Merayakan Hidup yang Tangguh

Rabu, Agustus 12th, 2015

Hari Pengungsi Sedunia tahun ini mengarahkan perhatian pada Saudara-Saudari kita yang sedang mengalami kehidupan yang luar biasa (ordinary people living in extraordinary circumstances), yakni para pencari suaka, pengungsi di dalam negeri, dan pengungsi lintas batas negara. Merekalah yang telah merasakan kehilangan, keterpisahan, dan kehancuran yang sesungguhnya akibat perang, konflik, bencana alam, diskriminasi, maupun ancaman pemberangusan hak-hak asasi mereka. Bila kita sedang menimbang-nimbang makna kemiskinan, mereka inilah yang sedang mengalami kemiskinan sebagai sebuah perampasan kapabilitas (capability deprivation, Amartya Sen: 1999).

Beberapa tahun terakhir ini, kami menjumpai para pengungsi yang telah beberapa kali harus mengungsi. Rumah mereka telah tiga kali dirusak dan dibakar, hanya karena pandangan hidup yang berbeda. Semula, mereka bebas untuk memilih pekerjaan, sekolah, atau memeluk suatu pandangan hidup yang berbeda dari anggota masyarakat pada umumnya. Ketika kebencian akan jalan hidup yang berbeda dikobarkan, mereka tidak lagi bebas memilih. Demikian pula, akses-akses pada kehidupan publik mulai tertutup bagi mereka.

Bila perhatian kita semenjak bulan Mei terserap pada kehadiran manusia perahu, yaitu 996 pengungsi Rohingya, yang mendarat di Aceh dan Sumatra Utara bersama 795 imigran Banglades (UNHCR, per 28 Mei 2015), kita melihat dengan terang-benderang akibat yang berkepanjangan dari pemberangusan hak asasi, potensi-potensi diri, pilihan hidup, dan peluang mereka untuk mengakses pemenuhan kebutuhan hidup. Mereka masuk dalam golongan penghuni dunia tanpa kewarganegaraan (stateless people) yang jumlahnya sekitar 10 juta. Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah pergi dari negeri yang telah menolak mereka, dengan resiko mendapatkan perlakuan keji dari para penyelundup manusia dan resiko mati di tengah samudra.

Namun, yang luar biasa dari hidup para pengungsi bukan hanya situasi ekstrem yang mereka alami. Raut wajah mereka menyimpan sebuah keyakinan bahwa perang dan segala bencana yang telah melucuti peluang-peluang hidup, tidak merampas habis semangat hidup mereka. Segala ketakutan dan trauma yang mereka alami, tidak menghapus harapan hidup. Mereka tidak berhenti sebagai korban, tetapi hidup mereka berlanjut sebagai penyintas (survivor).

Pada akhir Mei lalu, JRS Indonesia hadir di penampungan pengungsi Kuala Langsa (Kota Langsa) dan Bayeun (Kabupaten Aceh Timur), untuk mengadakan jajak kebutuhan dan merespon bantuan kesehatan yang mendesak, khususnya bagi anak-anak, setelah berminggu-minggu terombang-ambing di lautan. Kami akan hadir kembali untuk menemani mereka serta mengisi gap kebutuhan yang belum dijawab oleh Saudara-Saudari yang telah berbaik hati untuk memperhatikan para pengungsi. Jauh dari sekadar memandang mereka sebagai penerima pasif bantuan, kami ingin pertama-tama mengapresiasi energi hidup para penyintas pelanggaran berat hak asasi manusia di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-21 ini.

Hospitalitas yang dibagikan oleh nelayan dan masyarakat Aceh terhadap pengungsi Rohingya dan imigran Banglades menjadi sebuah perlawanan terhadap stigma “imigran gelap” yang disematkan negara-negara kepada para manusia perahu maupun pengungsi lintas batas lainnya. Jiwa mulia dan bantuan mereka menjadi penawar arus kriminalisasi negara-negara terhadap para pencari suaka. Semoga, perhatian terhadap 1.791 pengungsi Rohingya dan imigran Banglades ini, menjadi jalan untuk membuka kembali perhatian Negara dan masyarakat terhadap sekitar 12.000 pencari suaka dan pengungsi lintas batas yang saat ini bertahan hidup di Indonesia. Pada peringatan Hari Pengungsi Sedunia 20 Juni 2015 ini, mari kita merayakan ketangguhan, keberanian, dan daya hidup para pencari suaka dan pengungsi.

Di Tangan Anak-Anak

Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad

yang tak takluk pada gelombang,

menjelma burung yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan;

di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.

“Tuan, jangan kauganggu permainanku ini.”

(Sapardi Djoko Damono, 1981)

Th. A. Maswan Susinto SJ

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca