Lakukan Satu Hal: Guru Renang yang Tak Terduga

Kamis, Maret 22nd, 2018

Do1Thing 2

Berenang mungkin adalah ketrampilan yang biasa bagi kita yang terbiasa liburan ke pantai, tinggal di dekat laut, atau pernah melatihnya di sekolah. Namun untuk pengungsi dari sebuah negara gersang yang tidak berbatasan dengan laut seperti Afghanistan, keterampilan berenang begitu istimewa. Kalau tidak bisa berenang, nyawa bisa terancam, seperti saat orang-orang Afghanistan terpaksa mengungsi dengan kapal atau perahu reyot yang terombang-ambing di laut.

Najib adalah seorang Hazara yang mengungsi dari Afghanistan ke Indonesia dan saat ini harus menunggu lama untuk mendapatkan kesempatan pemukiman ke negara ketiga. Sebelum sampai di Indonesia, ia tak tahu cara berenang. Sekarang Najib belajar dengan bantuan dari beberapa pelatih, yakni anak-anak setempat yang kerap ditemuinya di kolam renang. “Ketika berenang, saya lupa akan semua masalah saya sebagai pengungsi. Berenang membuat saya merasa lebih baik.”

Seringkali kita menanggap dukungan psikososial hanya bisa dilakukan oleh ahlinya. Tapi, seperti yang dikisahkan Najib, kunci menuju pikiran dan hati yang lebih sehat bisa datang dari orang-orang yang tak terduga, yang mungkin saja tidak menyadari kemampuan mereka sendiri untuk mengubah kehidupan.

Bahkan, anak-anak yang mengajari Najib berenang mungkin tidak menyadari sumbangan mereka terhadap kesehatan jiwa Najib. Mereka hanya melakukan satu hal (#Do1thing) yang terbukti cukup untuk menciptakan perubahan.

Pastor Thomas Aquinas Maswan Susinto, SJ: Pengungsi Ingin Hidup Damai

Paus Fransiskus berulang kali mengunjungi para pengungsi, menyapa mereka dan mendorong kepedulian terhadap mereka. Ia bahkan pernah memboyong tiga keluarga pengungsi Suriah ke Vatikan. Bagaimana pandangan dan ajaran Gereja terkait pengungsi? Lanjutkan baca

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca