yang direncanakan,” tutur seorang koordinator pengungsi Dusun Petung, Kepuhharjo yang sekarang masih mengungsi di rumah penduduk di desa Wukirsari.

Hingga kini, pihak pemerintah belum bisa menetapkan rencana masa depan mereka yang berjangka panjang dan berdaya tahan. Umumnya ada tiga pilihan yang bisa diambil untuk proses ini, yakni pulang kembali ke desa asal (return), relokasi (relocation) atau menetap di tempat pengungsian (resettlement) yang dalam hal ini menetap di tempat hunian sementara yang akan dibangun.

Apakah mereka bisa mewujudkan kerinduan mereka untuk bisa kembali ke desa asal mereka? Menurut Badan Penyelidikan dan Pengembangan Kegunungapian (BPTK) Yogyakarta yang dirilis oleh Media Indonesia, ada 8 dusun asal pengungsi yang tidak bisa dihuni lagi. Delapan dusun tersebut adalah Dusun Kinahrejo, Ngrangkah, Pangukrejo (Desa Umbulharjo), Petung, Kaliadem, Jambu, Kopeng (Desa Kepuhharjo) dan Kalingah Lor (Desa Glagahharjo). Semua dusun tersebut masuk wilayah Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Delapan dusun tersebut dihuni oleh sekitar 1.000 kepala keluarga lebih.

Adrianus Suyadi, SJ

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca