Mimpi tentang Baju Cinderella

Senin, Juni 10th, 2013

Pencari Suaka sedang belajar menjahit

Keterlibatan dalam sebuah asosiasi untuk memperjuangkan demokrasi dan anti diskriminasi, telah membuat sebagian orang terancam oleh pemenjaraan, intimidasi dan penyiksaan. Pergi dari negeri asalnya adalah cara terbaik yang dipilihnya untuk memperoleh rasa aman dan terbebas dari ancaman. Setelah menanti selama kurang lebih 2 tahun, sebagian besar Pencari Suaka yang tinggal di Cisarua, Bogor ini, akhirnya mendapatkan status sebagai Pengungsi dari UNHCR.

I want to be a designer. I will make my own clothes” kata Ibsituu, Pencari Suaka yang tinggal di Cipayung, Cisarua. Sejak awal bulan April, Ibsituu sangat antusias mengikuti kelas menjahit yang difasilitasi oleh JRS Bogor dan Komunitas Biarawati FMM (Fransiscans Missionaries of Mary). Ia merasa sangat senang dengan kelas menjahit ini, sehingga selalu datang lebih awal daripada teman-teman lainnya. “Dia paling cepat belajar”, jelas Ibu Ani, salah satu guru menjahit.

Suasana Kelas Menjahit menjadi semakin hangat ketika para Pencari Suaka telah berbaur dan berkenalan dengan para peserta yang lain. Ternyata, bukan hanya para “murid” (Pencari Suaka) saja yang penuh semangat. Para guru juga tanpa lelah menemani para Pencari Suaka untuk belajar menjahit. Jam makan siang pun sering menjadi terlambat karena semuanya bersemangat belajar menjahit.

Saling sapa, jabat erat, tanya-jawab, dan percakapan yang mengiringi suasana belajar menjahit di antara mereka, adalah keramahtamahan yang sangat nyata bagi masing-masing. Keramahtamahan dan kegembiraan ini telah mampu menembus sekat perbedaan bahasa dan budaya yang kadang-kadang dapat menghalangi komunikasi di antara mereka. Kegembiraan memperoleh teman dan suasana baru, telah membuat mereka lebih mampu menemukan cara berkomunikasi dalam perbedaan. Semua yang terlibat dalam kelas Belajar Menjahit, saling menerima yang lain sebagai sahabat dan teman baru yang menggembirakan dan memperkaya hidup.

“Saya jadi tahu bahasa Ethiopia untuk pinggang, lengan, dan bahu”, kata Ibu Ani. “Sangat sulit memberikan penjelasan tentang suatu hal tanpa mengerti bahasanya, maka saya sering bertanya kepada Gudetu, apa bahasa Ethiopianya pinggang, lengan dan bahu. Lalu saya tulis di bukunya, sehingga saya sendiri jadi hafal,” tambah Ibu Ani sambil tertawa. Ibu Ani terkesan kepada Gudetu ketika ia mulai belajar menggunakan mesin jahit. “Dia sulit mensinkronkan antara kaki dan tangannya ketika menggunakan mesin jahit. Tapi dia pantang menyerah, mencoba dan terus mencoba sampai akhirnya bisa,” kata Ibu Ani sambil tertawa.

7 perempuan Pencari Suaka yang dilayani JRS itu berkumpul dan bertemu dalam Kursus Menjahit setiap hari Selasa dan Kamis. Salah seorang dari mereka adalah Pencari Suaka dari Iran, bernama Reyhaneh. Usianya baru 18 tahun. “I want to meet other people. I will get bored easily when I only stay at home. If I come here twice a week, I can meet new people and also can learn how to sew. I will make a long dress like “Cinderella” dress” kata Reyhaneh sambil tersenyum lebar. Baginya, “mengusir kejenuhan” menjadi hal yang penting di sela-sela proses Penentuan Status Pengungsi yang masih harus dilaluinya bersama adik dan ibunya.

Kelas Menjahit, bukan semata-mata kelas yang mengajarkan keterampilan. Ia adalah perjumpaan yang mampu membasuh beragam kerinduan. Di sana ada kerinduan akan sahabat, rasa nyaman, keramahan, pengalaman baru, dan pertumbuhan. Di Kelas Menjahit, ada keleluasaan untuk tertawa, bergembira, dan berimajinasi. Ada kerinduan untuk saling belajar, saling meneguhkan, dan memberikan dukungan. Dalam perjumpaan dua kali seminggu itu, terpenuhilah kerinduan untuk lepas dari kejenuhan, kerinduan tentang penerimaan, serta kerinduan untuk memberikan diri dan berbagi dengan yang lain. Tak mengherankan jika Kelas Menjahit itu selalu menyulut semangat dan menarik kehadiran.

Aktivitas yang sederhana dan biasa ini, telah menjadi ruang yang sangat berharga dan penuh warna bagi para Pencari Suaka, para guru, dan JRS untuk saling menemani sebagai sahabat, saling berbagi dalam ketulusan, saling membantu dalam kelemahan, saling menghibur dalam kesusahan, dan saling menumbuhkan dalam hormat dan kepercayaan. Dalam perjumpaan-perjumpaan itu, kemanusiaan semakin ditumbuhkan dan dikembangkan.***

Fransisca Asmiarsi

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca