Kami Mengungsi dari Satu Negeri ke Negeri Lain

Senin, Juni 23rd, 2014

Salah seorang anak Pengungsi yang tinggal di pinggiran Jakarta

Ali, bocah lelaki berusia 6 tahun itu sudah tak sabar ingin segera bermain bola di halaman. “Ayah, kapan kita bermain bola lagi?” tanyanya kepada sang ayah.

“Lihat Nak, masih hujan deras. Nanti kalau sudah reda, kita bermain bola lagi,” sahut Muhammad Husein, ayahnya, penuh kesabaran dan pengertian.

Muhammad Husein dan keluarganya berasal dari Afghanistan. Konflik dan peperangan memaksa mereka meninggalkan Afghanistan untuk mencari keselamatan di Iran. Ali lahir ketika keluarga ini mengungsi di Iran. Sayang, mereka tak dapat tinggal lama di Iran. Konflik di Iran memaksa mereka harus mengungsi lagi ke Suriah. Mereka tinggal selama empat tahun lebih empat bulan di Suriah sampai akhirnya pecah konflik di sana dan mereka harus meninggalkan negeri itu menuju Indonesia.

“Kami sudah empat bulan tinggal di Indonesia,” kata Muhammad Husein. “Selama empat bulan ini, kami hidup dari hutang,” lanjutnya.

Sebenarnya, Muhammad Husein dan keluarganya telah mendapatkan status sebagai Pengungsi di Suriah. Namun, mereka harus memulai lagi proses pengajuan status sebagai Pengungsi kepada UNHCR di Indonesia. Itulah sebabnya mereka belum mendapatkan bantuan dari mana pun dan terpaksa hidup dari hutang.

Bersama dengan istri yang sedang menderita sakit tulang punggung dan tiga orang anak, ia mengontrak sebuah kamar kecil untuk tinggal. Kamar itu sebenarnya lebih pantas disebut sebagai gudang dan tak layak untuk tinggal. Ruangan itu sangat lembab dan berjamur dengan eternit yang sudah jebol. Di ruangan yang mereka tinggali, terdapat satu buah tempat tidur. Di lantai, ada tambahan satu kasur. Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja dengan sebuah kompor di atasnya. Di meja itulah, keluarga ini memasak makanan setiap harinya. Namun di meja itu, tak ada makanan sedikit pun. Yang ada hanyalah gelas, piring, dan sebuah toples berisi gula batu.

Kamar mereka berada di lantai tiga, sementara sebuah kamar mandi yang tersedia berada di lantai dasar dan digunakan secara bersama-sama dengan tujuh keluarga yang lain. Dalam kondisi sakit tulang punggung, naik-turun tangga untuk pergi ke kamar mandi merupakan hal yang sangat menyulitkan bagi istri Muhammad Husein.

Ali, bocah lelaki yang lahir dalam pengungsian itu, tak pernah dapat mengenyam pendidikan dan kebebasan sebagaimana umumnya anak sebayanya. Perang, konflik, kekerasan, dan kerusuhan memaksa anak ini untuk ikut mengungsi dari satu negeri ke negeri lain bersama keluarganya. Hidupnya masih berada dalam ketidakpastian selama waktu yang tidak dapat ditentukan.***

Th. Kushardini

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca