Pendidikan perdamaian dan pendidik yang berjiwa damai

Jumat, September 3rd, 2010

There can never be peace, between nations until it is first known that true peace is within the souls of men (Oglala Sioux)

Peace is not the absence of war; it is a virtue, a state of mind, a disposition for a benevolence, confidence, justice (Baruch Spinoza)

 Meski selama beberapa tahun terakhir tidak terjadi konflik horizontal dalam skala yang besar, namun tidak berarti bahwa bangsa Indonesia terbebas dari bom waktu bernama konflik kekerasan. Dalam diskursus membangun perdamaian (peacebuilding), situasi ini disebut tahap laten, di mana potensi konflik masih ada dan bisa meledak kapan saja, tergantung dari ketersediaan faktor pemicunya.

Apresiasi seni guru-guru MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri) Air Pinang

 Sebagai bangsa majemuk dengan beragam komunitas etnis dan agama, Indonesia  sedang bergumul dengan persoalan multidimensi seperti partisipasi dalam kesejahteraan ekonomi, kekuasaan politik, dan hak sosial-budaya. Potensi konflik menjadi laten saat ada tingkat kesejahteraan yang berbeda yang mengikuti latar belakang etnis, agama dan latar belakang sosial-budaya yang lain. Jika ada kesalahan atau bahkan penyalahgunaan kemajemukan demi keuntungan politik, akan terjadi ketegangan yang dapat mengakibatkan timbulnya konflik kekerasan

 Dalam lingkup yang lebih kecil, potensi konflik ada pada bahasa kekerasan yang ditempuh oleh sebagian pihak dalam menyelesaikan setiap persoalan. Cara-cara kekerasan juga dibudayakan baik oleh individu maupun berbagai institusi sosial politik dan ekonomi demi mencapai keuntungan dan kepentingan tertentu. Selain itu, media massa yang seharusnya menjadi penyampai pesan informatif dan edukatif juga secara terus-menerus mengkampanyekan kekerasan melalui berbagai tayangan atau bentuk publikasi cetak lainnya. Dengan berbagai bentuk dan media penyebaran, kekerasan akhirnya menjadi budaya yang tentu sangat berpengaruh pada perkembangan mental dan karakter individu.

 “Kami merasa televisi punya pengaruh yang sangat besar pada perilaku anak-anak,” tutur Helmawita (45) guru SD Lhok Rukam. “Perilaku anak-anak cenderungmeniru dari apa yang mereka lihat di televisi,” tambah Abdullah Isa (29) guru SDN Pulo Kambing. Fenomena ini terungkap dalam sharing pengalaman selama Pelatihan Pengembangan Nilai Dalam Proses Belajar Mengajar di Sekolah yang diselenggarakan atas kerjasama Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia, Living Values Indonesia dan Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Selatan, 29 Juni-2 Juli 2009 di aula pertemuan Dinas Pendidikan.

 Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas sederhana, yaitu suatu sistem pendidikan yang bisa membentuk generasi yang menghargai keadilan, menghargai sesama, dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip kemanusiaan sebagai prasyarat bagi terciptanya suasana damai dan harmoni. Dengan kata lain, pendidikan perdamaian menjadi kebutuhan mutlak, tidak hanya dalam konteks wilayah yang sedang bergejolak karena perang atau kekerasan, tetapi juga sebagai upaya untuk mengembangkan kepribadian setiap individu atau warga negara demi kualitas kehidupan mereka sendiri.

 “Sebenarnya ada banyak model atau bentuk pendidikan perdamaian, seperti yang dikembangkan oleh UNICEF. Tetapi JRS memilih Living Values sebagai bentuk pendidikan perdamaian yang ingin dikembangkan di Aceh Selatan,” terang Saefuddin Amsa, Koordinator Pelatihan Living Values JRS. “Pemilihan Living Values (LV) sebagai model pendidikan perdamaian didasarkan pada tiga hal. Pertama, LV bisa dikembangkan dalam situasi apapun baik pada masa konflik maupun damai karena yang digali dalam LV adalah nilai-nilai universal yang ada dalam diri setiap orang. Kedua, LV sudah menyediakan tools yang cukup lengkap. Alasan ketiga adalah karena yang dikembangkan dalam LV adalah nilai-nilai universal, maka dia bisa menjadi dasar bagi aktivitas lainnya,” tutur Amsa lebih lanjut.

  “Pelatihan Pengembangan Nilai Dalam Proses Belajar Mengajar di Sekolah ini sebenarnya sejalan dengan visi dan misi Dinas Pendidikan sendiri yang dituangkan dalam Sekohat atau Sekolah Sehat,” terang Kasman (45), Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh Selatan. “Sekohat sendiri mencakup tiga hal: Sehat Kegiatan Belajar Mengajar, Sehat Lingkungan dan Sehat Administrasi.” Hal ini diamini Taka Gani (44) fasilitator Pelatihan LV. “Living Values sendiri mencoba menciptakan sekolah sehat dalam kegiatan belajar mengajar,” paparnya.

 Bagaimana caranya? Yang terpenting dalam proses menciptakan suasana atau budaya damai di lingkungan sekolah adalah melalui kegiatan belajar yang memberi ruang kepada siswa untuk menerapkan nilai atau prinsip-prinsip perdamaian, seperti penghargaan, kasih sayang, toleransi dan kerjasama dengan orang lain. Bagi peserta pelatihan, suasana atau budaya damai di sekolah diterjemahkan dalam istilah ‘sekolah ideal’.

 “Bagi saya, sekolah ideal adalah sekolah yang ramah lingkungan,” ungkap Hamnis (43), guru MIN Air Pinang. “Dimana guru harus mengerti dan memahami latar belakang murid,” sambungnya lagi.

 “Sekolah ideal adalah sekolah dimana guru mau melayani siswa dan bersedia menjadi pengganti orangtua,” sambung Marwati (40), Kepala Sekolah SDN Ie Mirah.

 “Sekolah ideal akan terbentuk ketika ada kasih sayang, di mana guru tidak membeda-bedakan anak. Apakah dia pandai atau bodoh, kaya atau miskin,” jelas Yasmalinda Ningsih (41), Kepala Sekolah MIN Air Pinang.

 Pendidikan perdamaian di sekolah yang menekankan pada proses mengharuskan adanya prinsip atau pendekatan yang menjadi landasan dari setiap kegiatan atau interaksi antar individu di lingkungan sekolah. Sebagaimana dalam kegiatan belajar mengajar pada umumnya, prinsip atau pendekatan ini menempatkan guru sebagai pemegang peran utama. Tentu karena kegiatan atau suasana yang dirancang dalam pendidikan perdamaian ini bertujuan untuk menciptakan suasana atau budaya damai, maka seorang guru dalam hal ini juga harus menjadi orang pertama yang menciptakan suasana dan budaya damai tersebut.

 Seorang guru yang betul-betul peduli pada perkembangan karakter anak didik melalui pendidikan perdamaian harus terlebih dulu memiliki kesadaran dan menjunjung tinggi nilai-nilai kedamaian dalam dirinya. Hal ini karena pendidik tidak hanya mengajarkan suatu pengetahuan, tetapi juga bertanggungjawab terhadap perkembangan karakter dan kepribadian anak didik sehingga jika ia memulai dari dirinya sendiri maka ia akan menjadi panutan bagi anak didiknya.

 “Oleh karena itu, yang menjadi sasaran pertama adalah guru dan kepala sekolah untuk . menggali bersama 12 nilai dalam Living Values bersama siswa. Dan kemudian mengintegrasikannya dalam kegiatan belajar mengajar bahkan dalam sikap keseharian guru di sekolah,” terang Elis, Koordinator School Project JRS Aceh Selatan. “Ini yang menjadi dasar juga mengapa School Project menempatkan pelatihan Living Values sebelum palatihan yang lain  karena nilai-nilai itulah yang menjadi core atau inti setiap aktivitas di School Project,” tambahnya.

 Dalam relasi dan interaksinya kepada anak didik, seorang pendidik yang berjiwa damai tidak akan menempatkan dirinya sebagai guru yang hanya bertugas mengajar, atau sekedar hubungan antara guru dengan murid. Lebih dari itu, pendidik berjiwa damai juga mampu menciptakan suasana penuh kasih sayang kepada anak didiknya. Sikap yang sama juga ia terapkan dalam konteks relasi dengan sesama guru, kepala sekolah, atau anggota komunitas sekolah lainnya.

 “Bagi saya materi tentang mendengar aktif akan sangat membantu dalam memahami kondisi siswa. Kalau selama ini saya hanya melihat sisi luarnya saja maka dengan mendengar aktif saya bisa melihat latar belakang mengapa anak bisa bersikap seperti ini atau itu,” ungkap Kurnia (40), guru SDN Panjupian.

 “Pelatihan menghidupkan nilai dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah ini bisa membantu saya untuk menciptakan sekolah yang ideal. Sekolah yang aman dan damai, hubungan murid dan guru yang saling menghormati dan menghargai,” papar Evidawati (22), guru SDN Lhok Sialang Rayeuk.

 “Menurut saya dengan pelatihan menghidupkan nilai ini, kami sebagai guru yang mengajar di daerah konflik bisa terbantu untuk menciptakan kedamaian antara murid dengan murid maupun murid dengan guru,” jelas Syakrimuna (42), guru SDN Ie Mirah.

 “Dengan berbagi pengalaman bersama rekan-rekan guru yang lain selama pelatihan ini, kami bisa tahu kondisi masing-masing sekolah dan bagaimana kami bisa menciptakan sekolah yang ideal itu. Sehingga apa yang kita cita-citakan bersama sebagai tujuan pendidikan nasional akan tercapai,” ungkap Mardhiah (48), wakil kepala sekolah SDN Panjupian

 Pada akhirnya, seorang pendidik berjiwa damai bukan hanya seorang guru yang mengajar di sekolah. Pendidik berjiwa damai dengan semua sikap positif yang melekat padanya dan nilai perdamaian mampu membangkitkan semangat perdamaian secara luas kepada orang lain. Bagi Indonesia, pendidik berjiwa damai sungguh diperlukan tidak hanya untuk mendapatkan generasi muda yang bertujuan membangun budaya damai dan melengkapi mereka dengan dasar-dasar untuk menyelesaikan konflik laten yang mereka akan hadapi secara damai. Jika ada bahasa kekerasan, kita perlu mempelajari bahasa perdamaian. Tahap pertama adalah dengan mempelajari perbendaharaan kata seperti 12 kunci Living Values dan mempergunakannya di sekolah, di komunitas, dan masyarakat luas.

 Saefuddin Amsa dan Paulus Enggal

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca