Buka Pikiran, Bebaskan Potensi

Rabu, September 7th, 2016

Tidak seorang pun ingin meninggalkan negaranya. Namun ada hal-hal yang memaksamu pergi. Hal-hal yang membuatmu mencari suaka ke tempat aman, ke tempat yang damai.” Dawood, seorang pencari suaka di Indonesia.

open-minds-unlock-potential Setiap 20 Juni, kita memperingati Hari Pengungsi Sedunia. Lebih dari 65 juta orang, yakni para ibu, ayah, kakak, adik, dan anak-anak, berusaha menyelamatkan diri setelah terpaksa meninggalkan rumah mereka karena perang, kekerasan, dan ancaman penganiayaan. Kita semua terperangah, tidak hanya karena kekejaman dan kerusakan yang tidak manusiawi dalam konflik maupun merosotnya penghormatan terhadap hak asasi manusia dan prinsip kemanusiaan di negara asal pengungsi, namun juga karena sikap setengah hati dan terkadang reaksi kejam dari orang-orang dan otoritas di mana pengungsi mencari tempat untuk bernaung dan keamanan. Mereka yang mencari suaka atau perlindungan internasional ini terus ditolak, tidak hanya di Eropa dan Australia, tetapi juga di Asia Tenggara. Baru-baru ini, sebuah kapal yang dipenuhi pencari suaka Sri Lanka dibiarkan terkatung-katung berhari-hari dalam ketidakjelasan dan baru akhirnya diperbolehkan berlabuh karena cuaca buruk tidak memungkinkan mereka untuk didorong kembali ke laut lepas.

Gelombang ketakutan dan kebencian global serta insiden kekerasan terhadap orang-orang yang meminta perlindungan internasional memanggil kita semua untuk berpihak pada para pengungsi. Dalam perjumpaan personal dengan merekalah, kita dapat lebih mengerti alasan mereka mengungsi, ketakutan mendasar yang mereka alami, dan harapan mereka. Di masa ini, banyak pengungsi merasa ditolak dan diasingkan, tidak hanya oleh tanah air mereka, tetapi juga oleh reaksi dunia atas penderitaan mereka.

Dalam situasi ini, JRS Indonesia mengajak segenap pihak yang berkehendak baik di Indonesia dan Asia Tenggara untuk membagikan pesan, pemikiran, dan perasaan mereka bersama para pengungsi lewat foto di media sosial. Foto-foto tersebut mengajak masyarakat untuk mendukung petisi UNHCR bertajuk #WithRefugees, serta memupuk harapan dan solidaritas bagi para pengungsi di wilayah Indonesia dan sekitarnya.2016-wrd-jrs-national-office 20160609_bgr_adv_foto-world-refugee-day_by-team ???????????????????????????????

Direktur Internasional JRS, Thomas H. Smolich SJ, mengajak kita pula untuk tidak hanya menyediakan tempat tinggal yang aman bagi pengungsi, namun juga memberi kesempatan bagi mereka untuk bertumbuh dan memberikan sumbangan bagi masyarakat. Melindungi berarti menjaga keamanan pengungsi dari segala yang jahat, termasuk kemiskinan, keterasingan, eksploitasi, kesalahpahaman, dan pengabaian. Karena itulah, JRS pada peringatan Hari Pengungsi Sedunia 2016 mengangkat tema “Buka Pikiran, Bebaskan Potensi”, dan merilis video singkat berisi kata-kata para pengungsi dan Paus Fransiskus yang menyampaikan kepada dunia, apa artinya menjadi pengungsi menurut para pengungsi sendiri.

Dalam video tersebut, Wahida, pengungsi yang sedang bertahan hidup di Indonesia, mengundang kita untuk menerima sebuah kenyataan bahwa “Pengungsi adalah manusia juga. Kami bernafas seperti orang lain pun bernafas. Orang memiliki hidup dan relasi dengan sesamanya, kami juga. Orang punya hidup yang normal, kami pun demikian.” Pengungsi adalah orang-orang normal yang menghadapi keadaan yang luar biasa.

Ketika mendengar orang menyebut kata ‘pengungsi’ atau ‘orang asing’, saya makin menyadari bahwa mereka tidak akan menerima saya apa adanya. Mereka tahu bahwa saya pengungsi, tetapi mereka membuat kata ‘pengungsi’ terdengar seperti sesuatu yang buruk,” ujar Valerie, seorang pengungsi dari Republik Demokratik Kongo.

Merefleksikan situasi saat ini, Thomas H. Smolich SJ mengatakan, “Kita perlu menemukan kembali cara untuk hidup bersama. Kita perlu menunjukkan belaskasih dan sikap menerima satu sama lain. Tindakan belas kasih ini harus bersifat timbal balik dan konkrit. Membuka pintu bagi pengungsi tidaklah cukup. Kita perlu membuka diri dan pikiran untuk membuka potensi kita sebagai komunitas.” Dengan kata lain, kita bisa berbuat lebih baik bersama pengungsi. Kita bisa bertindak dengan lebih berani.

JRS Indonesia memberikan bantuan berupa pendidikan, dukungan psikososial, akses ke pelayanan kesehatan, makanan, dan tempat bernaung bagi pengungsi lintas batas negara, pengungsi dalam negeri, pencari suaka, dan mereka yang ditahan di rumah deteni imigrasi. Dalam kolaborasi dengan pengungsi dan jejaring, JRS berharap dapat menginspirasi mekarnya budaya keramahan dan solidaritas bagi pengungsi, mendorong terjadinya perjumpaan dan saling pengertian antara masyarakat Indonesia dan komunitas pengungsi, serta mengusahakan solusi bagi pengungsi yang terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka.

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca