Aksi Tulus untuk Solidaritas

Rabu, Agustus 12th, 2015

“Lho, memangnya ada pengungsi di Manado?” ucap Erlyn Kindangen dengan logat Sulawesi Utaranya yang kental. “Begitulah kira-kira reaksi spontan saya ketika pertama kali mendengar dari JRS soal karya mereka di Manado,” katanya sambil kemudian tertawa renyah. JRS Indonesia memulai karya di Rumah Detensi Imigrasi Manado pada bulan Januari 2015 lewat program penemanan untuk pengungsi dan pencari suaka.

Erlyn, perempuan yang berprofesi sebagai wiraswasta ini kemudian menuturkan keterlibatannya sebagai sukarelawan JRS yang mengalir begitu saja tanpa direncanakan dan tanpa banyak dipikirkan. “Awalnya saya hanya ingin menjemput Elis (staf JRS) teman saya di bandara saat dia datang ke Menado. Tapi semakin saya mendengar soal isu pengungsi ini, semakin saya ingin bisa membantu. Kan aneh, mereka itu pergi dari negaranya karena ingin mencari kebebasan, ehh… tapi yang didapat malah penjara. Padahal kan mereka bukan kriminal.” ujarnya dengan suara dan gerak tubuh yang ekspresif.

Erlyn kemudian terlibat aktif menghubungkan JRS dengan beberapa pemangku kepentingan di lingkungan Gereja Katolik di Manado. Salah satu hasil dari kontak ini berupa sesi public awareness yang diadakan JRS untuk para frater di Seminari Tinggi Hati Kudus Pineleng. Dari situ, beberapa frater kemudian menjadi sukarelawan JRS untuk mengajar kelas gitar dan bahasa Indonesia bagi para deteni. Saat ini, Erlyn juga terlibat langsung sebagai guru sukarela di kegiatan belajar bahasa Indonesia untuk para deteni.

Ketika ditanya pengalamannya saat pertama kali masuk ke Rumah Detensi, ia menjawab “Awalnya saya kaget, ternyata deteninya tinggi besar-besar! Tapi ternyata mereka baik dan sopan, saya jadi merasa nyaman untuk berinteraksi dengan mereka.”

Pengalaman mengajar deteni juga menjadi pembelajaran tersendiri bagi Erlyn. “Sebelum mulai mengajar, saya sudah dibekali pengetahuan oleh staf JRS tentang normanorma mereka, bagaimana saya harus bersikap dan bertindak. Jadi saya tidak merasakan adanya hambatan budaya atau kesalahpahaman.” Erlyn melanjutkan, “Tapi kadang saya tidak bisa menahan tertawa kalau mendengar mereka salah mengucapkan kata dalam bahasa Indonesia. Akhirnya mereka ikut tertawa bersama saya.” Timpalnya yang kemudian berujung tawa pula.

Saat diminta merefleksikan pengalaman keterlibatannya bersama para deteni, Erlyn berkata, “Saya jadi diingatkan untuk selalu rendah hati. Terkadang jika kita sudah berada di posisi yang tinggi, kita lupa untuk melihat ke bawah. Ada orang-orang yang dipaksa untuk selalu menunduk hanya karena mereka membutuhkan bantuan. Lewat cara inilah saya disadarkan.”

Triarani Utami

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca