Menjemput Impian di Tanah Harapan

Sabtu, Maret 16th, 2013

Lahan relokasi di Waai. Tanah Impian

 “Untuk apa mereka datang setiap hari ke sini?” pikir Usi Kos ketika JRS hadir di Vitas Barito pada hari-hari pertama. “Saya kira mbak Ning dan mas Edi itu guru karena mereka suka mengumpulkan anak-anak,” lanjutnya sambil tertawa.

Usi Kos adalah salah satu dari 29 keluarga Pengungsi yang tinggal di sebuah gudang tua yang tak layak untuk dihuni. Gudang Vitas Barito yang terletak di kota Passo, Ambon, ini sangat memprihatinkan, gelap, tanpa sirkulasi udara dan beratap seng yang di beberapa bagian sudah berlubang. Setiap keluarga tinggal dalam ruangan dengan sekat yang terbuat dari triplek. Sebagian lantainya diplester semen, sebagian sudah berlubang-lubang, kayu penyangga atap sudah rapuh, minim air bersih dan hanya dilengkapi dengan saluran pembungan limbah yang dibuat seadanya. Tinggal di sebuah gudang tua dalam waktu lama tentu merupakan hal yang tak diinginkan oleh siapapun.

Sebelum tinggal di gudang tua ini, Usi Kos bersama keluarga telah berkali-kali berpindah tempat untuk mengungsi akibat konflik yang meletus di Kariu, Pulau Haruku, pada 14 Februari 1999. Kerinduan dan harapan terbesar para pengungsi ini adalah memiliki rumah sendiri yang layak dan sehat. JRS hadir di tengah-tengah mereka dan berusaha membantu para pengungsi untuk meraih mimpi mereka tentang tempat tinggal yang pantas disebut rumah dengan cara mencari dan memastikan kepemilikan lahan di daerah Waai. Jika kepemilikan tanah telah aman secara hukum, mereka dapat memulai untuk membangun rumah.

Proses yang dilalui bersama JRS membuat Usi Kos belajar banyak hal. “Saya sangat bersyukur dengan adanya JRS di Vitas Barito. Saya dan keluarga sudah memiliki lahan di Waai. Saya akan merawat baik-baik apa yang sudah JRS upayakan bagi saya dan keluarga. Saya tidak tahu bagaimana lagi cara mengucapkan terimakasih kepada JRS” kata Usi Kos.

“Saya berharap di Waai nanti, saya dan keluarga dapat membangun rumah, menggarap kebun, dan beternak ayam,” ujar Usi Kos penuh semangat. “Saya juga ingin punya kios kecil di Waai” tambahnya.

Cerita Usi Kos adalah gambaran kecil dari pelayanan dan penemanan JRS selama tahun 2012 di Vitas Barito. Mewujudkan harapan Usi Kos dan Pengungsi Internal lainnya yang masih tersebar di sudut-sudut pulau Ambon “Manise” masih merupakan sebuah jalan panjang untuk mencapai solusi yang berdaya tahan.

Kumpulan pembelajaran tentang kehadiran JRS di tengah-tengah Pengungsi Internal selama setahun itu, telah disajikan dalam sebuah Diskusi Kelompok Pengambil Keputusan pada tanggal 18 Februari 2013, dan akan segera diterbitkan sebagai sebuah Studi Kasus. Pihak-pihak terkait dari unsur pemerintah setempat, perwakilan DPD Daerah pilihan Maluku, LSM Lokal, KOMNAS HAM Ambon dan komunitas pengungsi hadir untuk mengungkapkan kepedulian mereka mengenai kondisi Pengungsi Internal di Ambon serta mengidentifikasi peluang solusi yang dapat menginspirasi penanganan pengungsian di masa depan. Bagi JRS, diskusi ini juga menjadi tanda komitmen pihak-pihak yang hadir untuk melanjutkan pelayanan dan penemanan bagi Pengungsi sampai menemukan solusi berdaya tahan. Berkat Tuhan par katong samua…(Berkat Tuhan untuk kita semua)

Tim JRS Ambon 

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca