Biarlah Saya Mati, tapi Anak-anak Tetap Bisa Sekolah

Jumat, Pebruari 5th, 2010

Ibu Siti Hajizar: Susah kalau mengingat masa konflik

“Sekolah kami tidak pernah tutup selama konflik,” tutur ibu Siti Hajizar (50)

 SDN Silolo adalah labuhan pengabdian seorang guru yang sejak tahun 1982 mengaitkan hatinya untuk mengajar anak-anak di desa pinggiran Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan. “Saya dari kecil memang ingin jadi guru, nggak tahu kenapa, mungkin karena suka saja,” terangnya membuka percakapan pagi itu. Sejak diangkat menjadi PNS pada tahun 1982, guru yang terkenal tegas di mata anak-anak didiknya ini tidak pernah meninggalkan SDN Silolo. Sebagian hatinya memang sudah tertambat di desa penghasil padi di Kecamatan Pasie Raja ini. “ Saya sudah dianggap sebagai warga Silolo oleh masyarakat,” tuturnya. “Kalau ada kenduri, saya pasti diundang. Kalau sedang musim durian atau langsat pasti ada saja orangtua murid yang membawakannya buat saya,” tambahnya lagi. Masa pensiun yang tinggal sepuluh tahun lagi ingin ia habiskan di SD yang meninggalkan tapak terdalam dalam sejarah perjalanannya sebagai seorang guru. Baginya Silolo adalah kanvas hidup yang menceritakan semua jejak kehidupannya sebagai guru termasuk ketika konflik masih mencengkeram bumi Nanggroe Aceh Darussalam.

Ingatannya melayang ke suatu pagi di bulan Mei 2000, kala dua puluhan murid kelas VI bersiap menghadapi hari pertama EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional).

“Waktu itu cuma saya yang ada di sekolah karena masih tinggal di rumah dinas guru,” ungkapnya membuka kisah sepuluh tahun yang lalu. Menjadi guru yang tinggal sendirian di sekolah sudah menjadi hal biasa bagi ibu tiga anak ini. Konflik kerap membuat guru-guru takut menunaikan tugasnya di sekolah apalagi bagi mereka yang harus melangkahkan kaki menuju daerah yang dicap sebagai basis GAM (Gerakan Aceh Merdeka) oleh aparat keamanan.

“Saya seringkali diancam, kadang sama orang GAM, kadang sama TNI (Tentara Nasional Indonesia). Makanya waktu itu saya sering pindah. Sekali waktu di Silolo, lain waktu di Kampung Baru,” terangnya (keduanya di wilayah Kec. Pasie Raja, Aceh Selatan)

Pagi yang seharusnya menandai klimaks jerih payah menimba ilmu selama enam tahun berubah menjadi noktah kelam dalam catatan hidup Siti Hajizar dan anak didiknya. “Pagi itu ada bom meledak di Rambung. Nggak lama orang itu (TNI) langsung naik masuk ke Silolo. Ada yang pakai kendaraan, ada yang jalan kaki,” tuturnya membuka kisah. Gerakan pasukan TNI untuk mengejar GAM memantik baku tembak diantara keduanya. “Anak-anak langsung saya kumpulkan di rumah dinas. Orangtua mereka nggak ada yang berani datang ke sekolah untuk menjemput. Biasanya kalau sudah kontak tembak begini semua orang lari sendiri-sendiri,” lanjutnya. Dua puluhan anak yang ketakutan itu dimintanya duduk. “Anak-anak itu menangis. Segala cara saya coba untuk membuat mereka tenang,” ungkapnya. Bersama suami yang setia mendampingi, disediakanlah sarapan untuk anak-anak yang terbiasa mengandalkan perut kosong ke sekolah. “Nggak lama, sudah ada rumah-rumah yang dibakar. Karena kami takut sekolah juga dibakar, maka saya bawa anak-anak itu lari ke gunung di depan sekolah,” terang ibu asal Simpang Lhee, gampong (desa) di Kluet Utara, Aceh Selatan.

“Saya bawalah rantang, isi nasi, lauk, karena nggak tahu kita sampai kapan harus mengungsi ke gunung,” terangnya. Tidak ada yang bisa mereka lakukan. “Kami hanya sembunyi dan tiarap di balik batu, takut kalau ada yang naik ke gunung,” tuturnya menerawang. Menurut  ibu yang putra pertamanya masuk TNI ini, anak-anak sangat ketakutan apalagi mereka yang orangtuanya anggota GAM. “Yang diingat anak-anak itu bagaimana orangtua mereka, keluarga mereka,” cetusnya. “Kan waktu itu belum ada pelatihan (menghidupkan nilai) dari JRS, jadi ya nggak tahu bagaimana membuat anak-anak itu senang,” jelasnya sambil melemparkan senyum. Mengungsi ke gunung bukan berarti membuat anak-anak itu lebih tenang. Dari kejauhan mereka melihat gambaran kekerasan yang terurai di depan mata. Rumah-rumah yang dibakar. Semburan timah panas dari laras senapan. Cacian, umpatan serta jerit kesakitan dan ketakutan.

“Itulah yang dilihat anak-anak semasa konflik,” jelas guru yang sudah 28 tahun mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan. Konflik mempengaruhi kehidupan anak-anak didiknya waktu itu. “Yang digambar selalu senapan. Dinding kelas penuh tulisan dan gambar-gambar yang nggak jelas,” terangnya lagi. Anak-anak selalu meniru apa yang mereka lihat di luar. “Di sekolah mereka sering meniru apa yang dilakukan orang itu (GAM atau TNI) macam memukul lah, menendang, pokoknya macam lah,” tukas guru lulusan SPG ini. Perkelahian menjadi hal yang jamak terjadi di sekolah semasa konflik. Bahkan rasa tidak suka kepada guru tertentu diungkapkan terbuka lewat tulisan-tulisan yang bernada ancaman di dinding-dinding kelas. Menjadi guru saat konflik baginya adalah sebuah profesi yang penuh dengan coretan-coretan berwarna tantangan, suka dan duka.

“Kami ini dari atas pun ditekan, dibawah pun ditekan,” ungkapnya. Pihak GAM melarang guru-guru untuk berpakaian dinas PNS, mengajarkan PMP (Pendidikan Moral Pancasila), melaksanakan upacara bendera, menyanyikan lagu wajib bahkan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantar dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. “Saya ikut saja waktu itu,” sambungnya. “Buat saya yang penting saya tetap bisa ke sekolah dan mengajar anak-anak,” imbuhnya. “Pokoknya sekolah harus tetap buka,” tambahnya. Kegalauan keluarga terhadap keinginannya untuk tetap mengajar selalu dijawab ibu Siti Hajizar dengan senyuman. “Saya ini sayang sama anak-anak itu, biarlah saya mati nggak papa, yang penting mereka tetap bisa ke sekolah dan bisa lebih maju daripada orangtua mereka,” tutup ibu Siti Hajizar mengakhiri kisahnya semasa konflik.

Damai buatnya adalah anugerah. Harapannya jelas agar konflik tidak terjadi lagi. Meski mendidik anak-anak di masa damai tidak otomatis meringankan langkah dan melapangkan jalannya di depan. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan untuk membenahi pendidikan anak-anak Aceh paska konflik. Namun setidaknya ketika damai sudah menaungi bumi Serambi Mekah, ada banyak kesempatan yang bisa diraih untuk mengejar ketertinggalan. “Seperti yang sudah dibuat JRS sama kami dengan pelatihan kemarin di Tapaktuan,” cetusnya. Pelatihan menghidupkan nilai atau living values memampukan dirinya menciptakan suasana yang menyenangkan dan bebas dari konflik di sekolah. “Sekarang kami bisa bicara dengan anak-anak, tahu keinginan mereka dan membuat anak-anak itu senang berada di sekolah,” tukas guru paling senior di SDN Silolo ini.

Paulus Enggal dan Rahmawati

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca