Exiled to Nowhere – Burma’s Rohingya: Kesaksian dari Pameran Foto Sepuluh Hari

Kamis, Maret 27th, 2014

“Orang-orang Rohingya yang tinggal di Myanmar tak memiliki hak. Bahkan seekor burung pun memiliki hak. Seekor burung dapat membuat sarang, berkembang biak, memberi makan untuk anak-anaknya, dan membesarkan mereka sampai mereka bisa terbang. Kami tak memiliki hak-hak dasar seperti itu,” kata Monir, orang Rohingya.

Pengunjung memperhatikan foto lelaki Rohingya yang buta sebelah matanya karena dipukuli selama menjalani kerja paksa.

Saat berdiri di tengah aula pameran di Cemara 6 Galeri, Jakarta Pusat, Rahman tak dapat menahan air matanya. Ia dikelilingi oleh 36 foto hitam putih yang masing-masing menggambarkan kisah dari orang-orang sebangsanya, yang hidup dalam kemiskinan tanpa hak dan perlindungan dari siapapun. Karena sejak 1982 tidak diakui sebagai warga negara Myanmar, sehingga hidup tanpa akta kelahiran atau kartu identitas, serta mengalami pelanggaran hak asasi manusia, kerja paksa, dan kekerasan, orang-orang Rohingya meninggalkan Myanmar hanya untuk mengalami lebih banyak penolakan, pelecehan, dan kemiskinan. Seperti halnya Rahman, ada ratusan ribu orang Rohingya lainnya yang terbuang di seluruh dunia. Saat ini lebih dari 1.300 orang Rohingya berada di Indone-sia untuk mencari perlindungan internasional sebagai Pengungsi melalui UNHCR. Namun sayang, di sini mereka juga menghadapi kesulitan. Sambutan yang dimulai oleh masyarakat Indonesia tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah Indonesia sehingga menjadikan mereka sebagai tamu yang tidak diakui secara legal di Indonesia. Lebih dari 360 orang di antara mereka ditampung di Rumah Detensi Imigrasi yang menyerupai penjara karena mereka memasuki wilayah Indonesia tanpa dokumen resmi. Karena tak ada satu pun negara di dunia ini yang mau mengakui hak-hak mereka sebagai warga negara maupun sebagai manusia, ke manapun mereka pergi, mereka akan selalu diperlakukan sebagai orang asing.

Pameran yang merupakan kerjasama antara fotografer Greg Constantine, Suaka, JRS Indonesia, dan Cemara 6 Galeri, mengajak masyarakat untuk belajar dan berdiskusi tentang situasi orang Rohingya di Myanmar, Bangladesh Selatan, dan Indonesia.

Greg Constantine, fotografer yang mendoku-mentasikan situasi orang Rohingya lebih dari 8 tahun belakangan ini, dalam seminar di Universitas Trisakti memaparkan karya fotonya tentang orang Rohingya di Myanmar dan Bangladesh demikian, ”Sejujurnya saya meyakini bahwa ini merupakan situasi paling ekstrem dari status tanpa kewarganegaraan dan situasi penolakan sebagai warga negara di dunia saat ini. Pokok perhatian saya adalah soal status tanpa kewarganegaraan. Bagaimana rasanya menjadi manusia yang ditolak hak-hak asasinya, yaitu hak atas identitas, hak untuk menjadi warga negara di mana ia dilahirkan, serta hak untuk memiliki hak? Saya mencoba menghadirkan wajah untuk mengangkat kemanusiaan dalam masalah yang sangat kompleks ini. Hak-hak seseorang melekat pada haknya untuk menjadi warga negara.”

“Melihat foto-foto dalam pameran Exiled to Nowhere ini membuat saya menangis. Menurut saya, beragama apapun, kita semua memiliki hak untuk hidup. Kondisi orang-orang Rohingya sangat menyedihkan dan saya berharap pemerintah Indonesia dapat membantu dengan jalan menggerakkan bantuan kemanusiaan. Sebagai tuan rumah dari Sekretariat ASEAN, semestinya ada cara bagi pemerintah Indonesia untuk mendesak pemerintah Myanmar agar menyediakan sedikit tempat bagi orang-orang Rohingya. Karena diciptakan oleh Tuhan, setiap orang memiliki hak untuk hidup di dunia ini dan tidak boleh diusir secara brutal tanpa dukungan dari manapun.  Ini situasi yang luar biasa kejam. Seandainya saya dapat mengajukan permintaan kepada pemerintah Myanmar, saya akan minta: berikanlah sedikit tempat bagi orang-orang Rohingya. Berilah mereka kesempatan untuk hidup. Saya yakin mereka memiliki kemampuan untuk menyumbangkan banyak hal bagi masyarakat Myanmar. Negara-negara ASEAN semestinya bersikap lebih tegas terhadap Myanmar,” begitulah refleksi Nisa setelah memandangi foto-foto dan mencermati judul-judul foto dalam pameran tersebut.

“Saya menilai situasi orang Rohingya yang berkepanjangan ini merupakan skandal nasional bagi pemerintah Myanmar dan menjadi skandal internasional bagi Perserikatan Bangsa-bangsa dan ASEAN.  Setiap orang yang tidak diakui sebagai warga oleh sebuah negara manapun di dunia ini adalah orang tidak diakui kemanusiaannya. Karena tanpa kewarganegaraan, seseorang tak memiliki jaminan atas hak-hak sipil. Kita musti membela hak-hak orang-orang Rohingya karena ini merupakan tuntutan kemanusiaan,” kata Pater Franz Magnis-Suseno SJ dalam salah satu acara di antara pameran itu.

“Kita cenderung lupa bahwa di Indonesia juga ada orang-orang Rohingya. Di sini mereka juga diperlakukan sebagai orang asing dan sebagai imigran gelap. Sungguh tidak dapat saya mengerti mengapa Indonesia tidak memberikan status kepada orang-orang Rohingya dan Pengungsi lainnya. Mereka ditampung di Rumah Detensi Imigrasi. Anak-anak mereka tak memiliki akses terhadap pendidikan maupun layanan kesehatan. Sebagaimana Greg Constantine mengingatkan kita melalui karya fotonya, bahwa ini merupakan tragedi kemanusiaan, Suaka ingin menyuguhkan sebuah perspektif kemanusiaan yang sama. Ketika banyak orang datang ke Indonesia untuk mencari perlindungan internasional sebagai Pengungsi karena ketakutan atas penganiayaan di negara asal mereka, kita semestinya menyambut mereka atas nama kemanusiaan – jangan pernah kita melabeli mereka sebagai imigran gelap dan mengabaikan hak-hak asasi mereka. Masyarakat Indonesia sebagai tuan rumah yang menerima kehadiran mereka di sini sepatutnya memberikan bantuan yang nyata dan tidak sekadar mengecam apa yang terjadi di Myanmar.”

Lars Stenger

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca