Kurangnya Ruang Berbagi tentang Kebencanaan bagi Perempuan

Senin, Pebruari 15th, 2010

Rafnaini: bendahara PKK Gampong Panjupian

Pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana (PRB), bagi Ibu Rafnaini (38) sebenarnya sesuatu yang baru yang ingin disampaikan kepada kelompok perempuan di gampongnya (desa). Namun forum untuk itu tidak ada karena kegiatan PKK di Gampong Panjupian tempat dia tinggal bisa dikatakan mandeg. Sebagai bendahara PKK yang telah mengikuti pelatihan perencanaan gampong berperspektif pengurangan risiko bencana yang diadakan JRS pada Desember 2009 lalu, dia tidak tahu harus menyampaikan pengetahuan tersebut melalui forum apa.

Lain halnya dengan Ibu Martina (46), janda satu anak yang mengikuti pelatihan mewakili kelompok rentan, mengaku sering mengobrolkan masalah ancaman bencana dengan kelompok sebayanya di warung maupun saat berkumpul dengan kelompok rentan yang memelihara itik. Martina bahkan juga berani mengusulkan kepada kepala Lorong Hilir, agar gorong-gorong di pinggir jalan dekat rumahnya diperbaiki. Gorong-gorong itu terlalu kecil sehingga jika hujan lebat pasti akan meluap dan memicu banjir masuk ke rumahnya.

”Paling-paling kami sampaikan lewat pengajian wirid Yasin. Tapi di situ terkadang tak ada kesempatan,” ujar Rafnaini, yang sehari-harinya adalah penjahit. PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) di Gampong Panjupian, Kecamatan Tapaktuan, selama ini tidak berjalan. Paling hanya ada pertemuan 6 bulan sekali. Sementara kegiatan rutin seperti pertemuan bulanan sejak masa konflik tidak pernah ada lagi.

Rafnaini sebenarnya termasuk ibu yang aktif dalam berkegiatan di desanya, mulai dari wirid yasin, arisan ibu-ibu, dan juga Dasa Wisma. Namun selama ini forum-forum itu kurang memberi ruang untuk menularkan pengetahuan tentang kebencanaan. ”Kalau arisan paling kumpul uang, wirid yasin langsung mengaji. Dasa Wisma punya kegiatan nyata jika ada warga yang meninggal untuk memberi nasi rantangan kepada pihak yang berduka,” papar Ibu yang drop-out SMEA Tapaktuan itu. Menurutnya, kegiatan PKK tampak sibuk jika mau dilombakan. Seperti Gamawar (gampong mawadah warohmah = gampong tentram dan sejahtera), Gampong Air Pinang, gampong tetangga yang bulan lalu menang lomba. ”Saya tidak tahu, di sini tidak ada yang mau aktif. Jangankan disuruh ikut lomba, untuk kumpul saja sulit,” kata Rafnaini.

Ibu Rafnaini mengaku sudah paham dengan ancaman yang ada di gampongnya, seperti banjir, longsor, dan abrasi pantai. Sebagai ibu rumah tangga, dia berupaya menerapkan pengetahuan itu dengan perilaku positif, seperti tidak membuang sampah sembarangan serta membersihkan saluran pembuangan di sekitar rumahnya.

”Kadang-kadang saya ngobrol dengan sesama ibu rumah tangga saat di warung tentang bahaya banjir dan juga tanah longsor di sekitar sini,” jelas ibu dua anak itu. Bersuamikan Sukri, dia tinggal di Dusun Hilir yang terletak di ujung desa berbatasan dengan lapangan dan gunung. ”Dulu memang pernah ada banjir di gampong ini, tapi di dusun lain yang berada di bawah,” katanya.

Lain halnya dengan tindakan yang dilakukan Martina, Rumahnya terletak di daerah yang cukup rawan karena letaknya di hilir, dekat aliran sungai, dan berada sekitar 300 meter dari bibir pantai. Setidaknya dia sudah paham akan pentingnya saluran pembuangan di sekitar rumahnya. Sehingga jika hujan aliran air bisa lancar. Dia juga paham akan ancaman di dusunnya. Meski sungainya kecil, namun jika arus dari gunung kuat akibat hujan yang lebat, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi banjir.

Dari hasil pelatihan selama enam hari di Tapaktuan, Martina juga tahu akan tanda-tanda banjir dan juga kesiapsiagaan yang harus dilakukan.

”Jika hujan selama dua hari dan batu-batu gunung mulai jatuh, berarti itu tanda-tanda mau banjir besar dan sungai belakang rumah saya pasti akan meluap,” jelas Martina, ibu satu putra yang telah dewasa yang sehari-hari menjadi buruh cuci di gampongnya. Dia juga mengaku punya pengalaman lari ke gunung pada malam hari, saat gempa besar terjadi di Nias bulan Maret 2005. Rumahnya yang berada dekat bibir pantai, membuatnya selalu waspada jika ada gempa. Martina juga mulai menyadari akan pentingnya menjaga sungai, tidak mengambil batu serta pasir dari sungai, dan juga arti pentingnya menjaga pohon-pohon di gunung. Tapi dia mengaku tidak bisa berbuat banyak. Paling-paling pengetahuannya dibagikan kepada sesama kelompok rentan yang didampingi JRS sejumlah sembilan orang perempuan.

 Pengalaman konflik

Gampong Panjupian yang terletak di tepi pantai dan diapit pegunungan ini relatif dekat dengan Kota Tapak Tuan, sekitar 8 Km. Dibanding gampong lain di wilayah Kluet maupun Pasie Raja, memang dampak konflik di gampong ini tidak terlalu menonjol . ”Perasaan takut pasti ada, apalagi sebelum ada pos, kita harus baik-baik dengan orang-orang yang datang dari gunung,” Dulu sebelum ada pos, orang gunung sering mampir minta makan atau beras untuk dibawa ke gunung,” cerita Rafnaini. Kebetulan rumah Rafnaini dekat sekali dengan gunung. Jadi begitu orang gunung turun, rumah dialah yang pertama ditemui.

Pengalaman yang sama juga dirasakan Ny. Martina, yang rumahnya dekat jalan raya. Saat konflik terjadi, yang ada rasa takut dan khawatir, serta kesulitan untuk pergi ke kota.

Namun kondisi itu berubah setelah ada pos militer di pinggir gunung. Kondisi gampong menjadi lebih aman dan orang gunung pun jarang turun. Malah bagi Rafnaini, saat konflik ada sedikit rejeki karena sering mendapat pekerjaan menjahit dari prajurit TNI, seperti menjahit nama, simbol, ataupun pangkat. Ada yang sangat berubah saat sebelum konflik dengan masa sesudah konflik berkaitan dengan usaha jahit Rafnaini. Dulu jahitannya cukup laris, karena ekonomi lancar khususnya saat pala dan nilam masih menjadi andalan. Sekarang menurutnya ekonomi tidak lancar karena orang-orang gampong kurang penghasilannya. Penyebabnya adalah banyaknya pohon pala yang mati dan murahnya harga jual minyak nilam.

Demikianlah bahwa ternyata masih ada celah sosial budaya besar yang tertinggal pada saat ini bagi kaum perempuan khususnya di wilayah pedesaan untuk mengambil peran sebagai pendidik masyarakat tentang kebencanaan. Ketidakmatangan organisasi yang bisa mewadahi aspirasi para perempuan maupun untuk mempercepat proses penyebaran informasi juga masih menjadi kesulitan tersendiri bagi perempuan untuk berpartisipasi di masyarakatnya yang memang masih bercorak patriarki seperti di Aceh Selatan.

Daryadi Ahmadi

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca