“Body Not Work”

Minggu, Desember 21st, 2014
Gading bersama Pencari Suaka dalam Workshop Pendidikan Nilai

Gading bersama Pencari Suaka dalam Workshop Pendidikan Nilai

Namanya Harun, 24 tahun, dari Sri Lanka. Menjadi umat Kristiani dan bagian dari suku Tamil membuat hidupnya tak lagi aman di Sri Lanka.  Perang saudara lama terjadi di Sri Lanka. Hingga saat ini penculikan dan pembunuhan terhadap penduduk sipil masih kerap terjadi.

Harun sudah datang di Indonesia sejak tahun 2013. Bersama dengan Pencari Suaka yang lain, saat itu dia mencoba menyelamatkan dirinya dengan menaiki perahu ke Australia. Namun, perahu yang dinaikinya rusak dan semua penumpang tergenang di perairan Samudra Hindia selama berhari-hari. Berat badannya turun 15 kg. “Agen yang menyediakan jasa ilegal lari dan uang kami tak pernah dikembalikan,” ucapnya dengan bahasa Inggris yang sangat terbata-bata.

Hidup di Indonesia, bukanlah hal yang mudah bagi Harun. Karena rasa takut yang selalu menghantui hidupnya, ia sulit percaya kepada orang lain. Harun harus bersabar untuk tinggal di Indonesia dan menanti keputusan UNHCR. “Saya tidak punya uang untuk bertahan lama, my life is very problem,” ungkapnya berkali-kali.

JRS pertama kali bertemu Harun pada bulan Maret 2014. Harun menumpang di rumah temannya yang juga berasal dari Sri Lanka. Tanpa kasur, Harun tidur di atas potongan kardus di ruang tamu sebuah rumah yang sangat kecil. Setiap siang, Harun harus menempuh 2 km untuk pergi ke sebuah kuil yang menyediakan makanan ringan gratis setiap hari. Harun menghubungi JRS karena merasa gatal-gatal sekujur tubuhnya. Dia mengatakan kalau sudah mengalaminya hampir satu tahun.

Sebelum bertemu JRS, Harun ternyata pergi ke rumah sakit. Keterbatasan bahasa telah menghalangi komunikasinya. Penyakitnya tak tertangani dan semakin parah. JRS memutuskan untuk memberikan pendampingan kesehatan kepada Harun. Saat diantar ke dokter pertama kali, Harun didiagnosis keracunan obat. Selama satu tahun, Harun telah mengkonsumsi obat yang sebenarnya diresepkan oleh dokter untuk penggunaan terbatas. “Saya tidak tahu, tanpa obat, body not work.” Teman-teman Harun pun sudah enggan menemaninya karena mereka takut tertular oleh gatal-gatal itu.

Bersama JRS, Harun sudah tiga kali berganti dokter. Seluruh dokter menyebutkan bahwa Harun keracunan obat dan gatalnya disebabkan oleh alergi sehingga tidak menular. Alergi tersebut disebabkan oleh kondisi rumah yang kotor, tidak layak dan lembab. Alergi juga disebabkan karena alas tidur yang tidak higienis. Di tubuh Harun terdapat guratan-guratan luka yang disebabkan oleh keracunan obat.

“Harun sudah mengalami ketergantungan terhadap obat yang mengandung steroid. Tidak seharusnya obat ini dibeli sendiri. Jika terlambat datang ke sini, Harun bisa mengalami pendarahan di organ pencernaan, pembengkakan pada kulit, pengeroposan tulang hingga kerusakan mental. Satu-satunya jalan adalah dengan mengurangi dosis obatnya dan tidak memberikan obat yang lain” dokter Nana, menjelaskan secara detail. “But, body not work doctor…medicine not work..,”Harun yang mengalami kesulitan bahasa, merasa bahwa tindakan dokter tidak ada efeknya. Selama satu tahun, Harun memang sudah kesulitan bangun tidur di pagi hari dan tidak bisa tidur di malam hari tanpa meminum obat. Sekujur tubuhnya merasa sakit dan juga tumbuh jerawat. “You need to be patient. You should come back here and not buying the medicine by yourself,” dokter Nana menasihati. Harun hanya bisa tersenyum kecut.

Kendala bahasa dapat menjadi tantangan yang serius bagi kehidupan Pencari Suaka dan Pengungsi. Ketidaksanggupan untuk berkomunikasi dan memahami apa yang dikatakan oleh dokter mengakibatkan dampak bagi kesehatan Harun. Keterbatasan ini juga membuat para dokter tidak tahu bagaimana harus memberikan penjelasan agar mereka mengerti. Secara sabar, JRS terus menerus menjelaskan tentang nasihat dokter kepada Harun. JRS juga menghubungi beberapa teman Harun untuk turut membantu menjelaskan.

Pada tanggal 10 Juni 2014, akhirnya UNHCR memberikan status Pengungsi kepada Harun. Namun, wajahnya tetap murung. “Refugee and asylum seeker same-same. No difference. My body still not work. I still no room,” keluhnya dengan suara perlahan. Menjadi Pengungsi memang tidak serta merta mengubah kehidupan Harun. Dia masih harus menanti proses penempatan ke negara ketiga (resettlement) yang juga tidak sebentar. “Maybe I wait one year ya?” tanyanya polos.

Berkat bantuan beberapa orang, kini Harun sudah tinggal di rumah yang lebih layak. “Uang ini saya pakai 500 ribu untuk sewa rumah dan 200 ribu untuk makan setiap bulan. Saya hanya makan di malam hari dengan uang ini, siang harinya saya pergi ke kuil untuk makan snack,”ungkap Harun dengan senyum kepada JRS.

Harun dan JRS sudah begitu dekat. Meskipun JRS tidak dapat memberikan bantuan finansial, Harun selalu bercerita kepada JRS mengenai apa saja yang terjadi dalam hidupnya sehari-hari. Tentu saja dengan bahasa yang terbatas. Setiap dua minggu, JRS menemani Harun untuk kontrol ke dokter kulit dan kelamin di Bogor. Keterbatasan bahasa Harun, sudah tidak lagi menjadi hambatan bagi JRS maupun dokter. Seiring berjalannya waktu, Harun bahkan bisa tertawa lepas bersama dokter maupun JRS.

Kini, sudah hampir tiga bulan JRS secara rutin menemani Harun pergi ke dokter. Bengkak di wajahnya berangsur-angsur sembuh. Tubuh Harun memang masih merasa sakit. Karena sudah memahami penyebab dan pentingnya mengikuti terapi medis, sekarang Harun sudah mengurangi ketergantungannya kepada obat. “Mungkin hingga tiga bulan ke depan, Harun baru bisa sembuh secara total,” kata dokter.

Sekarang Harun sering bercanda setiap kali dikunjungi oleh JRS. Pengalaman Harun menjadi contoh bahwa penemanan JRS dan bantuan kesehatan yang terbatas pun memberikan dampak yang luar biasa bagi orang-orang yang dilayani maupun bagi staf JRS sendiri. Penemanan yang berarti hadir bersama para Pencari Suaka ternyata dapat mengatasi kendala bahasa dan menciptakan ikatan yang memungkinkan terjalinnya persahabatan antarmanusia yang mengatasi segala bahasa. Semoga Harun lekas sembuh.

Gading Gumilang Putra

Nama dalam cerita disamarkan demi keselamatan Pengungsi.

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca