Harapan yang Tersisa

Selasa, September 30th, 2014
Pencari Suaka sedang mendengarkan informasi  tentang proses Penentuan Status Pengungsi

Pencari Suaka sedang mendengarkan informasi
tentang proses Penentuan Status Pengungsi

Di Afghanistan, penganiayaan tidak hanya terjadi sebatas perbedaan agama. Perbedaan suku hingga perebutan lahan juga dapat menjadi alasan untuk bertengkar. “Saya datang ke Indonesia pada bulan Agustus 2013. Sudah satu tahun saya tinggal di Indonesia. Istri saya sekarang hamil 6 bulan untuk anak pertama kami,” Mustafa berkata sambil berkaca-kaca. Istrinya, Fatimah, hanya tersenyum tegar menanggapi suaminya.

Sore itu, JRS menemui keluarga Mustafa di Bogor untuk pelayanan RSD (Refugee Status Determination). “Dalam tiga hari, kami akan interview dengan UNHCR. Kami tidak memahami prosesnya, dan khawatir. Kami sudah terlalu lama menunggu. Kami sangat senang JRS meluangkan waktu untuk kami. Terima kasih,” kata Mustafa ketika JRS datang. Mustafa bersama istrinya, Fatimah dan adik iparnya, Hamid.

“Saya tidak tahu harus mulai dari mana,” kata Mustafa dengan bahasa Inggris yang terbata-bata. Ia mengungsi dari Afghanistan sejak usia 8 tahun. Bersama orangtuanya, dia pergi ke Iran karena perang saudara di Afghanistan. Setelah hidup dalam pengungsian selama 25 tahun di Iran, Mustafa dan keluarganya dideportasi oleh pemerintah Iran karena dianggap ilegal.

Setelah pulang ke Afghanistan, masalah justru bertambah. “Oleh warga kampung, saya dipaksa untuk berperang melawan kelompok bersenjata. Kelompok itu menginginkan lahan kami. Setiap malam kami mendengar suara senjata. Padahal saya tidak suka berperang,” keluh Mustafa. Tak kuasa menahan beban dan rasa takut, Mustafa meninggalkan rumah satu-satunya yang tersisa di Afghanistan. “Hanya dalam waktu satu minggu, kami berlima akhirnya memutuskan pergi. Saya, istri, adik ipar, dan kedua mertua saya. Saya tidak mau memegang senjata dan kami semua takut.”

Di tengah jalan, bus umum yang dikendarainya dihentikan oleh kelompok bersenjata. Setiap laki-laki dari warga kampung Mustafa dipaksa turun dan ditodong senjata. Mustafa harus terpisah dari istri dan ibu mertuanya. Bersama dengan Hamid dan ayah mertuanya, Mustafa harus pasrah untuk dipaksa turun, dipukuli, dan akhirnya ditahan.

“Suatu malam, kami merasa tidak ada orang yang menjaga. Berbekal nekat, kami semua keluar dari jendela dan melarikan diri,” ucap Mustafa sembari tersenyum. Namun buru-buru senyum tersebut kembali hilang. “Tapi ayah ipar saya hilang di tengah hutan saat kami lari. Kami terpisah, dan belum pernah melihatnya lagi hingga saat ini,” tutur Mustafa lirih sembari memandang istrinya.

“Ibu kami juga tidak dapat berada di sini bersama kami,” tambah Fatimah. Setelah peristiwa itu, keluarga Mustafa memutuskan untuk mengungsi ke Pakistan. Di Pakistan mereka bertemu dengan agen penyelundup manusia (people smuggler). Agen tersebut menjanjikan keluarga Mustafa untuk sampai di Australia dengan perahu (boat), namun ibunya harus berangkat terakhir. Merasa tak memiliki pegangan, keluarga Mustafa memutuskan untuk mengikuti saran agen tersebut dan memberikan seluruh uang tabungannya. “Hingga kini, agen tersebut tidak dapat kami hubungi. Boat ke Australia tidak lagi tersedia dan Ibu kami tidak pernah diberangkatkan dari Pakistan,” Mustafa bertutur sembari menundukkan kepalanya. Fatimah menggenggam tangan suaminya erat.

“Proses RSD UNHCR adalah satu-satunya harapan kami yang tersisa. Karena itu kami sangat berterima kasih JRS bersedia hadir di sini,” kata Fatimah. Kehilangan keluarga, tempat tinggal, dan harta memberikan tekanan batin yang besar bagi keluarga Mustafa. “Saya tidak menyangka perjalanan kami akan seperti ini. Tapi kami berusaha sabar. Paling tidak kami bertiga masih diizinkan untuk bisa bersama-sama.”

Ditanya mengenai kondisi kandungannya, Fatimah lagi-lagi hanya dapat tersenyum. “Insha Allah, baik. Saya tidak tahu pasti, selama enam bulan, kami baru diperiksa dokter satu kali di bulan ketiga.” Mustafa dengan suara sangat lirih menyebutkan bahwa keluarganya sudah mengalami permasalahan keuangan karena Indonesia tidak mengizinkan pencari suaka untuk bekerja. “Kami memutuskan untuk pindah ke Jakarta demi mendapatkan bantuan keuangan. Mudah-mudahan berhasil, setidaknya untuk bayi kami. Kami juga bersyukur mendapatkan harga sewa rumah yang lebih murah.” Fatimah mencoba menghibur suaminya, “Seandainya saja, kamu bisa kembali menjahit seperti dulu ya?” Kali ini giliran Mustafa yang menatap istrinya dan tersenyum.

“Kini saya sudah memahami tentang proses UNHCR. Saya juga merasa siap untuk wawancara. Tolong jangan lupakan kami ya, setidaknya sebagai teman,” pesan Mustafa kepada JRS ketika kami hendak berpisah.

Gading Gumilang Putra

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca