Pengungsi Anak-anak Memiliki Hak atas Perlindungan

Selasa, September 30th, 2014
anak-pengungsi-3-edit-web

Pengungsi anak sedang belajar mewarnai gambar

“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu.. Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu… Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu… Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal..”

Lirik lagu Iwan Fals berjudul “Sore Tugu Pancoran” itu terlintas saat saya sampai di rumah setelah mengunjungi salah satu keluarga Sri Lanka yang tinggal di sebuah rumah sewa di pinggiran Jakarta. Harshan Chandra tinggal bersama istri dan dua anaknya. Sudah hampir satu setengah tahun mereka sekeluarga tinggal di Indonesia. Mereka menempuh perjalanan yang melelahkan dengan perahu dari Sri Lanka, melalui Malaysia, hingga akhirnya tiba di Indonesia.

Anak perempuannya bernama Chandrika. Usianya 12 tahun. Ia adalah anak pertama. Chandrika adalah salah satu dari sekian banyak anak yang tidak dapat merasakan kegembiraan dan keceriaan bermain serta belajar di sebuah sekolah seperti anak-anak pada umumnya. Di usianya yang sekarang ini, ia dan adiknya sudah harus ikut mengungsi bersama orangtuanya demi mendapatkan hidup yang lebih aman dan damai.

Perjalanan yang dilaluinya, barangkali sebuah perjalanan yang tak pernah terduga dan terbayangkan sebelumnya. Sebagai anak-anak, perjalanan yang dibayangkannya adalah perjalan-an liburan naik perahu yang menyenangkan dan penuh petualangan. Ternyata, perjalanan itu adalah perjalanan pengungsian yang melelahkan, penuh resiko dan bahaya, mengancam keselamatan, dan kehabisan bekal makanan maupun uang untuk bertahan hidup.

Awalnya, keluarga ini sangat ragu-ragu menerima kedatangan saya di rumah kontrakannya. Kami memang belum pernah bertemu. Setelah memperkenalkan diri dan menunjukkan obat yang saya bawa untuk sang ayah, raut muka Chandrika berubah senang,“Oh ya, medicine for father. Thank you Sir.“  Suasana segera berubah menjadi cair. Harshan Chandra mempersilakan saya untuk masuk dan duduk, sambil menunggu sang istri membuatkan minuman.

Harshan Chandra menderita penyakit jantung dan asma. JRS membantu menyediakan obat yang dibutuhkannya. Setiap bulan, JRS mengantarkan obat ke rumah kontrakannya. Para Pencari Suaka dan Pengungsi yang rentan tidak mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan. Untuk anak-anak seperti Chandrika, JRS menyelenggarakan kelas bahasa Inggris di mana mereka dapat belajar dan bermain bersama dengan teman sebaya. Ini merupakan salah satu cara membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang terpaksa mengungsi bersama orangtua mereka.

Chandrika sangat senang dan aktif mengikuti kegiatan belajar bahasa Inggris. Karena itu, ia sering membantu menjadi penerjemah dalam percakapan dengan orangtuanya. Sesekali ia juga bisa berbicara dalam bahasa Indonesia.

“Selain bahasa Inggris, Chandrika juga belajar bahasa Indonesia?“ tanya saya kepadanya. “Ya saya bisa bicara Indonesia sedikit. Saya senang bisa belajar dengan teman-teman,” jawabnya dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata. “You also stay in Bogor Sir?” sambungnya. “No, I stay in Jogja, another place in Indonesia,” jawab saya. “Oh okey. Jogja jauh dari Bogor?” tanyanya lagi. “Iya, naik kereta api atau bus sekitar sepuluh jam. It is about ten hours by train or bus,” jawab saya. ”Wow, ten hours is very far Sir,” katanya sambil mengangguk.   Tidak lama kemudian ibunya datang dengan membawa segelas kopi. Dengan sopan ia mempersilakan, “Please Sir, minum coffe,” sambil menunjuk segelas kopi yang sudah tersaji di meja.

Chandrika adalah salah satu dari sekitar 2.652 Pengungsi dan Pencari Suaka anak-anak di Indonesia. 908 di antaranya merupakan anak-anak tanpa pendamping atau yang terpisah dari keluarganya. Mereka terpaksa terusir dari negerinya sendiri. Di sini, mereka kehilangan hak untuk menikmati pendidikan. Sewaktu-waktu mereka dapat ditangkap dan dikurung di dalam Rumah Detensi Imigrasi yang sangat tidak cocok bagi kehidupan anak-anak. Anak-anak ini rentan untuk disalahpahami sehingga seringkali tidak mendapatkan bantuan serta perlindungan.

Anak-anak ini sekarang hadir di tengah kita. Mereka mungkin masih akan menghadapi perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Anak-anak yang terpaksa mengungsi, memiliki hak untuk mendapatkan pertolongan dan perlindungan agar mereka tetap memiliki masa depan, sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 22 Konvensi tentang Hak-hak Anak  yang disepakati oleh PBB pada tanggal 20 November 1989.

Vembri Turanto

Pengungsi: Sebuah Peluang untuk Tumbuh Bersama

Jika kita sebagai keluarga manusia bersikeras untuk memandang pengungsi hanya sebagai beban, kita kehilangan peluang bagi solidaritas yang selalu menjadi peluang untuk saling belajar, saling memperkaya, dan saling menumbuhkan. Lanjutkan baca

Australia: menutup pintu di hadapan krisis kemanusiaan global

Yogyakarta, 20 November 2014. Dengan rasa sedih yang mendalam, Jesuit Refugee Service mengamati langkah mundur pemerintah Australia yang mengeluarkan sebuah perubahan kebijakan terhadap mereka yang sedang mencari perlindungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Pada 18 November 2014, pemerintah Australia mengumumkan … Lanjutkan baca

Tanggap Darurat Gunung Kelud

Bersama dengan Komunitas Relawan Jogja Bersatu, JRS Indonesia mengambil bagian dalam respon emergency Gunung Kelud. Komunitas Relawan Jogja Bersatu sendiri adalah sebuah komunitas yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat, baik individu maupun mahasiswa di wilayah Yogyakarta, yang bersinergi dalam respon kebencanaan. Mereka hadir di lapangan untuk menemani, memberikan bantuan konseling, dan menyalurkan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, JRS Indonesia memberikan support dana untuk kebutuhan operasional dan belanja barang, dan kehadiran di lapangan selama 2 hari, yaitu di tanggal 26-27 Februari 2014. Lanjutkan baca

33 Tahun Berlalu, Kebutuhan Pengungsi Menjadi Lebih Besar daripada Sebelumnya

Merayakan 33 tahun berada bersama dan melayani pengungsi, JRS ingin mendorong Anda untuk menebarkan keramahtamahanan dan dukungan kepada saudara-saudara kita yang ada di sini, yakni para pengungsi yang sedang mencari perlindungan. Lanjutkan baca

Vatikan: Paus Fransiskus Menyerukan Keramahtamahan dan Keadilan dalam Kunjungan ke Jesuit Refugee Service

“Memberikan sandwich itu tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemungkinan untuk belajar berdiri di atas dua kaki sendiri. Amal kasih yang tidak mengubah situasi orang miskin, tidaklah cukup. Belas kasih sejati, yang telah diberikan dan diajarkan oleh Allah kepada kita, menuntut keadilan dan cara agar orang miskin dapat menemukan jalan keluar dari kemiskinan.” Lanjutkan baca

JRS Bergabung dalam Seruan Lintas-Iman bagi Perlindungan terhadap Pengungsi

Jesuit Refugee Service bersama dengan badan PBB urusan Pengungsi (UNHCR) dan perwakilan dari sejumlah organisasi berbasis agama menyerukan perlindungan yang lebih besar bagi para Pengungsi.

Deklarasi multi bahasa setebal 16 halaman, yang dikenal sebagai sebuah Penegasan tentang Keramahan, merupakan yang pertama kali melibatkan UNHCR dan spektrum organisasi-organisasi berbasis agama. Lanjutkan baca

Penemanan JRS Indonesia bagi Pengungsi dan Pencari Suaka 2013

Pada bulan Mei 2013 JRS membantu SUAKA menyelenggarakan pertemuan singkat dengan para Diplomat tentang situasi Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia. SUAKA dan JRS terlibat dalam Diskusi Kelompok Terfokus di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang mendiskusikan dan mendorong agar Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tentang Status Pengungsi dan protokolnya. SUAKA terus memberikan bantuan hukum dan penemanan kepada Pencari Suaka yang sebagian besar merupakan rujukan dari JRS dalam proses Penentuan Status Pengungsi mereka. Saat ini system rujukan yang lebih komprehensif telah dikembangkan dalam kerjasama antara JRS dan SUAKA. Lanjutkan baca

Futsal

Minggu, 9 September 2012, malam. Dua belas orang laki-laki Afrika berjalan menuju ke suatu toko yang agak besar di Cipayung. Mereka itu pencari suaka yang berasal dari Somalia, Sudan, dan Ethiopia. Tempat tujuan mereka ada di lantai tiga di toko … Lanjutkan baca

Ulang tahun JRS Indonesia ke-31

Yogyakarta, 14 November 2011 – 31 tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mengukur kehidupan. Selama 31 tahun perjalanan, JRS bangga akan warisan semangat dari Pedro Arrupe yang menggugah keprihatinan orang akan adanya pengungsi. Tahun ini, JRS Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-31 dengan banyak cara yang sederhana. Lanjutkan baca

Hari Pengungsi Sedunia 2009

Dalam peringatan Hari Pengungsi Sedunia tanggal 20 Juni yang lalu, sekitar 50 orang termasuk dosen dan mahasiswa dari Indonesia, Thailand dan Burma/Myanmar berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta atas undangan JRS untuk menyaksikan sebuah film yang menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh para pengungsi di negara asal mereka dan di negara suaka (Malaysia). “Secara pribadi saya menghargai semua orang yang membantu mereka (pengungsi) dan menerimanya di negara mereka… mereka ini melarikan diri dan suara mereka menyentuh setiap kita,” ujar Lorence, mahasiswa asal Myanmar/Burma yang masih tersentuh dengan kisah yang disampaikan lewat film tersebut. Lanjutkan baca