Pengalaman Singkat bersama JRS

Kamis, Juni 2nd, 2016

Searah jarum jam: Dion, Gifttra, Rani, Diah, Dony, Ririn, Risha, Elis, dan Rosi di depan rumah JRS

Saya Gifttra, mahasiswa IT dari President University. Saat ini saya sedang menyusun  skripsi dan juga dalam masa pembelajaran bersama komunitas Magis Jakarta, komunitas yang membantu saya untuk lebih mengenal Tuhan. Komunitas ini menawarkan cara yang berbeda dalam mencari Tuhan. Salah satu metodenya adalah dengan program live in, tinggal dan belajar bersama komunitas marjinal. Saya, Risha, Doni, dan Ririn ditempatkan di Jesuit Refugee Service (JRS) di daerah Cisarua, Bogor.

Setiba di rumah JRS, kami langsung disambut hangat oleh para staf yaitu Gading, Elis, Diah, Rani, dan Rosi. Tak lama kemudian Dion memberi orientasi awal kepada kami mengenai JRS dan kepengungsian.

Kemudian kami langsung mengikuti aktivitas para staf JRS hari itu. Saya bersama Dion berangkat menuju RSUD Ciawi untuk menemani lelaki Afghanistan bernama Musa. Dia sedang mengurus ibunya yang berusia 46 tahun untuk perawatan kanker rahim. Saya, Dion, dan Musa berbincang-bincang tentang banyak hal. Satu hal yang saya pelajari tentang Musa adalah dia sangat menyayangi ibunya. Dia juga lelaki pintar dan kreatif yang berinisiatif  membangun komunitas sesama pengungsi di daerah Cisarua untuk memberi pendidikan kepada anak-anak pengungsi di wilayah tersebut.

Lalu kami mengunjungi Maya, seorang putri Afghanistan berusia 12 tahun yang mengidap Down Syndrome. Maya dirawat beberapa hari di RSUD Ciawi akibat epilepsi. Setelah mendengar cerita Dion, saya sungguh merasa takjub dan kagum bagaimana Tuhan bekerja untuk Maya dan keluarganya. Maya sempat mengalami koma beberapa hari lalu. Dokter bahkan sempat meminta keluarga Maya mempersiapkan hati untuk kehilangan Maya dalam waktu dekat. Namun Tuhan berkehendak lain dengan memberikan rahmat kesembuhan. Bahkan saat itu, saya melihat sendiri Maya mampu pulang dengan riang gembiranya.

Kegiatan kami berlanjut dengan mengunjungi Rasid, seorang pria Afghanistan berumur sekitar 20 tahun yang sudah mendapatkan status refugee, untuk memberikan bantuan dana. Saat kami kunjungi, Rasid tampak sangat tertekan. Sehari sebelum kami datang, Rasid pergi ke kantor UNHCR di Jakarta untuk mengurus permohonan resettlement-nya. Namun belum sampai bertemu petugas di dalam, ia sempat berselisih paham dengan petugas keamanan. Semoga kehadiran kami bisa menjadi nafas segar bagi Rasid untuk melanjutkan hidup dari bantuan maupun semangat yang JRS sampaikan.

Di hari kedua, saya bersama Diah mengunjungi JRS Learning Centre. Saya bergabung dengan sesi kelas bahasa Inggris yang diajar oleh Brother Afsar. Di sesi itu semua murid diajak untuk berlatih diskusi dalam bahasa Inggris tentang satu topik: “Should the parents save money for their children or just spend the money for themselves?” Saya bersama tiga lelaki Afghanistan saling melemparkan argumen dan mengutarakan pendapat tentang topik ini. Diskusi berjalan dengan seru dan semua gagasan bisa kami utarakan dengan baik.

Setelah dari JRS Learning Centre, kami melanjutkan pelayanan menuju rumah salah satu keluarga Afghanistan yang memohon bantuan dana kepada JRS untuk memenuhi keperluan keluarga. JRS menjajaki kebutuhan mereka untuk menimbang apakah permohonan tersebut layak dikabulkan. Kepala keluarga ini bernama Syarif. Ia membawa keluarganya ke Indonesia untuk menyelamatkan diri dari ancaman kelompok ekstremis Taliban. Setelah pindah ke Indonesia, ternyata ada tantangan besar lain yang dia hadapi. Kondisi perekonomian keluarga ini semakin memprihatinkan. Mereka sulit mengatur pengeluaran karena tidak mengerti perbandingan antara dollar dan rupiah. Terlebih lagi, pertumbuhan kedua anak kembar mereka yang berusia 4 tahun terhambat akibat asupan nutrisi yang sangat minim. Mereka pun sering dirawat di Rumah Sakit. Kedua orangtua mereka juga hanya mampu makan sehari sekali.

Kemudian saya bersama Diah melanjutkan perjalanan ke tempat Brother Afsar. Setibanya di sana, Brother Afsar menyuguhkan buah kurma nan nikmat beserta kopi hangat dan wafer. Di hari ketiga kami mengakhiri pengalaman kami dengan makan bersama seluruh staf JRS. Sehabis itu kami berpamitan dan pulang kembali ke Jakarta.

Gifttra bersama kelompoknya membagikan cerita dan refleksi pengalaman mereka bersama JRS kepada para anggota Magis Jakarta

Secara keseluruhan, saya sangat bersyukur bisa mendapatkan pengalaman bersama JRS melayani pengungsi di daerah Bogor dan sekitarnya, bisa belajar tentang pengalaman hidup dan tantangan yang mereka hadapi. Saya pribadi merasa sangat beruntung  bisa belajar dari seluruh staf yang ada di JRS. Meskipun berasal dari aneka latar belakang yang berbeda namun mereka punya satu misi untuk  melayani para pengungsi dan pencari suaka. Saya merasa merekalah bukti bahwa Roh Kudus sungguh bekerja. Semoga semua staf JRS tetap bisa bersemangat dan melayani dengan hati untuk mereka yang membutuhkan. One day, I hope I’ll be joining with JRS again.

*Nama para pengungsi dan pencari suaka telah diganti untuk melindungi identitas mereka

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca