Karena Competence dan Conscience Saja Tidaklah Cukup

Kamis, Maret 3rd, 2016

Karena competence dan conscience tidak cukupApa yang melatarbelakangi kunjungan JRS ke Kolese Loyola, Semarang 19 November 2015 yang lalu? Para guru di Loyola merasa perlu  menajamkan sensitivitas sosial dan sikap empatik para murid karena mereka menjumpai bahwa yang lebih banyak digarap selama ini ialah dua sisi pertama mereka: competence dan conscience. Sementara sisi compassion, agak kembang kempis.  Kunjungan ini diharapkan mampu membuka kesadaran mereka terhadap realitas pengungsi dan dapat menggerakkan mereka untuk melakukan sesuatu dalam kapasitas mereka.

Dalam kegiatan public awareness ini, kami membagi pengalaman mendampingi para pengungsi di Yogyakarta kepada 250 siswa kelas XI SMA Kolese Loyola. Indra lebih banyak menyoroti isu kepengungsian secara global lewat data-data terbaru, sementara Grace dan saya menyapa mereka lewat cerita sepanjang menjadi relawan di JRS. Grace bercerita jika perjumpaannya dengan pengungsi dimulai ketika ia masih mengenakan seragam putih merah. Saat itu seorang guru mempersilakan seorang murid dari Afghanistan untuk duduk di sebelahnya karena kemampuan bahasa Inggris Grace dipandang lebih baik ketimbang murid lainnya. Grace belum mengetahui banyak latar belakang teman barunya saat itu, sampai akhirnya ia menyadari bahwa temannya tersebut ialah seorang pengungsi. Pengalaman ini begitu melekat dalam ingatannya yang kemudian menjadi pemantik pula untuk terlibat di dalam JRS.

Seperti Grace yang memulai cerita dengan kenangan masa sekolahnya, saya juga membagi pengalaman disapa oleh seorang guru saat saya masih duduk di kelas dua SMP. Saat itu saya merasa tidak nyaman berada di kelas unggulan bersama 19 murid lainnya yang memiliki ingatan fotografis. Performa akademik saya tidak menunjukkan tanda-tanda yang menjanjikan. Ada perasaan terintimidasi di tengah kompetisi akademik yang kencang. Dalam situasi tersebut, seorang guru biologi menyadari perubahan perilaku saya. Saat itulah ia menyapa saya di depan semua penghuni kelas. “Saya percaya bahwa Chris,” sambil menunjuk dan menatap saya saat itu, “akan menjadi pria yang ganteng.” Seisi kelas pun tertawa mendengarnya. Pujian ganteng yang dilontarkan saat itu membuat saya malu. Malu-malu mau. Tetapi tanpa sadar, kesesakan gairah yang sempat saya alami perlahan hilang. Saya mulai mengumpulkan kembali gairah belajar yang sempat terserak dan menunjukkan prestasi akademik di bidang bahasa. Pujian yang ia berikan memberi pengharapan baru dan pikiran bahwa ada hal baik dalam diri saya yang bisa dibanggakan dan jika dikembangkan akan memberikan manfaat.

Saya meyakini jika ganteng yang ia maksudkan pada saat itu tidak melulu tentang apa yang nampak secara visual. Ketika seseorang bisa memberikan diri sebaik-baiknya bagi sesama, itulah ganteng dalam pengertian yang lebih luas. Pengalaman disapa secara personal inilah yang ingin saya bagikan tiap waktu kepada pengungsi. Tidak secara langsung mengatakan bahwa, “Kamu ganteng.” Tetapi dengan sedikit modifikasi, misalnya, “You play like Messi”, “Your handwriting is awesome now”, “Your homework is excellent”, “I like your hairstyle”, dll. Dengan kata lain, melihat mereka sesuai dengan hal-hal baik atau potensi terbaik yang mereka miliki, sama seperti apa yang telah ditunjukkan oleh guru biologi saya saat itu. Di akhir sharing, saya menantang mereka untuk menyapa sesama lewat kontribusi, apapun bentuknya.

Setelah sesi presentasi, para murid kembali ke kelas dan berdinamika dalam kelompok. Para guru membagikan beberapa foto kondisi para pengungsi untuk membantu siswa merefleksikan tiga pertanyaan mengenai perasaan yang muncul saat melihat foto tersebut, apakah peristiwa tersebut bisa terjadi pada mereka—para murid, dan apa yang akan mereka perbuat seandainya mereka menjadi pengungsi.

materi diskusi artikel ChrisKemudian kami memilih dua kelompok untuk dibacakan refleksinya. Kelompok pertama mendapat foto tentang kalimat di tembok Rumah Detensi Imigrasi yang ditulis oleh  seorang pengungsi yang merindukan ibunya, Kalimat tersebut tertulis demikian: “My beauty mom, you are always in my heart and I always thinking about u. I love u mom, from Sadra.” Kelompok tersebut menulis, “Kami dapat merasakan keputusasaan yang dialaminya. Kami merasa bersyukur karena kami masih bisa merasakan kedamaian dan masih memiliki anggota keluarga yang peduli kepada kami.”

Mereka juga membayangkan bahwa peristiwa tersebut bisa juga melanda mereka. “Dapat kami rasakan, sebagai anak kos, bahwa sungguhlah sulit bagi kita untuk terpisah dari orangtua, padahal kita hanya terpisah tidak sejauh korban perang yang kemungkinan untuk dapat bertemu kembali sangatlah kecil. Tentulah mereka lebih menderita daripada kita.” Kelompok lain menulis: “Kita tidak tahu kapan konflik akan terjadi, menghindarinya juga sulit. Tetapi kita bisa mencegahnya dengan cara: saling membantu satu sama lain tanpa memikirkan ras, agama, dan saling mengerti dan memaafkan satu sama lain. Dua hal tersebut dapat dilakukan untuk mencegah konflik sebab konflik terjadi karena ada rasa benci dan kesalahpahaman.”

Untuk pertanyaan nomor tiga, kelompok lain menulis: “Yang jelas tetap harus menggali semangat hidup dan harus berusaha beradaptasi dengan keadaan atau perubahan baru. Serta membuka diri pada orang baru di situ untuk tetap menjalin komunikasi.

Ada satu kelompok yang menuliskan refleksi mereka ke dalam sebuah puisi dengan judul “Fatamorgana”. Sepenggal baitnya:

Sekejap semuanya senyap

Mimpi jauh dari genggamku

Orang yang kusayang

Tidur dalam senyap

Sesi tanya jawab menjadi sesi yang menghidupkan. Banyak pertanyaan menarik yang mereka ajukan. “Bagaimana prosedur menjadi volunteer di JRS?”, “Bagaimana caranya agar saya bisa bekerja bagi JRS?”, “Apakah jika menjadi staf JRS, itu artinya seseorang mesti siap untuk mati syahid?”  Indra menjawab sebagian besar pertanyaan mereka dengan beberapa contoh pengalaman staf dan relawan.

Untuk mengakhiri acara ini, Grace menantang para  murid untuk bertindak dalam compassion sebagai aplikasi konkret atas competence dan conscience yang telah mereka bangun. “Kalian bisa melakukannya dari hal-hal sederhana. Kalian semua pastinya punya media sosial, seperti Facebook atau Twitter, kan? Kalian bisa mulai dari sana, menyebarkan informasi kepada teman-teman kalian tentang isu-isu kepengungsian. Itu juga adalah upaya public awareness,” kata Grace. Ia lalu melanjutkan, “Barangkali saat ini kalian belum bisa melakukan banyak hal. Tetapi satu waktu nanti saat kalian telah menyelesaikan studi kalian, entah di bidang IT, psikologi, atau hukum, kalian akan teringat pada isu-isu kepengungsian dan JRS. Di sana kalian bisa mulai membantu dan bergabung dengan kami.”

Melihat antusiasme mereka, saya meyakini bahwa kita masih bisa meletakkan tantangan kepengungsian dan upaya-upaya penyelesaiannya pada pundak mereka.

Franciscus Chrismanto Simamora

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca