Anak-anak Belajar dari Kehidupan

Rabu, Agustus 8th, 2012

Anak-anak mendengarkan cerita

Konflik dan kekerasan telah memaksa sebagian orang untuk mengungsi dan mencari suaka ke negeri lain. Dari antara mereka yang terpaksa berpindah tempat, anak-anak menjadi korban yang paling rentan. Mereka kehilangan masa indah untuk bermain, belajar, membangun pertemanan dengan anak-anak sebaya, dan tercerabut dari pengalaman mendapatkan cinta dan perhatian. Perang, konflik, dan kekerasan yang mereka saksikan dan mereka alami, seringkali membentuk ingatan dan trauma yang dapat mempengaruhi kepribadian di masa-masa kemudian. “Jika anak hidup dalam permusuhan, ia belajar untuk bertikai” demikian tulis Dorothy Law dalam sebuah puisinya. Menemani anak-anak yang mengungsi dengan pengalaman seperti itu, juga menjadi tantangan lain yang tidak mudah.

“Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar bertikai. Jika anak dibesarkan dalam persahabatan, ia belajar bahwa dunia adalah tempat yang indah untuk hidup”

(Dorothy Law Nolte)

“Pak Guru…cepatlah kemari! Mereka mendorong-dorong saya! Saya tidak suka!”

Tiba-tiba anak itu masuk ke kelas dan menyeret tangan saya untuk mengikuti langkah-langkah kakinya. Saya bertanya-tanya ada apa dengan anak ini. Raut mukanya menandakan bahwa dia sedang sangat kesal. Lalu dia menunjuk beberapa anak dari Somalia yang sedang bermain ayunan di halaman. “Mereka mendorongku dan dia menekan kepalaku seperti ini. Di manakah sandalku? Pak Guru, di manakah sandalku?”

Saya meminta anak-anak Somalia itu menunjukkan di mana sandal Manahil dan meminta mereka untuk minta maaf kepada Manahil. Lega rasanya melihat Manahil mau bersalaman dengan mereka. Namun setelah bersalaman, ia mengumpat sambil menatap anak-anak Somalia itu. Saya kaget bukan main dan langsung merangkul anak itu, lalu mengajaknya masuk ke dalam ruangan. Emosinya sedemikian meluap. Mengapa kemarahannya sedemikian besar? Apakah ini salah satu ekspresi kemarahan anak-anak yang telah menjadi korban konflik? Kalau demikian, bagaimanakah saya mesti menemaninya?

Kejadian ini hanyalah salah satu contoh dari sedemikian banyak pertengkaran di antara anak-anak. Memang tidak gampang mengumpulkan anak dari berbagai adat kebiasaan menjadi satu, apalagi dengan latar belakang perang dan konflik yang mereka alami secara langsung. Di dalam kelas, ada banyak anak dengan beragam latar belakang daerah asal seperti Ethiopia, Afganistan, Sudan, Iran, Irak, Sri Lanka, Myanmar, Palestina, dan Somalia. Semuanya berkumpul menjadi satu dengan kesepakatan awal untuk saling menghargai dan belajar secara tertib. Bagaimanapun juga, anak-anak tetaplah anak-anak. Tidak semuanya dapat berjalan seperti yang dipikirkan oleh orang dewasa. Perbedaan latar belakang, situasi keluarga, dan pengalaman kekerasan yang dialami di rumah, membuat perilaku mereka menjadi bermacam-ragam.

Di kelas, saya mengajar dua orang anak dari Irak yang sangat aktif, cerdik, dan berani. Mereka tidak takut kepada orang dewasa apalagi orang Indonesia. Guru-guru lain sudah berulang kali mengeluarkan mereka dari kelas karena dianggap mengganggu proses belajar. Sikap lembut dan kesabaran tampaknya diartikan sebagai kelemahan oleh mereka. Tingkah laku mereka memang sering membuat pusing, namun menantang. Dibutuhkan pemahaman yang luar biasa agar dapat menemani mereka dalam proses belajar.

Melalui berbagai macam aktivitas, kami saling belajar mengenai nilai-nilai hidup bersama anak-anak dari beragam pengalaman. Ada saat di mana kami duduk bersama untuk saling berbagi dan menggali sikap menghargai orang lain maupun barang-barang yang dimiliki. Saling belajar untuk menghidupi nilai memang bukan hal sederhana yang dapat segera terlihat hasilnya dalam satu dua hari. Ini merupakan sebuah proses panjang yang dihadirkan melalui praktik dan contoh konkret setiap saat. Kami hadir sebagai teman yang memberi ruang nyaman bagi anak-anak untuk mengungkapkan diri dan memberikan kepercayaan serta dukungan kepada mereka. Kepada anak-anak, kami pun menghadirkan sikap tegas tanpa melukai hati mereka, menunjukkan sesuatu yang keliru dan perlu diperbaiki tanpa memberi kesan merendahkan dan menyalahkan mereka. Kami pun belajar untuk memuji secara jujur kebaikan-kebaikan yang telah ditunjukkan oleh anak-anak serta memberikan alasan-alasan yang mudah dimengerti oleh anak-anak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sungguh, ini bukanlah hal yang mudah dan menuntut kesabaran yang berlapis-lapis. Anak-anak tetaplah anak-anak dan bukan orang dewasa dalam ukuran kecil.

Semua yang dilakukan merupakan upaya menghadirkan cinta dan damai sebagai pengalaman nyata dalam dunia anak-anak. Semoga pengalaman hidup yang nyata tentang nilai-nilai cinta, damai, hormat, dan kasih sayang yang dijumpai setiap hari, menjadi pola hidup yang dimiliki anak-anak tersebut, sehingga umpatan-umpatan yang kasar dan cenderung rasis tidak akan lagi keluar dari mulut mereka. Semoga di kemudian hari, peperangan akan berhenti dengan lahirnya jiwa-jiwa dan pribadi-pribadi baru yang lebih cinta damai dan merindukan persaudaraan satu-sama lain.

Suatu hari, ketika sedang bermain kartu bahasa Inggris, seorang anak tiba-tiba mencium pipi saya sambil berkata “Ini teman saya” seraya mengarahkan jari telunjuknya kepada saya. Saya merasa kaget dan terharu. Semoga ungkapan itu merupakan tanda harapan akan masa depan yang lebih damai dan ramah bagi anak-anak.

Pius Marmanta

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca