Berbagi Dari Kekurangan

Rabu, Agustus 8th, 2012

Ibu Marian dan anak angkatnya

Saat ini lebih dari 15 juta perempuan hidup dalam pengungsian dan berjuang untuk mempertahankan hidup mereka dan hidup orang-orang yang dicintainya. Beberapa di antara kaum perempuan ini telah mengungsi selama lebih dari satu decade. Marian adalah salah satu dari antara mereka yang mulai mengungsi pada tahun 1999 dan sejak itu ia hidup di kamp dan di sebuah gudang yang jorok di Maluku sambil mengharapkan masa depan yang lebih baik.

“Ini bukan anak saya. Beta seng tau (tidak tahu-Red) di mana ibunya. Waktu ibunya melahirkan, Beta yang membantu. Setelah itu pergi. Anak ini sama Beta sudah sebelas bulan lebih.” begitu kata Marian, mengisahkan anak yang selalu lengket dengannya. Ia adalah salah satu dari 18 perempuan yang selama bertahun-tahun hidup di sebuah gudang tua sejak ia mengungsi karena kekerasan komunal yang terjadi di Pulau Buru, Maluku. Karena tak lagi dapat kembali ke tempat asal, para pengungsi ini telah kehilangan semua harta milik, rumah dan tanah, kecuali harapan dan kemauan mereka untuk terus bertahan hidup.

Meskipun hidup serba berkekurangan, hanya dapat membeli makanan dari uang yang ia dan suaminya dapatkan setiap harinya, Marian masih memiliki hati untuk berbagi. Sebagai dukun bayi dan dukun pijat, bersama suami dan tiga orang anaknya, Marian bertahan hidup hanya dengan penghasilan Rp 325.000,00 seminggu dan hanya kadang-kadang saja mendapatkan bantuan dari anak tertuanya yang tinggal dan bekerja di kota. Pengeluaran harian dan biaya sekolah SMP dan SMA untuk kedua anaknya, lebih besar dari uang yang diterimanya. Lima kepala termasuk satu balita yang tinggal bersamanya, butuh dana tak kurang dari Rp 61.800,00 tiap harinya. Meskipun demikian, ia jarang mengeluh soal kurangnya uang. Ia lebih merasa prihatin terhadap kondisi anak-anaknya yang tinggal di gudang kotor berdinding triplek yang sebenarnya tidak layak untuk dihuni.

Marian tinggal di dalam ruangan berukuran 3X4 meter persegi. Ruang keluarga dan kamar tidur menjadi satu. Siang maupun malam suhu udaranya terasa panas dan pengap. Gudang Barito merupakan hunian sementara yang ketiga bagi Marian dan keluarganya yang telah mengungsi selama 12 tahun. Sebelumnya, mereka tinggal di penampungan asrama Militer dan di kamp pengungsian di Waimahu.

Sebelumnya pihak pemerintah telah dua kali memberikan bantuan. Kementerian Perumahan Rakyat dan Gubernur telah memberikan bantuan sebesar Rp 18 juta untuk membangun rumah sementara beberapa tahun yang lalu. “Pemerintah memberi semen, seng, triplek, paku dan ongkos tukang untuk membangun rumah, tetapi di manakah kami mau membangun rumah kalau kami tidak punya tanah?” Karena tanah merupakan yang paling penting, warga telah menjual bahan-bahan bangunan itu dan uangnya dikumpulkan sebagai uang muka pembelian tanah yang akan digunakan sebagai tempat relokasi. Sayangnya upaya bersama ini tidak dapat berlanjut karena tidak ada lagi bantuan dari pemerintah sehingga sisa pembayaran yang ada tidak pernah dapat dibayar oleh warga. “Kami di sini tidak lagi bersatu hati” adalah ungkapan yang sering terdengar bukan hanya di Barito. Kadang-kadang bantuan pemerintah habis secara sia-sia. Inilah salah satu sebab mengapa sampai sekarang masyarakat beum dapat berpindah ke lahan relokasi.

Saat ini bantuan pemerintah telah berhenti dan isu tentang pengungsi konflik tahun 1999 sudah tida menjadi agenda pemerintah lagi. Konflik yang terjadi belakangan ini yang mengakibatkan pengungsian di Maluku perlu mendapat perhatian. “Mereka menganggap kami bukan pengungsi lagi. Apalagi sekarang banyak kerusuhan”, kata Mariana.

“Beta ingin jualan lagi, membuka kios, jual sayuran, minyak tanah, bumbu, sabun, beras, shampoo, gula, kopi. Kalau buka kiosk an bisa sambil mengasuh anak, meskipun bukan anak sendiri”, kata Mariana ketika ditanya tentang apa yang ingin dilakukan nantinya. Di gudang Vitas Barito tidak banyak pembeli. Satu-satunya harapan adalah menemukan tempat untuk pindah.



(Veronica Purwaningsih)

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca