Pengalaman yang Mengubah Hidup

Kamis, Juni 13th, 2013

Pengungsi sedang belajar komputer

Akses terhadap komputer dan mengetahui bagaimana menggunakannya merupakan kebutuhan dasar bagi dunia kerja dan pendidikan. Ini juga berlaku bagi para Pengungsi di Indonesia yang menunggu penempatan ke negara ketiga. Namun, kelas komputer yang diselenggarakan oleh JRS bukan hanya berdampak bagi kehidupan para pengungsi.

“Mr Mohammad, you can make a new folder by right click, move to ‘New’, choose ‘Folder’,” tutur Herman, pengajar komputer bagi komunitas Refugee di Sewon. “Like this?” tanya Mohammad. “Yes like that. After clicking on ‘Folder’ you can type any name you want, for example type ‘Freedom’” tambah Herman. “Oh ya…ya…good…good,” tukas Mohammad setelah puas melihat hasil kerja di layar notebook. Mohammad termasuk salah satu dari 30 Pengungsi yang mampu menangkap materi dasar tentang penggunaan komputer secara baik. Tidak semua peserta kelas komputer bisa seperti bekas guru Kung Fu yang memiliki 800 murid di Pakistan ini. “Wah ada yang harus bener-bener belajar dari awal,” terang Yoga, salah seorang asisten kelas komputer. “Ada yang sama sekali belum pernah menggunakan komputer. Megang mouse aja gemeteran, sehingga kesulitan untuk menempatkan mouse, dan ketika harus mengeklik sekali, bisa menjadi dua atau tiga kali,” imbuh mahasiswa PBI Universitas Sanata Dharma ini. Kelas komputer itu diikuti oleh lima Pengungsi komunitas Sewon karena jumlah komputernya terbatas. Masing-masing sibuk menatap layar notebooknya dan berusaha mengerjakan tugas excel lengkap dengan formula penjumlahan. Sesekali mereka memangil guru-guru JRS ketika menemui kesulitan. Suasananya sangat tenang dan serius, berbeda dengan beberapa jam lalu ketika mereka belajar bahasa Inggris.

“Now do you want to play a game?” tanya Adi salah satu pengajar bahasa Inggris. Pagi itu guru-guru bahasa Inggris mengajak belasan Pengungsi yang duduk beriungan di aula kelas untuk bermain mengeja kata dalam bahasa Inggris atau spelling bee. “Mr Abbas, please give me one word starting with T,” pinta Adi. Abbas yang duduk di sudut ruangan menunjukkan raut bingung sebelum berusaha menjawab. “E….’think’,” tukasnya. “How do you spell it?” tanya Adi. “I don’t know,” jawab Abbas cepat. Sontak tawa riuh membahana dari setiap sisi ruangan.

Kelas di sudut dusun Pandes, Panggungharjo, Sewon ini bukan sekadar kelas belajar-mengajar, melainkan menjadi tempat di mana para Pengungsi ini memperoleh pengakuan sebagai manusia bermartabat. “Di sini kami berupaya menyediakan ruang perjumpaan yang ramah bagi orang-orang yang terusir dari kampung halaman, yang berasal dari berbagai negara dan mengalami konflik serta penganiayaan. Kami bermaksud untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari ketakutan dan diskriminasi, yang menjadi sekolah kehidupan dan menginspirasi siapapun yang mau membangun persaudaraan”, kata Lino, koordinator program.

“Awalnya aku takut ketika bertemu mereka,” terang Anastasia Vicent, salah seorang volunteer magang JRS. Mahasiswa Fakultas Hukum di salah satu Perguruan Tinggi di Yogyakarta ini menganggap Afghanistan identik dengan Taliban, teroris dan bom bunuh diri, seperti digambarkan oleh media. “Tapi setelah mengenal mereka, ternyata semua anggapanku itu salah sama sekali. Mereka tidak seperti yang aku bayangkan,” tambahnya. Menurutnya gambaran negatif tentang Pencari Suaka dibentuk oleh berita media bahkan oleh ruang kuliahnya sendiri. “Dulu, begitu membaca tentang imigran gelap, aku langsung memandang mereka ini kriminal. Jadi bagus kalau dimasukin penjara,” ucapnya. Pengalaman tiga bulan bersama Mohammad, Mahmoud, Abdullah, Abbas, Hassan dan teman-teman Refugee di Sewon, membuka mata hati dan pikirannya. “Aku nggak bisa ngomong apa-apa begitu denger cerita mereka. Cerita itu belum pernah aku dapet sebelumnya. Bahkan di kampusku, dosen hukum internasional cenderung menyalahkan mereka (refugee),” tutur Vicent lagi. Ia merasa diterima sebagai keluarga oleh para Refugee.

Perjumpaan dengan Pengungsi menambah kebahagiaannya. “Setiap Senin, Rabu, Jumat, kita semangat banget, karena bisa beretemu mereka, mendapat cerita dan pengalaman baru. Selalu ada hal yang membuka mataku,” imbuhnya. Perjumpaan dengan para Pengungsi mengubah banyak hal dalam dirinya. “Pengetahuan dan pemahamanku tentang Pengungsi menjadi lebih baik. Aku sekarang tahu kisah mereka dari sudut pandang mereka sendiri,” terangnya. Bertemu dengan orang-orang yang meninggalkan orang-orang tercinta di tanah airnya tanpa kepastian akan masa depan, memporak-porandakan egoisme dan kemapanan hidupnya. “Aku tersentuh oleh situasi mereka. Mereka kuat, tetap mau menunggu, meskipun nggak tahu sampai kapan,” ujarnya. Aku nggak bisa bayangkan kalau aku jadi seperti dia,” tambahnya.

God, thank you for everything you’ve bleesed me with this year especially one thing, my Sewon family, a sweet life-changing blessing. I’m highly grateful,” tulisnya di laman facebook ketika mengingat banyak hal yang diberikan oleh mereka yang kini menjadi bagian dari 754 Refugee di Indonesia yang menunggu resettlement. “Karena tidak bisa mengajar, maka aku berusaha menjadi teman buat siapa saja. Dan pertemanan itu mengubahku,” ucapnya. “Aku menjadi lebih sabar, nggak cepat mengeluh atau marah saat menghadapi kesulitan, karena yang kudahadapi jauh lebih ringan daripada yang dihadapi Pengungsi,” ujarnya. Ini adalah a life changing experience. Pengalaman yang telah dan akan mengubah hidupnya. “Aku sekarang punya keinginan untuk mengambil kajian human rights, aku mau bantu mereka. Meskipun Indonesia nggak mau menerima mereka setidaknya ada sistem yang lebih manusiawi,” tuturnya menerawang. Pengalamannya menginspirasi banyak orang, setidaknya keluarga dan teman-temannya. “Adik-adik kelas kita banyak yang tertarik dan ingin merasakan pengalaman yang sama dengan kita,” lanjutnya.

Komputer adalah alat canggih untuk merealisasikan mimpi kita, namun tak ada satupun alat yang dapat menggantikan percikan manusiawi tentang semangat, kepedulian, cinta, dan pengertian.

Paulus Enggal

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca