Accompaniment – Menyentuh yang Tak Tersentuh

Kamis, Juni 2nd, 2016
20150902-IMGP4598

Pelajaran menulis untuk pengungsi Rohingya

Jarum jam di tanganku menunjukkan pukul 10.35 pagi. Kamp pengungsian di Desa Bayeun Aceh Timur mulai ramai. Sebagian pengungsi Rohingya terlihat mulai melakukan aktivitas rutin mereka. Sekelompok pengungsi remaja mulai berkumpul di ruang kelas untuk memulai aktivitas belajar bahasa Inggris, sementara anak-anak berkumpul di salah satu sudut bangunan kayu semi permanen untuk mengikuti kegiatan belajar dan bermain yang difasilitasi oleh relawan sebuah NGO. Di sudut bangunan yang lain terlihat belasan pengungsi perempuan beserta anak-anak balita mereka bergerombol bersama relawan yang lain. Beberapa pengungsi yang lain nampak duduk-duduk di bawah pohon sambil berbincang di antara mereka. Begitulah suasana sehari-hari di kamp pengungsian ini.

Setelah beberapa hari mengunjungi kamp dan memperhatikan rutinitas kegiatan pengungsi, mata saya tertuju pada sesosok remaja belasan tahun yang duduk sendiri di dalam tenda, sementara teman-temannya  telah sibuk beraktivitas. Terdorong oleh rasa penasaran akhirnya saya menghampiri  remaja tersebut. “Nama saya Mohammad Hasan,” begitu dia memperkenalkan diri. Dengan wajah menunduk malu dan kurang percaya diri, Hasan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan bahasa Indonesia sepenggal-sepenggal. “Saya no like study, saya hari-hari duduk di sini. Sore hari saya play football”. Selama kunjungan saya di kamp ini, saya belum pernah melihat pemuda 15 tahunan ini bergabung bersama teman-teman seusianya untuk belajar di kelas.

Saya tidak percaya bahwa Hasan tidak suka belajar. Saya mencoba mencari tahu kenapa dia tidak mau bergabung dengan teman-temannya untuk belajar bahasa Inggris atau aktivitas yang lain. Hingga akhirnya suatu hari saya mendapatkan jawabannya. “Abang..  saya no like study, saya malu. Saya no bisa baca, no bisa tulis,” jawab Hasan.

20150902-IMGP4603

Materi pelajaran bahasa Inggris yang digunakan pengungsi Rohingya di Aceh

Setelah mengamati beberapa hari, saya menemukan Hasan ternyata tidak sendiri, ada Rofik, Mohammad Aziz dan Amin yang terlihat duduk-duduk atau tiduran di dalam tenda pada saat teman-teman mereka sibuk belajar di kelas. Dengan alasan yang sama mereka mengaku malu bergabung di kelas karena belum bisa membaca dan menulis. Dari sinilah kemudian muncul ide untuk melakukan intervensi secara khusus dan personal. Saya lalu meminta rekan-rekan saya untuk menemani Hasan dan teman-temannya belajar membaca dan menulis di tenda mereka.

Dari waktu ke waktu terlihat keceriaan mulai terpancar dari wajah Hasan dan teman-temannya. Satu setengah bulan berlalu, kini ia telah nampak lebih ceria dengan tatapan penuh percaya diri. “Abang…sekarang saya bisa tulis nama saya. Ini father…ini mother dan sister saya,” Hasan mencoba menjelaskan nama-nama orangtua dan saudaranya yang dia tulis di sebuah papan tulis kecil. Dengan senyum lebar saya pun memuji apa yang telah dicapainya.

Hasan adalah simbol dari sebagian pengungsi yang terlupakan, yang tidak tersentuh. Ketika sebagian pengungsi telah mendapatkan dan menjalani berbagai aktivitas, ada sebagian lain yang luput dari pandangan kita. Orang-orang yang tidak berani menunjukkan dirinya, merasa malu dan tidak percaya diri, mereka lah yang membutuhkan intervensi.

Ketika kebanyakan orang lebih memilih memberikan perhatian kepada mereka yang nampak di depan mata, sudah selayaknya kita mencoba mencari dan memberi perhatian kepada mereka yang tidak nampak atau bahkan sengaja menyembunyikan diri. Di antara hal-hal besar yang sudah dipedulikan orang, pasti ada hal-hal kecil dan tersembunyi yang luput dari perhatian. Maka kemampuan untuk menyentuh apa yang tidak tersentuh akan melahirkan kebahagiaan dan kesejatian dalam penemanan

20150904-IMGP4672

Pengungsi Rohingya berlatih mengetik di komputer

***

Sejak kedatangan pengungsi Rohingya di wilayah Aceh pada Mei 2015, gelombang simpati berdatangan untuk membantu mereka, mulai dari masyarakat lokal Aceh hingga komunitas internasional. Euforia simpati yang berkembang di masyarakat dalam menyambut pengungsi Rohingya adalah wujud dari kepedulian masyarakat dan pemerintah baik pusat maupun daerah dalam membantu pengungsi.

Waktu terus berjalan, gelombang bantuan untuk pengungsi pun seakan tiada hentinya berdatangan. Tidak kurang dari 18 organisasi baik lokal, nasional, maupun internasional menjalankan peran masing-masing untuk membantu pengungsi, dalam kerjasama dengan pemerintah setempat. Misalnya: UNHCR, IOM, JRS, Save the Children, Dompet Dhuafa, PKPU, Insan TV, Yayasan Sheep Indonesia, Peduli Muslim, Bulan Sabit Merah Indonesia, ACF, CMC, Roja TV, MSF, As-sunni, MDMC, Yayasan Geutanyoe, BPBD, Tagana, pemerintah daerah Kabupaten Aceh Timur serta Kota Langsa, Imigrasi dan lain-lain bahu-membahu memberikan bantuan kepada pengungsi hingga saat ini.

Situasi yang terjadi di Aceh dalam penanganan pengungsi Rohingya ini menjadi fenomena yang sangat menarik untuk dikaji karena sangat berbeda dari proses penanganan pengungsi lintas batas lainnya yang terjadi selama ini di wilayah lain di Indonesia. Sebagaimana diketahui, urusan penanganan pengungsi lintas batas atau imigran di Indonesia selama ini hanya menjadi ranah Imigrasi, UNHCR dan IOM sebagai institusi yang menerima mandat secara langsung dari Pemerintah Indonesia.

Namun, penanganan pengungsi Rohingya dan imigran Bangladesh di Aceh melibatkan pemerintah daerah, lembaga-lembaga kemanusiaan, dan juga kelompok masyarakat yang tergabung dalam Satuan Tugas Penanganan Pengungsi Rohingya bentukan pemerintah daerah Kabupaten Aceh Timur dan Kota Langsa. Secara umum, model penanganan pengungsi secara terbuka dengan melibatkan banyak pihak telah memberikan ruang partisipasi masyarakat yang menunjukkan besarnya komitmen dan kepedulian masyarakat terhadap isu pencari suaka dan pengungsi.

Keterlibatan banyak lembaga mempermudah pemenuhan kebutuhan dan hak-hak pengungsi. Namun di sisi lain, keterlibatan banyak lembaga yang tidak disertai sistem tata kelola dan aturan yang jelas sangat berpotensi menimbulkan persoalan dalam koordinasi, tumpang tindih, dan bahkan konflik kepentingan serta kecemburuan masyarakat lokal. Dari pengalaman ini muncullah ide untuk membuat SOP atau sejenis panduan untuk penanganan pengungsi lintas batas yang berbasis komunitas. Panduan berdasarkan pengalaman ini sedang disusun oleh Yayasan Sheep Indonesia dan akan diterbitkan dalam beberapa waktu  mendatang.

Karena dukungan material telah dipenuhi oleh berbagai organisasi, JRS memilih untuk fokus pada dukungan koordinasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang siapa orang Rohingya dan apa status mereka, melalui kegiatan public awareness seperti talkshow di radio. Dialog publik dengan berbagai unsur pemerintah difasilitasi oleh beberapa NGO (Yayasan Geutanyoe, ACF dan Yayasan Sheep Indonesia) dengan mengajak JRS untuk berbagi pemahaman dan pengalaman dalam mendampingi pengungsi lintas batas di Indonesia.

Untuk memastikan bahwa tidak ada pengungsi dan aspek pendampingan yang terlupakan, JRS memfokuskan dukungan untuk membantu koordinasi, mengatasi kesenjangan, membagi informasi dan mendukung semua pihak yang ingin menjangkau masyarakat lokal dan pengungsi Rohingya, untuk mengembangkan pemahaman akan perbedaan budaya yang ada.

*Nama para pengungsi dan pencari suaka telah diganti untuk melindungi identitas mereka

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca