Semangat Damai Perempuan di Wilayah Merah

Selasa, Pebruari 9th, 2010

Anggota kelompok pemudi Desa Simpang Dua sedang memelihara tanaman cabe mereka

Kepala Baina dibebankan pada tumpukan dua telapak tangannya. Wajahnya muncul di atas sandaran kursi. Sengaja ia duduk pada kursi yang terbalik posisinya, menghadap ke belakang. Lirih suaranya kala ia bercerita penggalan-penggalan hidupnya pada kurun waktu 2001-2004. Masa-masa kelam saat konflik antara GAM dan TNI pecah di bumi Serambi Mekah.

”Waktu itu bulan puasa. Saya lupa kalau hari itu hari latihan. Saat lagi asyik membantu mamak untuk persiapan berbuka, saya dipanggil aparat. Baru saya ingat kalau harus latihan volley. Dia marah sama saya. Dibentak-bentaknya saya. Lalu disuruhnya ke sungai belakang desa. Saya direndam sampai berjam-jam, sampai lewat waktu berbuka.”

Pemudi Desa Simpang Dua, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan ini mengungkapkan, latihan volley bagi para perempuan wajib hukumnya. Pihak yang mewajibkan adalah aparat TNI.

Sekalipun dingin dan lapar, perempuan yang kala itu masih duduk di bangku SMP awalnya tidak berani melawan. ”Orang tu bawa senjata. Tidak boleh keluar dari air sampai orang itu memerintahkan kita keluar dari air. Kalau kita melawan, senjata sudah ada di kepala kita.”

Pengakuan ini serupa dengan yang diungkapkan tiga kawan Baina, yaitu Abizah, Marina, dan Bangun Hayati. Menurut perempuan-perempuan yang aktif dalam organisasi pemudi ini, kata “terlambat” sangat dilarang bagi mereka.

”Tidak ada yang boleh terlambat satu menit pun. Kalau

terlambat, tahu sendiri akibatnya. Dihukum lari lapangan sepuluh kali atau sesuka mereka, direndam seperti Baina, push up. Ada juga yang sampai ditendang,” ujar Abizah yang juga guru SD di desanya.

Baina yang aktif sebagai bendahara organisasi pemudi di desanya menambahkan, saat konflik setiap hari selalu saja ada warga masyarakat yang direndam atau diperlakukan buruk oleh aparat.

“Seringnya baju sampai tidak mencukupi. Ayah saya, ditanya aparat tidak tahu jawabannya direndam dia. Pulang dari kebun kalau ada aparat marah, direndam lagi. Kadang sehari sampai tidak terhitung berapa kali direndam. Tapi aku sekali melawan. Diam orang itu tak berkata pun. Mereka sewenang-wenang,” kata Baina. Tertawa menang.

 

Pengawasan ketat

Tinggal di desa yang dianggap sebagai wilayah basis GAM atau kerap disebut daerah merah itu, pengawalan terhadap aktivitas kehidupan sehari-hari sangat ketat. Beberapa kewajiban tanpa pandang kondisi desa pun kerap diberlakukan.

Ketua Organisasi Pemudi Desa Simpang Dua, Marina mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan pangan pun warga harus mengikuti aturan yang dibuat aparat TNI. Warga desa diharuskan menanam ubi dan sayur-sayuran di lahan halaman rumah mereka.

”Kami tidak boleh menggarap kebun. Kalau mau kita ke kebun harus lewat pos jaga, lapor dan diperiksa. KTP harus ditinggal. Tidak boleh membawa nasi atau makanan. Tidak boleh bawa bekal. Aparat takut kami ke kebun sebagai dalih mengantar makanan ke anggota GAM.” Marina juga berkisah, beras dan bahan makanan yang dimiliki warga wajib disimpan di pos. Setiap hari warga harus ke pos untuk mengambil jatah beras sesuai dengan jumlah jiwa yang ada di masing-masing rumah. Pengalaman ini melahirkan strategi baru bagi sebagian besar warga.

”Jadi kalau belanja ke pasar harus diperhitungkan kebutuhan kita, agar tidak diambil aparat. Meski kadang sudah dipas-paskan dengan kebutuhan, eh mereka tetap ambil juga.”

Tidak hanya urusan hajat hidup warga yang dikontrol. Bahkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta pun dikontrol. ”Waktu sholat Jumat juga dikontrol. Yang tidak sholat Jumat, wah kena juga itu. Macam-macamlah hukumannya. Kalau sama laki-laki lebih berat hukumannya,” tambah Marina seraya tertawa ringan.

 

Mengungsi

Jika diminta menghitung berapa kali warga desa mengungsi, Marina, Baina, Abizah, dan Bangun Hayati mengaku sudah tidak ingat lagi. Dalam ingatan mereka, setiap kali ada kontak senjata di desa atau gunung-gunung (bukit) di sekitar desa mereka, warga lari mengungsi. Pengungsian massal seluruh warga secara serentak dilakukan dua kali.

”Kami dari Desa Simpang Dua dan Simpang Tiga pernah mengungsi ke Desa Malaka, di gedung SMP. Saat itu bulan puasa, terjadi kontak senjata. Kami lari karena merasa terancam. Kami mengungsi lebih dari satu bulan,” seru Abizah. Bangun Hayati dan Baina manggut-manggut mengamini.

Pengungsian massal kedua dilakukan ke desa di balik gunung, Desa Paya Ateuk, Kecamatan Pasie Raja, setelah warga mendapat ancaman. ”Tiap kali pulang dari pengungsian berantakan sekali. Harta-harta sudah hilang entah kemana. Kambing, ayam hilang,” tutur Marina.

”Anehnya, tidak ada bangkai di situ pun. Semua hilang,” ujar Abizah yang sekretaris pemudi ini.

”Tai kambing dimasukkan ke rumah kita. Tai-tai binatang ditaruh di baju kita yang tidak sempat kami bawa. Nggak tau bilang apa lagi. Uhhh… Jangan sampai kedua kali. Capek kita,” tambah Baina seraya mengeluh.

 

Kembalikan semangat

Saat konflik pecah, para pemudi dan warga umumnya merasa takut pada dua belah pihak, baik TNI maupun GAM. ”Mereka sama-sama pegang senjata. Kami perempuan harus main volley karena diwajibkan oleh aparat. Kalau tidak mau, direndam. Otomatis kami dianggap dekat dengan aparat walau terpaksa pun. Hidup kami terancam oleh pihak GAM. Sama-sama membuat takut lah,” keluh Bangun.

Di masa damai sekarang, mereka berempat ingin mengubur dalam-dalam masa kelam itu. Meski sakit yang mereka rasakan masih tersisa akibat perlakukan buruk yang sama dalam bentuk berbeda. Tantangan demi tantangan disodorkan pada perempuan-perempuan yang penuh semangat membangun desanya ini.

”Kalau sama aparat memang tidak bisa saya lupakan perlakukan buruknya, tetapi pada saudara kita sendiri? Jujur saat konflik dalam kondisi menyakitkan pun kita berusaha melindungi saudara kita yang di gunung (GAM). Tetapi setelah kondisi damai, mereka dapat jabatan, dapat segala macam bantuan, kita tidak ada yang diopen (diperhatikan). Tidak lagi diopennya saudara sendiri yang terpuruk karena konflik,” ungkap Marina.

Di sisi lain, aktivitas pemudi dan perempuan yang pernah berjaya sebelum konflik, tidak lagi berdaya pada masa kini. Untuk sekedar menggeliat bangkit pun, ada sebagian warga menentangnya.

”Bagaimana kami bisa berprestasi lagi seperti senior-senior kami jika berkegiatan pun dilarang. Kamipun tidak diberitahu mengapa dilarang. Hanya omongan bahwa pemudi tidak boleh olah raga, pemudi tidak boleh menari. Padahal kami melatih menari untuk anak-anak SD pun,” kata Abizah penuh semangat.

“Masa kami hanya boleh diam-diam saja di rumah. Berkesenian tidak boleh, padahal budaya Aceh yang kami pelajari. Aneh, pemudi tidak boleh maju,” ujar Baina.

Marina berharap, perdamaian benar-benar terwujud dalam bentuk yang lebih nyata. ”Damai ya damai, tapi tolong kembalikan semangat kami supaya kami tidak hanya ingat masa lalu yang buruk. Semangat untuk berjuang melalui kegiatan-kegiatan kesenian, kegiatan sosial. Alat-alat kesenian semua dulu ada untuk kegiatan kami, tetapi semua hancur oleh konflik. Bukan justru melarang tanpa alasan.”

Beruntung, perangkat desa termasuk geuchik (kepala desa) dan pemuda di desanya sangat mendukung kegiatan pemudi.

Ninuk Setya Utami

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca