Janji yang Terlupakan, Mantan Pengungsi Masih Berjuang Membangun Hidupnya

Rabu, September 25th, 2013

Rumah Frederikus yang belum selesai dibangun

Papua adalah pulau besar dan luas yang merupakan wilayah Indonesia paling timur. Situasi politik pada tahun 1980-an telah mewarnai kehidupan di pulau ini dengan konflik dan ketegangan. Konflik dan ketegangan antara Tentara Nasional Indonesia dan sekelompok masyarakat yang menamakan diri Organisasi Papua Merdeka (OPM), memaksa sebagian orang yang tinggal di wilayah ini untuk mengungsi dan mencari keselamatan di negeri tetangga, Papua New Guinea (PNG). Frederikus (73 tahun) adalah salah seorang yang mengungsi. Setelah hampir 25 tahun tinggal di PNG, ia kembali ke kampung halaman untuk memulai hidup baru.

Saya mengungsi, bersama ratusan orang dari Jayapura ke PNG. Saat itu ada konflik antara tentara Indonesia dan OPM. Satu-satunya cara terbaik untuk menyelamatkan hidup adalah dengan mengungsi. Pengungsian dimulai pada 9 Februari 1984. Saat itu ada rencana kudeta pada 11 Februari 1984, namun gagal karena rencana kudeta sudah diketahui oleh pihak tentara, sehingga orang-orang yang diduga ikut terlibat, dicari oleh tentara Indonesia. Ini mengakibatkan mereka mengungsi untuk menyelamatkan diri ke PNG. Para pengungsi tersebar dalam dua camp besar, di Black Wara Vanimo, Provinsi Sandaun, dan bagian selatan Camp Yowara, Distrik Kiungga, Western Province,” kata Frederikus yang menceritakan kisah pengungsiannya kepada JRS awal Maret 2013 lalu.

Sejak 2009, Frederikus dan keluarganya kembali ke Jayapura. Ia mulai merajut kembali hidup di pinggiran Kota Jayapura. Sebenarnya sudah lama ia dan para pengungsi lain memiliki inisiatif untuk pulang ke Jayapura. Namun mereka harus menunggu situasi yang tepat dan aman.

Supaya jangan sampai ada hal-hal yang terjadi pada kami, maka kami menunggu sampai suatu saat ada ajakan dari gubernur. Itu menjadi tanda bahwa setelah tiba di sini, ada jaminan keamanan buat kami. Jadi kami mengikuti ajakan gubernur, dan saat itu sudah saatnya pulang,” kata Frederikus.

Frederikus bersama keluarganya, pulang ke kampung halaman atas himbauan Pemerintah Provinsi Papua. ”Kepulangan kami itu atas kerja sama pemerintah PNG dan pemerintah Indonesia, dan ada anjuran dari Gubernur Papua saat itu, Barnabas Suebu. Dia meminta agar orang-orang Papua yang berada di Papua New Guinea, segera pulang. Ajakan Gubernur Suebu juga disertai dengan janji bahwa pemerintah akan memberikan pendidikan, modal untuk usaha, dan juga rumah. Setelah gubernur berkunjung ke PNG, pada tahun 2008 kami mendaftar, namun baru pada tanggal 23 November 2009 kami dapat kembali ke Papua,” paparnya.

Janji gubernur itu tak pernah ditepati. Setelah kembali ke Jayapura, mereka terpaksa tinggal di Balai Latihan Kerja (BLK) milik Dinas Transmigrasi Provinsi Papua di Jayapura Utara selama satu minggu, lalu diminta pulang ke kampung asal dan menumpang di rumah saudara masing-masing dengan dibekali uang sebesar 17 juta rupiah untuk setiap Kepala Keluarga. Penyediaan 300 rumah bagi para pengungsi yang kembali ke kampung halaman sebagaimana dijanjikan oleh utusan Gubernur saat berkunjung ke kamp pengungsi di Kiungga, PNG, tak pernah terwujud.

Di kampung halaman, Frederikus dan keluarganya harus berjuang dari awal untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan bermartabat. Ia bekerja keras agar dapat memiliki rumah, memiliki pekerjaan dan menyekolahkan anak-anak. ”Yang penting saya bisa kembali mempunyai rumah agar hidup tenang,” katanya.

Setelah 2 tahun menumpang di rumah saudara, ia berhasil membeli tanah seluas 100 meter persegi di perbukitan atas bantuan saudara-saudaranya. Saat ini, bersama dengan anak, menantu dan 4 cucunya, ia tinggal di sebuah rumah kayu tingkat yang belum selesai dibangun dan tidak layak huni. Sebagian atap rumahnya masih ditutup terpal dan bocor jika terkena hujan. Dua bilik di tingkat atas telah diberi dinding, namun bagian lainnya tak berdinding. Rumah di atas bukit itu dibangun sendiri sedikit demi sedikit.

Tanah ini diusahakan bersama keluarga dan saudara-saudara saya yang membantu membelinya seharga 7 juta rupiah. Tidak ada bantuan dari pemerintah. Semua bantuan dari saudara. Saya masih berhutang sebanyak 3 juta rupiah karena harus mengganti rugi tanaman yang tumbuh di tanah itu, seperti pohon kelapa dan pinang,” cerita Frederikus.

Kami mengajukan bantuan ke pemerintah. Kami hanya diberi 10 batang balok kayu ukuran 5 x 10 cm, 30 lembar seng, paku seng 2 kg, dan paku balok 2 kg yang sebenarnya hanya pantas untuk membuat kandang. Bantuan tersebut dari Dinas Sosial Kota Jayapura,” lanjutnya. Badan Perbatasan dan Kerjasama Luar Negeri Provinsi Papua juga pernah membantu peralatan dapur, selimut, handuk dan kelambu.

Frederikus dan anaknya, Silvester, bekerja keras untuk menyelesaikan rumahnya, dengan menjalani profesi sebagai tukang kayu. Ketika ada proyek pembuatan rumah, upahnya sebagai tukang kayu sebesar Rp100.000,00 per hari, sementara upah anaknya sebesar Rp80.000,00 per hari. Dari penghasilan itu mereka menabung untuk membeli papan dan seng. Dua minggu sekali, mereka membeli air bersih seharga Rp100.000,00 yang disimpan dalam puluhan jerigen.

Saat kembali ke Papua, pada mulanya ia merasa seperti orang asing. Anak-anaknya belum dapat berbahasa Indonesia secara lancar karena bertahun-tahun menggunakan bahasa Inggris di PNG. Selain itu, peluang kerja juga sangat terbatas. Keterampilannya sebagai tukang kayu merupakan modal yang sangat berguna. Dengan keterampilan itulah, sekarang ia berjuang untuk menghidupi keluarganya. Ia tak berputus asa bekerja keras meskipun tetap mengharapkan agar janji Gubernur Barnabas Suebu akan ditepati suatu saat nanti. ”Di pengungsian maupun di sini, sama saja, yang penting harus berusaha dan bekerja dulu baru dapat uang,” ujar Frederikus optimis.***

Donatus Akur & Daryadi Achmadi

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca