Melayani Pengungsi adalah Kesempatan Istimewa

Jumat, Agustus 23rd, 2013

Peter Devantara, SJ

Saya bangga dengan pekerjaan saya di JRS (Jesuit Refugee Service) Indonesia. Di garis depan kerasulan SJ ini menjadi konkret bagi saya apa arti mengenali, mencintai, dan mengikuti Kristus: menjadi sahabat “Kristus dalam pengungsi” yang paling terabaikan dan tersingkirkan. Pelayanan bagi para pengungsi merupakan tugas yang luhur dan membahagiakan, meskipun sulit dan berat. Luhur karena JRS menghormati dan mempromosikan martabat manusia dengan tindakan memperlakukan manusia-manusia konkret dalam masyarakat secara manusiawi. Membahagiakan karena ada orang-orang yang bersyukur atas relasi JRS dengan mereka. Sulit karena maksud baik untuk kemanusiaan sering dihadang oleh kepentingan-diri yang sempit. Berat karena bila berhadapan dengan penderitaan orang lain, orang yang memiliki kepekaan dapat merasa cemas, sedih, tertekan, dan letih.

Pada Juli 2012, saya menjadi bagian tim JRS Pasuruan yang biasa mengunjungi para deteni (tahanan) di Rumah Detensi Imigrasi di Bangil. Para deteni di sana pada waktu itu adalah para pengungsi yang dikurung di dalam sel detensi selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu—perlakuan ini tidak baik bagi kesehatan mental mereka. Detensi adalah penjara bagi para “imigran ilegal”—istilah ini mendiskreditkan para pengungsi yang terpaksa lari dari negeri mereka (Afghanistan, Iran, Pakistan, Iraq, Sri Lanka, Myanmar, Somalia, Palestina, dsb.) yang dilanda perang, penganiayaan, dan teror. Jika seorang narapidana dapat menghitung hari-harinya yang terus berkurang sejak ia mulai ditahan sampai saat ia dibebaskan dari hukuman, setiap deteni itu hanya dapat menghitung hari-harinya yang terus bertambah sejak ia mulai dikerangkeng, karena ia tak tahu kapan ia akan boleh keluar dari isolasi itu (sebagaimana ia tak tahu kapan konflik yang menakutkan di negerinya akan usai).

Bersama tim JRS Bogor pada Agustus-Desember 2012, saya merenangi telaga persahabatan dengan para pengungsi yang tinggal di tengah masyarakat Cisarua. Kehidupan para pengungsi di luar detensi mengandaikan bahwa mereka mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka yang fundamental untuk hidup. Tetapi selama mereka berada di Indonesia, hukum negara melarang mereka untuk bekerja. Karena itu, mereka tak hanya menunggu kapan UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) akan memberikan “status pengungsi” kepada mereka, tetapi mereka juga mendambakan kemerdekaan untuk mencari nafkah dan memberi kontribusi bagi kebaikan bersama dalam masyarakat. Dapat dibayangkan masyarakat yang setiap warganya yang berkecukupan memberi bantuan sebanyak kemampuannya agar setiap tetangganya yang berkekurangan menerima bantuan sebanyak kebutuhannya. Dalam kenyataan, para pengungsi di Cisarua hidup tidak dalam masyarakat seperti itu. Karena itu, JRS (dengan kemampuan finansial yang sangat terbatas) berupaya untuk menolong mereka yang terlemah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Ruang bagi mobilitas para pengungsi di luar detensi tentu lebih luas daripada ruang karantina di dalam detensi, maka ruang bagi JRS untuk melayani mereka pun lebih luas. Mereka yang sakit dapat pergi ke rumah sakit. Saya biasa menemani mereka, membantu komunikasi mereka dengan dokter, dan membelikan obat di apotek.

Bersama tim JRS Medan saya berupaya untuk menyulut kerdip harapan para deteni yang berjubel (overcrowded tiga kali lipat dari kapasitas normal) di Rumah Detensi Imigrasi di Belawan. Yang dikungkung di sana bukan hanya laki-laki dewasa melainkan juga perempuan dan anak-anak—ini menyedihkan. Kami mengunjungi dan mendengarkan para deteni. Kami mengadakan beberapa aktivitas bagi kesehatan fisik dan mental mereka. Semua itu semoga menjadi tanda yang meyakinkan bahwa Allah tidak mengabaikan mereka. Harapan sejati ada dalam mereka yang meyakini bahwa Allah mencintai dan menyertai mereka meskipun mereka sedang menderita dan jauh dari ekspektasi akan kehidupan yang lebih baik pada masa depan.

Saya mengagumi banyak orang yang telah ikut membidani dan mengemong JRS Indonesia dengan upaya-upaya kolektif (kerjasama-kerjasama internal dan eksternal) sehingga kini karya sosial SJ (Serikat Yesus) di tengah para pengungsi ini mendandani wajah SJ di Indonesia. Mereka telah melalui pelbagai situasi rumit yang menuntut kecermatan membedakan roh dalam setiap langkah. Mereka dapat memecahkan banyak masalah yang dihadapi oleh JRS karena saya percaya mereka diterangi oleh Roh Kudus.

Peter Devantara, SJ

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca