Memilih Untuk Menjadi Berdaya

Kamis, Juni 11th, 2015
Suasana kelas bahasa Inggris untuk para pengungsi dan pencari suaka yang diampu oleh Laila, seorang pengungsi sekaligus guru sukarela.

Suasana kelas bahasa Inggris untuk para pengungsi dan pencari suaka yang diampu oleh Laila, seorang pengungsi sekaligus guru sukarela.

Perempuan dan anak-anak termasuk dalam kelompok rentan pada berbagai isu konflik dan kepengungsian. Seringkali, mereka menjadi korban yang paling tidak berdaya untuk menghadapi dampak peperangan atau perpindahan secara paksa, akibat hilangnya akses sosial, politik, pendidikan, budaya, maupun ekonomi dalam kehidupan mereka.

Hal inilah yang terjadi pada Laila, ibu dan adik perempuannya. Konflik yang terjadi di negara asal mereka, Pakistan, mengakibatkan mereka hidup dalam ketakutan. Laila, perempuan berusia 27 tahun ini tidak dapat melanjutkan pekerjaan dan pendidikannya di universitas akibat kondisi keamanan yang tidak kondusif. Hal ini diperparah oleh perlakuan kekerasan dalam rumah tangga yang dialami ibunya.

Kondisi ini memberi dampak trauma psikologis yang semakin dalam terhadap Laila dan adiknya yang saat itu baru berusia10 tahun, di tengah kengerian situasi konflik yang terjadi di sekitar mereka.

Hingga suatu hari, ketika bangunan di samping rumah mereka luluh lantak dihancurkan oleh bom, Laila kemudian membuat keputusan bersama ibu dan adiknya, bahwa mereka harus pergi.

“Kami bertiga tiba di Jakarta pada tahun 2012. Lalu kami mengajukan aplikasi sebagai pencari suaka ke UNHCR untuk mendapatkan status perlindungan sebagai pengungsi. Saat itu, kami tidak tahu berapa lama yang dibutuhkan sampai kami bisa mendapatkan kehidupan baru yang lebih baik di negara ketiga yang mau menerima kami.”

Pada kenyataannya, Laila dan keluarganya harus menunggu setahun untuk mendapatkan status     sebagai pengungsi. Sampai saat ini, setelah lebih dari dua tahun berlalu, mereka masih terus menunggu proses penempatan di negara ketiga. Penantian panjang ini bukannya tanpa masalah. Saat perbekalan dan tabungan yang mereka bawa dari Pakistan kian menipis, Laila dan keluarganya semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ada saat-saat ketika mereka harus menahan lapar di dalam kamar kos tempat mereka tinggal di Jawa Barat karena kehabisan uang dan bahan makanan. Keterbatasan akses untuk aktivitas sosial dan ekonomi juga membuat penantian Laila dan keluarganya semakin terasa berat dan penuh stres.

Pada  pertengahan 2014, Laila mendengar tentang JRS Learning Centre dari sesama pencari suaka. “Teman saya tahu kalau saya bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Ia menyarankan saya untuk datang ke JRS Learning Centre dan menjadi pengajar sukarela untuk kelas bahasa Inggris bagi para pencari suaka.”

Segera setelah Laila berkontak dengan staf JRS yang mengelola Learning Centre tersebut, Laila mulai mengajar. Ketika ditanya mengapa ia mau menjadi pengajar sukarela, Laila menjawab,”Di JRS Learning Centre, saya bisa bertemu banyak orang. Kalau tidak begitu, saya hanya akan di rumah saja, tidak jelas mau apa. Itu membuat saya makin stres. Dengan mengajar, saya merasa bahwa saya bisa menjadi seseorang yang berarti.”

Sampai saat ini, Laila menjadi satu- satunya perempuan pengajar bahasa Inggris sukarela di JRS Learning Centre. Perjumpaan dengan banyak orang di Learning Centre ini juga membukakan pintu bagi Laila untuk mengajar privat murid-murid dewasa maupun anak-anak dari komunitas pencari suaka di Jawa Barat, yang menginginkan pelajaran bahasa Inggris di luar jadwal JRS Learning Centre. Saat ini, ibunya pun menjadi pengajar sukarela untuk kelas kerajinan di JRS Learning Centre. Sesekali Laila ikut membantu sebagai asisten pengajar.

Tidak dapat dipungkiri, terkadang Laila merasa sedih ketika mengingat situasi yang menimpa dirinya. “Sudah dua tahun lebih saya hidup di Indonesia, dan masih belum ada kabar tentang proses penempatan kami. Saya sedih ketika berpikir bahwa saya telah kehilangan dua tahun dalam hidup saya dalam ketidakpastian. Namun, kadang saya juga berpikir, kok bisa ya saya sampai kuat bertahan selama itu. Seandainya dulu saya tahu jika saya harus menunggu sampai dua tahun lebih, pasti saya tidak sanggup dan mau menyerah saja. Tapi ternyata saya bisa melaluinya.”

Ibu dan adik perempuan Laila menjadi salah satu sumber kekuatan baginya untuk terus bertahan dan menjadi tumpuan keluarga.“Terkadang saya bisa mengajar 5 kelas dalam sehari terus-menerus, padahal saya belum makan. Saya melakukan ini khususnya untuk adik saya. Mungkin tidakakan ada kesempatan bagi saya untuk mewujudkan impian saya. Tapi adik saya, dia bisa melengkapi impian saya saat kami sudah punya penghidupan yang lebih baik nanti. Kamu tahu, saat ini pilihan saya hanyalah tinggal di sini. Saya harus berusaha menemukan hal- hal baik yang bisa saya syukuri, karena kalau tidak, apalagi yang saya punya?”

Keberanian dan daya juang seringkali bertumbuh dengan cara yang tidak terduga. Bagi Laila dan keluarganya, penerimaan dan harapan menjadi bahan bakar yang membantu mereka melangkah dalam ketidakpastian, dan membuat pilihan-pilihan untuk menjadi berdaya.

*Laila bukanlah nama sesungguhnya

Triarani Utami

 

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca