Dan Perjumpaan pun Bergema

Jumat, Juni 20th, 2014

Paus Fransiskus menjumpai para Pengungsi di Centro Astali, Italia

Novel Khaled Hosseini terbaru “And the Mountains Echoed” menghadirkan kembali tautan yang intim antaranggota keluarga di Afghanistan, sebagaimana dua novel sebelumnya. Plot novel tersebut melintasi berbagai masa, dari era pra pendudukan Soviet sampai masa setelah Afghanistan memasuki milenium ketiga. Karakter-karakternya menampilkan ikatan erat antaranggota keluarga, khususnya kakak beradik Abdullah dan Pari yang ditinggalkan ibunya semenjak mereka kecil. Dikisahkan pula bagaimana relasi antara Saboor sang ayah dan kedua anaknya tersebut. Selain itu, diceritakan kedekatan antara Nabi (saudara ipar Saboor) dan kedua anak tersebut, khususnya Pari. Nabi semenjak mudanya telah menjadi abdi setia orang kaya di Kabul, yaitu Suleiman Wahdati dan Nila istrinya. Sementara Saboor, petani miskin dari dusun terpencil Shadbagh, akhirnya menjual Pari kepada keluarga kaya yang belum dianugerahi anak ini.

Keluarga inti Saboor di Sadbagh terpisah oleh karena kematian, kemiskinan, gejolak politik, dan pilihan-pilihan hidup yang tidak mudah, demi meraih masa depan yang lebih baik. Locus novel ini terbentang antara dusun fiktif Shadbagh, kota Kabul, sampai ke Paris, tempat hijrah Nila bersama si kecil Pari. Kendati demikian, ingatan akan kedekatan dan kehangatan dalam ikatan keluarga tak lekang oleh jarak, masa, lupa, dan peristiwa. Dalam kecamuk rasa tercerabut dari masa lampaunya, Pari merasakan bahwa ia kehilangan “sesuatu atau seseorang yang sangat penting bagi hidupnya. Kadang perasaan itu tak jelas, seperti pesan yang dikirim melintasi jalan setapak yang kelam dan jauh; seperti sinyal lemah radio panggil, lirih, tergetar. Di waktu lain, rasa ketiadaan itu begitu jelas dan sangat dekat, sehingga membuat jantungnya berdegup tak terkendali (hlm. 205).” Akhirnya, Pari berjumpa kembali dengan Abdullah kakaknya di California yang sudah tidak ingat lagi akan Pari karena menderita Alzhaimer.

Kisah-kisah keluarga Afghanistan yang tercerai-berai dalam novel Hosseini menjadi nyata dalam diri para pencari suaka dan pengungsi yang kami jumpai di Indonesia. Dari 3.268 pengungsi lintas batas negara dan 7.168 pencari suaka yang terdaftar di Indonesia pada akhir Januari 2014, terdapat anak-anak di bawah umur yang mengungsi dari negara asal mereka tanpa orangtua atau saudara yang mendampingi mereka. Beberapa hari lalu, kami mendapati kisah 2 pengungsi anak dari Afghanistan yang telantar dan terpaksa menumpang tidur di sebuah masjid di Jakarta. Mereka hanya menggantungkan diri dari kebaikan orang-orang yang mau memberi mereka makan. Tidak dapat dipungkiri bahwa keadaan semacam ini dapat  terus berlangsung di Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia selama sejumlah negara di Timur Tengah, Asia Barat Daya, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika masih dilanda konflik.

Sebagian dari masyarakat Indonesia telah menunjukkan keramahtamahan untuk menerima para pencari suaka dan pengungsi, khususnya mereka yang rentan seperti pengungsi anak-anak yang pergi tanpa orangtua, perempuan, orang tua, mereka yang telah kehabisan bekal, dan mereka yang menderita sakit. Solidaritas mereka telah melampaui batas-batas negara, suku, agama, pandangan hidup, dan ras. Kemanusiaan menjadi satu-satunya bahasa yang melandasi kebaikan hati mereka. Di balik manuver politik negara-negara yang cenderung menolak kehadiran pencari suaka dan pengungsi, tindakan warga masyarakat kita yang murah hati ini membesarkan hati dan pengharapan para pengungsi.

Paus Fransiskus di awal tahun ini mendorong kita semua bahwa “Perubahan sikap pribadi terhadap kaum migran dan pengungsi sungguh diperlukan, yakni perubahan dari sikap defensif dan takut, dari ketidakpedulian dan marjinalisasi – yang merupakan segala tipikal budaya membuang atau menyingkirkan – menuju sikap yang didasari oleh budaya perjumpaan, sebagai satu-satunya budaya yang mampu membangun dunia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih bersahabat.”

Pada Hari Pengungsi Sedunia 20 Juni 2014 ini, titik perubahan sikap ini kita tujukan dalam rasa hormat kepada keluarga-keluarga pencari suaka dan pengungsi yang tercerai-berai akibat perang dan konflik, serta terlantar di tempat-tempat yang sebenarnya tidak jauh dari kita. Perhatian dan dukungan konkret bagi mereka kini sungguh diperlukan sehingga makin banyak pribadi dan lembaga yang memperhatikan kebutuhan mereka akan makanan, tempat tinggal, dan bantuan medis.

Dengan judul “And the Mountains Echoed”, Khaled Hosseini telah menulis tentang ikatan cinta antaranggota keluarga yang tak akan terputus dan akan kembali bertaut, ibarat gema teriak ceria anak-anak yang dipantulkan oleh tebing-tebing pegunungan Afghanistan. Kisah-kisah pencari suaka dan pengungsi yang terpisah dari keluarganya menggemakan pesan solidaritas cinta bagi kita sekalian. Semoga keputusan dan tindakan kita untuk berpihak pada mereka, menjadi bagian dari kuatnya gema cinta tersebut.

Th. A. Maswan Susinto, SJ

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca