I Wish You All the Best in the Future

Jumat, September 28th, 2012

“Pengungsi itu ibarat orang yang menyelonong masuk rumah tanpa izin lalu duduk di ruang tamu”, kata salah seorang petugas kantor imigrasi. “Negara kita tidak wajib menerima mereka. Orang-orang ini tidak perlu diberi kegiatan, apalagi kegiatan di luar. Mereka tidak perlu mengenal budaya setempat, dan Indonesia tidak wajib memberi bekal ketrampilan berbahasa Inggris atau apa pun. Jika mereka stress, ya silakan mereka pergi dari Indonesia, pulang atau ke mana pun”, lanjutnya tegas.

Kalimat-kalimat itu meluncur ringan sebagai reaksi spontan dan asli terhadap penjelasan yang diberikan oleh staf JRS tentang alasan mengapa JRS menemani para pengungsi melalui beberapa kegiatan. Ungkapan itu mewakili sikap dan cara pandang sebagian orang terhadap mereka yang terpaksa mengungsi dan mencari suaka di negara lain. Intinya jelas, menolak dan tak perlu peduli.

Penolakan yang tegas itu membuat team JRS terpaksa harus mengambil keputusan mengubah rencana lokasi dan bentuk kegiatan outdoor class bagi para pengungsi. Sebelumnya, kegiatan itu direncakan akan dilakukan di sebuah tempat rekreasi di wilayah Wonosari, Gunung Kidul. Ada kekawatiran yang menggelayut tentang kemungkinan adanya rasa kecewa di antara para pengungsi karena perubahan tersebut.

Kegiatan outdoor class merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan JRS dalam rangka menemani pengungsi yang sedang menantikan saat penentuan penempatan mereka di negara ketiga. Kegiatan ini bersifat rekreasional sekaligus menjadi media belajar berbahasa Inggris secara santai. Kegiatan ini sangat dinanti-nantikan oleh para pengungsi karena benar-benar memberikan kesegaran di tengah ketidakpastian dan kebosanan yang mereka alami.

Ternyata kekhawatiran itu runtuh. “It’s okey, Brother”, kata sebagian besar pengungsi ketika mengetahui perubahan rencana tersebut. Ringan benar sikap mereka. Memang ada sebagian kecil yang memutuskan untuk tidak ikut karena sudah sering mengunjungi tempat yang dimaksudkan. Namun tampaknya tak ada keluhan. Kegiatan itu akhirnya dilakukan pada hari Kamis, 27 September 2012 dengan memilih tempat baru di waterpark Gabusan, Bantul Yogyakarta.

“Thank you. You have done the best for this picnic”, kata salah seorang pengungsi asal Afganisthan ketika semuanya sudah siap di depan bus yang akan membawa kami ke tempat tujuan. Dengan wajah gembira, mereka bergantian untuk mengambil foto sebelum berangkat. Sungguh, hari itu saya menjadi saksi bahwa mereka adalah orang-orang yang berbesar hati. Semoga Tuhan memberkati.

Di waterpark yang kami tuju, seluruh kegembiraan mereka tumpah. Berenang-renang, bermain pelampung, meluncur dari ketinggian melalui jalur yang berliku-liku lalu masuk ke kolam air, menikmati guyuran air yang tertumpah dari tempayan besar, naik pelampung mengikuti arus sambil saling menabrak dan bersorak, memasuki gua buatan dengan stalagtit yang mencurahkan air, itulah luapan kegembiraan mereka. “Come on, join with us”, teriak mereka penuh gembira mengajak para guru bahasa Inggris untuk bermain bersama di air. Selama hampir lima jam, para pengungsi menikmati kegembiraan mereka di air.

“Orang yang paling dapat bertahan dalam kehidupan adalah mereka yang memiliki kemampuan paling unggul untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan. Hari ini, secara menakjubkan, saya menyaksikan hal itu dalam diri Anda masing-masing”, kata Lino Sanjaya, koordinator Team Outdoor class, ketika membuka sesi refleksi. “Terima kasih banyak atas teladan hidup yang telah Anda berikan kepada saya pada hari ini”, lanjut Lino.

Dalam kelompok kecil, para pengungsi berbagi refleksi dan perasaan tentang kegiatan outdoor yang baru saja mereka jalani bersama.  “This is the best picnic. I am very happy today”, cetus salah seorang pengungsi. “I like swimming very much. I enjoy this and feel very fresh”, sambung yang lain. Ketika salah seorang pengajar bahasa Inggris meminta maaf atas perubahan lokasi kegiatan ini, salah seorang pengungsi langsung menanggapinya,”No, no, no. We are very happy today. We will enjoy what JRS chooses for us because we believe JRS knows the safe places and activities for us”.

Ketika diminta untuk mengekspresikan perasaan mereka di atas kertas, salah seorang pengungsi menuliskan sebuah doa sebagai ungkapan syukur pada bagian akhir tulisan refleksinya, “I wish you all the best in the future”. Doa ini pendek dan sederhana, namun mengungkapkan seluruh kedalaman dan keluasan harapan yang tiada terkira.

Kebebasan dan kegembiraan, meskipun kecil dan sederhana, merupakan hal yang sangat berarti bagi setiap pribadi. Ia akan diterima sebagai anugerah oleh mereka yang gemar bersyukur kepada Allah. Ia akan dirawat dan dijagai sebagai pupuk yang menyuburkan pertumbuhan diri, oleh mereka yang gemar mendidik hati nurani. Ia juga akan dibela dan dilindungi sebagai hak asasi yang pantas dimiliki oleh setiap pribadi, termasuk para pengungsi.

Pengungsi bukanlah orang yang menyelonong masuk rumah tanpa izin, lalu duduk di ruang tamu kita. Mereka adalah para pemberani, yang mengambil keputusan penuh resiko untuk menyelamatkan kehidupan yang terancam, lalu terpaksa mengetuk pintu rumah kita demi keselamatan jiwa. Apakah pintu itu akan dibiarkan tertutup atau akan dibuka bagi mereka? Semoga semakin banyak hati yang peduli dan berani membukakan pintu sambil menyatakan doa seperti mereka,”I wish you all the best in the future”. ***

Indro Suprobo

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca